Gula Merah dan Gula Pasir Iringi Kisah Cinta Habibie-Ainun

Gula Merah dan Gula Pasir Iringi Kisah Cinta Habibie-Ainun

Habibie dan Ainun © Foto : wikipedia.org

Masyarakat Indonesia tentu saja sudah mengenal sosok bapak Bachruddin Jusuf Habibie atau kerap disapa dengan sebutan BJ Habibie. Beliau merupakan Presiden ketiga Republik Indonesia.

Selain kontribusinya yang berhasil menjadi sebagai salah satu penemu teknologi-teknologi dirgantara kelas dunia, kisah cinta Habibie dengan mendiang sang istri yakni ibu Ainun Habibie menjadi salah satu kisah cinta abadi yang banyak sekali dikagumi oleh banyak orang.

Cinta yang abadi, cinta yang tak lekang oleh waktu. Mungkin itulah sepenggal kalimat yang menggambarkan kisah cinta BJ Habibie dan sang istri. Dimana, kisah lama ini ternyata masih populer dan merupakan sebuah kisah cinta yang menginspirasi banyak orang karena ketulusan, serta kesetiaan yang mengiringi perjalanan cinta mereka berdua.

Benih cinta saat masa remaja

Habibie dan Ainun saat masih muda | Foto : minenews

Berdasarkan buku “Rudy: Kisah Masa Muda Sang Visioner”, mengisahkan tentang awal mula kisah cinta antara Habibie dan Ainun dimulai saat masa remaja, yakni saat keduanya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Namun, keduanya baru saling kenal dan saling memperhatikan ketika berada di satu sekolah di Sekolah Menengah Atas (SMA) Kristen Dago Bandung, Jawa Barat.

Pada masa remaja ini, keduanya dikenal sebagai murid yang cerdas. Namun, saat itu Habibie belum merasa tertarik kepada Ainun. Meskipun demikian, Habibie sempat menggoda Ainun dengan menjulukinya “Gula Merah”.

Habibie mengenal ayah Ainun sejak beliau berusia 12 tahun. Ketika pada masa itu Habibie terbilang dari keluarga yang kurang berada. Beliau datang ke ayah Ainun untuk belajar banyak hal, karena ayah Ainun dikenal dengan sosok yang cerdas.

Dipertemukan kembali, “Gula merah sudah berubah menjadi gula pasir”

“Jodoh tak akan ke mana, dan akan selalu dipertemukan” begitulah kata orang-orang.

Hal ini pun terjadi pada kisah cinta Habibie dan Ainun, di mana mereka dipertemukan kembali setelah keduanya bertahun-tahun tidak berjumpa, lantaran Habibie melanjutkan kuliah kemudian bekerja di Jerma, sedangkan Ainun tetap tinggal di Indonesia dan melanjutkan pendidikannya di Universitas Indonesia (UI).

Bertahun-tahun tidak berjumpa, Habibie terkejut saat melihat Ainun yang telah tumbuh dewasa dan terlihat cantik. Saat itu juga Habibie sempat melontarkan gurauan, jika dahulu Ainun disebut seperti gula merah karena berkulit gelap, namun kini Ainun tampak seperti gula pasir.

Menjalin asmara dan menjadi suami yang terbaik untuk Ainun

Habibie dan Ainun, foto setelah menikah | Foto : Brilio.net

Setelah menyadari bahwa mereka saling tertarik satu sama lain, keduanya pun menjalin asmara. Sekali lagi, istilah “jodoh tidak akan ke mana” itu terbukti, kedekatan serta indahnya masa berpacaran memantapkan hati Habibie untuk mengajak Ainun ke jenjang pernikahan dan membawanya untuk tinggal di Jerman.

Inilah kata-kata manis Habibie yang membuat Ainun semakin mantap menjatuhkan hatinya pada Habibie.

“Saya tidak bisa menjanjikan banyak hal. Saya tidak tahu apakah hidup kita di Jerman akan sulit atau tidak, apakah Ainun tetap bisa menjadi dokter atau tidak. Tapi yang jelas, saya akan menjadi suami yang terbaik untuk Ainun.”

Akhirnya, tepat pada 12 Mei 1962, Habibie menikahi Ainun di Rangga Malela, Bandung. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai dua putra yakni Ilham Akbar dan Thareq Kemal.

Susah senang dilalui bersama hingga divonis kanker

Ainun Habibie saat dirawat di Jerman | Foto : Gridhealth

Kebahagiaan mereka semakin lengkap dengan kehadiran dua buah hatinya. Namun, ada kalanya Ainun merindukan untuk menolong orang lain. Atas izin Habibie, akhirnya Ainun membuka praktek sebagai dokter anak.

Saat Ainun menolong banyak anak dan menyembuhkannya dari sakit, justru putranya sendiri yang mengalami sakit. Di sinilah keteguhan seorang istri dan ibu dipertaruhkan.

Hal tersebut membuat Ainun berubah pikiran, yang pada akhirnya wanita lemah lembut ini meninggalkan jubah dokter dan mengabdi sepenuhnya untuk anak dan suami tecinta.

Perjalanan rumah tangga Habibie dan Ainun tidak selalu berjalan dengan mulus. Berbagai cobaan dan tantangan datang silih berganti, namun mereka berdua tetap saling menguatkan. Terlebih saat BJ Habibie diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia kala terjadinya krisis moneter tahun 1998.

Namun, hal yang paling berat adalah masa ketika Ainun dinyatakan menderita kanker ovarium pada 2010. Ainun sempat menjalani perawatan intensif di Jerman. Saat itu, Habibie selalu setia mendampingi sang istri.

Bagi Habibie dia harus memperjuangkan kehidupan istrinya, karena beliau-lah yang telah banyak berkorban untuknya. Takdir membuat Habibie dan Ainun terpisah, pada Mei 2010 Ainun menghembuskan napas terakhirnya.

Puisi Habibie untuk Ainun

Foto : Pinterest/Flickr.com

Setelah Ainun meninggal dunia, rasa cinta dan kasih Habibie kapada Ainun tidak pernah berhenti. Beliau selalu rutin mengunjungi makam istrinya di Taman Makan Pahlawan Kalibata, bahkan beliau telah memesan kavling makam untuknya. Beliau ingin dimakamkan di samping wanita yang paling ia cintai.

Selain itu, beliau juga pernah menuliskan puisi yang sangat mengharukan untuk mendiang istrinya.

"Kita tetap manunggal, menyatu dan tak berbeda sepanjang masa

Ragamu di Taman Pahlawan bersama para Pahlawan Bangsa lainnya

Jiwa, roh, batin dan nuranimu telah menyatu denganku.

Di mana ada Ainun ada Habibie, di mana ada Habibie ada Ainun

Tetap manunggal dan menyatu tak terpisahkan lagi sepanjang masa

Titipan Allah bibit cinta Ilahi pada tiap insan kehidupan di mana pun

Sesuai keinginan, kemampuan, kekuatan dan kehendak-Mu Allah.

Kami siram dengan kasih sayang, cinta, iman, taqwa dan budaya kami

Yang murni, suci, sejati, sempurna dan abadi sepanjang masa.

Allah, lindungi kami dari godaan, gangguan mencemari cinta kami

Perekat kami menyatu, menunggal jiwa, roh, batin dan nurani kami.

Di manapun dalam keadaan apapun kami tetap tak terpisahkan lagi

Seribu hari, seribu tahun, seribu juta tahun, sampai akhirat!"

Poster Film Habibie dan Ainun | Gambar : Mediapijar.com

Kisah cinta dan kesetiaan Habibie dan Ainun ini membuat banyak wanita ingin memiliki kisah cinta yang sama. Hingga akhirnya cerita ini pun diangkat ke dalam sebuah film yang berjudul Habibie dan Ainun yang diperankan oleh Reza Rahadian dan Bunga Citra Lestari.

Bagaimana Kawan GNFI, ingin punya kisah cinta yang sama dengan Bapak Teknologi Indonesia?


Catatan kaki: Gramedia | inews | Fimela

Pilih BanggaBangga11%
Pilih SedihSedih22%
Pilih SenangSenang11%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi44%
Pilih TerpukauTerpukau11%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Tari Dolalak, Lahir dari Perlawanan Kolonial Belanda Sebelummnya

Tari Dolalak, Lahir dari Perlawanan Kolonial Belanda

Catat Tanggalnya. Inilah Jadwal Gelaran Formula E di Jalanan Jakarta Selanjutnya

Catat Tanggalnya. Inilah Jadwal Gelaran Formula E di Jalanan Jakarta

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.