Kalau Suporternya Tidak Dewasa, Timnasnya Ya Gitu-gitu Aja

Kalau Suporternya Tidak Dewasa, Timnasnya Ya Gitu-gitu Aja

Ilustrasi pojok lapangan sepak bola © Robert Katzki/Unsplash

Luka lagi-lagi ditorehkan sang lawan di kandang kita. Noda lagi-lagi mencemari kesakralan stadion utama timnas Indonesia. Seperti biasanya, performa timnas juga diiringi dinamika kelakuan suporter di tribunnya.

Laga kualifikasi Piala Dunia 2022 antara Indonesia melawan Malaysia sempat terhenti cukup lama di pertengahan babak kedua. Wasit menghentikan pertandingan sementara, karena ada kekisruhan di tribun suporter. Dari tambahan waktu yang diberikan, sekitar 8 menit waktu yang "terbuang" untuk menenangkan sekelompok suporter.

Ada yang menerobos masuk lintasan lari, ada yang melempar bom asap, dan ada yang menghujani suporter lawan dengan botol. Perilaku kampungan yang seakan sudah diwajarkan dengan alasan rivalitas, perseteruan abadi, musuh bebuyutan, dan lain-lainnya.

Pertandingan Indonesia lawan Malaysia memang selalu panas, tapi bukan berarti tensi juga harus dipanaskan. Sebab jika emosi tidak dijaga, sanksi akan datang menyapa. Kalau sanksi turun maka yang rugi siapa? Ya federasi, ya timnasnya, ya suporternya.

BACA JUGA: Kalau Piala Dunia di Asia Tenggara, Negara Mana Saja yang Akan Mewakili ASEAN?

Ini bukan kali pertama (oknum) suporter Indonesia berperilaku liar layaknya hewan-hewan di habitat aslinya. Sebelumnya di pertandingan level junior, peristiwa serupa juga terjadi. Cinta dan benci seakan sudah tertanam di pikiran segelintir suporter tim Garuda.

Cinta Malaysia jika berbicara liburan, benci Malaysia kalau yang dibahas pertandingan sepak bola dan bos taksinya yang sedang viral itu.

Kedewasaan suporter bisa berpengaruh ke performa kesebelasan | Foto: pssi.org

Suporter tidak dewasa, timnas semenjana

Sangat miris melihat apa yang terjadi di SUGBK semalam. Timnas kita tertunduk lesu, ditambah ulah suporter yang bikin malu. Di hadapan Malaysia, tadi malam kita benar-benar cerminan negara miskin. Miskin prestasi di timnas dan miskin kedewasaan para pemain ke-12.

Suporter itu juga mencerminkan tim yang didukungnya. Kalau suporternya sudah pada dewasa, tim yang didukung akan terkatrol mental juaranya. Tapi kalau suporternya masih berkelakuan bar-bar, tim yang dibela juga akan kesulitan mekar.

Tekanan dari tribun suporter bakal sangat berpengaruh ke mental bertanding para pemain. Coba tengok yang dilakukan suporter PSS Sleman. Ketika performa tim jeblok mereka tetap mendukung tanpa kenal lelah. Seto Nurdiantoro sang pelatih tetap mendapat dukungan, padahal kita tahu, iklim Liga Indonesia sangat tidak sehat bagi keberlangsungan karier seorang juru taktik.

Atau lihat bagaimana suporter Borussia Dortmund mendukung timnya. Walau api semangat begitu menggelora, tapi sikap masih bisa mereka jaga. Dampaknya bagi tim, Die Borussien bisa bermain dengan tenang.

BACA JUGA: Pertama di Indonesia, Bonus dari Suporter untuk Klub Sepak Bola

Kerusuhan suporter memang tidak serta-merta salah suporter sendiri. Kadang, ada kaitannya juga dengan penampilan tim yang didukung. Ibaratnya, kalau tim mainnya asyik suporter bakal santai, tapi kalau tim performanya jungkir balik suporter siap membantai.

Tapi seharusnya kedewasaan sudah harus dipupuk sejak dini di kalangan penghuni tribun. Sebab bagaimanapun juga, pemain di kesebelasan sudah berjuang susah payah sejak latihan sampai pertandingan. Yang dibutuhkan dari suporter hanya dukungan dan nyanyian untuk memompa semangat. Itu saja.

Cobalah berperilaku baik, wahai (oknum) suporter Indonesia. Tunjukkan kalau kita ini negara kaya, yang kaya kreativitas di tribun, kaya cara untuk mendukung timnas, dan kaya strategi untuk menumbangkan lawan. Kalau suporter timnas bisa jadi contoh yang baik, performa timnas seharusnya, bisa ikut membaik.

Tapi kalau belum membaik juga? Ya mungkin wartawannya yang kurang baik.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih100%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Sierra Leone Beri Indonesia Fasilitas Visa-Saat-Ketibaan Sebelummnya

Sierra Leone Beri Indonesia Fasilitas Visa-Saat-Ketibaan

Begini Cara Kerja Kotak Bekal Tenaga Surya Selanjutnya

Begini Cara Kerja Kotak Bekal Tenaga Surya

Aditya Jaya Iswara
@adityajoyo

Aditya Jaya Iswara

Tidak bisa masak tapi suka makan. Tidak bisa main bola tapi suka nonton bola.

2 Komentar

  • Bayu Hendarto Sumarso

    setuju. kita ga bisa menyalahkan para pemain dan pelatih begitu aja.mereka telah berbuat semaksimal mungkin. terlepas dari sistem liga kita yang masih belumideal karena seharusnya hanya bermain satu kali semingu, namun kelakuan memalukan superter kitas tidak bisa ditolerir. sampai kapanpun timnas kita akan jalan di tempat kalo suporternya kayak gitu. menurut saya, kemaren bukan karena suporter kecewa timnas kalahj, buktinya sebelum main pun dan pada babak pertama pun suporter kita rusuh

    • Aditya Jaya Iswara

      Betul, suporter kemarin bukan ricuh karena timnas kalah, tapi justru ribut sendiri dengan suporter Malaysia di tengah pertandingan. Itu yang disayangkan, bukannya memberi dukungan tapi malah sibuk membuat keributan dengan suporter lawan.

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.