Mempertanyakan Kembali Kemampuan Masyarakat Prasejarah Indonesia Lewat Situs Gunung Padang

Mempertanyakan Kembali Kemampuan Masyarakat Prasejarah Indonesia Lewat Situs Gunung Padang

Tampak situs Gunung Padang | foto: tirto.id

Jawa barat merupakan salah satu daerah yang terkenal sebagai daerah pariwisata. Salah satu
lokasi wisata yang dimilikinya adalah situs Gunung Padang yang berlokasi di Desa Karyamukti,
Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Saat ini puncak situs masih dianggap masyarakat
sebagai tempat suci dan sering dijadikan sebagai lokasi berdoa dan meditasi.

Penelitian terhadap situs

Situs Gunung Padang yang sedang diteliti | foto : voaindonesia.com

Menurut penjelasan Danny Hilman Natawidjadja kepada kompas.com situs tersebut memiliki
struktur terkubur yang menyerupai piramida. Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
(LIPI) yang ikut dalam proyek penelitian terhadap situs Gunung Padang tersebut juga
menjelaskan bahwa berbeda dengan piramida Suku Maya, situs ini memiliki bentuk yang
memanjang yang memiliki setengah lingkaran di bagian muka.


Tim peneliti menduga batu megalit yang tersembunyi lebih besar dari yang tampak karena tidak
cocok dengan bentuk batu berdiri. Struktur yang terbentuk berada di area seluas kurang lebih 15
hektare di mana masing-masing lapisan yang ditemukan mewakili periode yang berbeda.
Diperkirakan pembangunannya dilakukan secara berkelanjutan dari 8.000 SM hingga 1.000 SM.
Pada 12 Desember 2018 para peneliti Indonesia sempat membahas situs ini dalam acara tahunan
America Geophysican Union (AGU). Menurut hasil studi para peneliti, bukit miring yang
menopang situs wisata sejarah ini bukan merupakan lanskap dari alam berbatu, melainkan hasil
buatan manusia.


Dalam laporan yang disampaikan pada AGU para peneliti memperkirakan lapisan pertama yang
ada pada situs berusia sekitar 3000 hingga 5000 tahun yang terdiri dari kolom-kolom batu,
dinding, jalan dan ruang-ruang. Lapisan kedua yang pernah disalahartikan sebagai struktur
batuan alami berada pada kedalaman tiga meter dari laipsan pertama yang diperkirakan berusia
7.500 sampai 8.300 tahun dan terdiri dari susunan batuan kolom dengan struktur matriks.
Pada lapisan ketiga yang memanjang 15 meter ke bawah, diperkirakan memiliki usia 9.000
bahkan hingga 28.000 tahun yang terdiri dari batuan bersusun dan ruang bawah tanah yang besar

dan memanjang. Lapisan keempat sebagai yang terdalam terbuat dari batu basalt yang
dimodifikasi dan dikuir oleh manusia.
Untuk melakukan peneliti pada situs ini peneliti melakukan beberapa metode di antaranya
Ground Penetration Radar (GPR), Tomografi Seismic dan penggalian. Dengan melibatkan
berbagai ahli, situs tersebut telah dibor sedalam 30 meter dan digali sedalam 11 meter.
Penelitian-penelitian terhadap situs ini butuh dilakukan karena menurut sejarah, Indonesia pada
sepuluh ribu tahun lalu masih melalui masa bercocok tanam dan belum memiliki peradaban
tinggi, hal tersebut bertolak belakang dengan hasil temuan situs yang pertama kali ditemukan
pada awal abad ke-19 ini.


Sebelumnya telah dilakukan pemugaran terhadap situs tersebut yang dituangkan pada Perpres
nomor 148 tahun 2014 terkait pengembangan, pelindungan, penelitian, pemanfaatan dan
pengelolaan situs Gunung Padang namun sayangnya saat ini pemugaran situs ini tak lagi
berlanjut.


Kesempatan langsung melihat situs yang diteliti

Gapura pintu masuk Situs Gunung Padang | foto: patas.id

Situs ini terletak sekitar tiga puluh kilometer dari kota Sukabumi. Lokasinya sangat jelas karena
ditandai dengan gapura besar bertuliskan situs megalith. Untuk menyaksikan batuan yang masih
terus diteliti masyarakat umum dapat membayar sebesar Rp 50.000 sebagai tiket masuk.
Jarak dari loket kedatangan hingga ke puncak sendiri cukup jauh. Masyarakat dapat sampai ke
puncak dengan dua pilihan jalan yaitu 175 anak tangga dengan kondisi yang terjal atau yang
lebih landai dengan 300 anak tangga.
Lokasi tersebut juga menawarkan opsi lain yaitu dengan menggunakan jasa ojek. Dengan
melewati jalan setapak dan tanah yang sebagian berbatu motor dapat mencapai puncak dalam
waktu sepuluh menit.


sumber : detik.com | kompas.com | cnnindonesia.com | nationatgeographic.grid.id

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Konser Akbar Monas 2019, Wadahi Segala Kalangan Nikmati Konser Klasik Sebelummnya

Konser Akbar Monas 2019, Wadahi Segala Kalangan Nikmati Konser Klasik

Catat Tanggalnya. Inilah Jadwal Gelaran Formula E di Jalanan Jakarta Selanjutnya

Catat Tanggalnya. Inilah Jadwal Gelaran Formula E di Jalanan Jakarta

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.