Ketika Kopi Berpadu dengan Keramik

Ketika Kopi Berpadu dengan Keramik
info gambar utama
  • Makin lesunya industri keramik membuat sekelompok mahasiswa dari UMM membuat acara untuk memadukan keramik dan kopi.
  • Ini dikarenakan di Malang makin banyak bermunculan kedai-kedai kopi, sedangkan fenomena ini sayangnya tidak berpengaruh ke industri keramik.
  • Padahal, keramik dan kopi bisa saling berkaitan penggunaannya.

Makin maraknya kedai kopi di kota Malang menjadi fenomena tersendiri. Contohnya di Jalan Sudimoro, yang menjadi sentra kedai kopi. Sayangnya, pertumbuhan tren kedai kopi ini tidak diiringi dengan membaiknya omzet industri keramik, padahal kopi dan keramik bisa saling berkaitan.

Berawal dari persoalan itu, kelompok praktikum dari mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM mengadakan acara bernama Keramikopi Festival. Acara yang dihelat di pusat perkopian Sudimoro pada Sabtu (7/9) lalu ini, adalah ajang belajar dan membuat keramik kreasi sendiri, yang didampingi pengrajin keramik Dinoyo.

Perkopian Malang dan Keramik Dinoyo dipadukan dalam Keramikopi Festival. Seluruh bagian acara memakai tableware dan dekorasi Keramik Dinoyo. Cangkir-cangkir yang digunakan barista-barista untuk berlomba di Fun Brewing pun menggunakan Dinoyo Keramik agar mereka merasakan langsung keunggulan Keramik Dinoyo.

“Karena setelah kami riset, masih banyak sekali kedai-kedai Kopi yang memilih membeli tableware dari online dan luar Malang, harganya pun bisa dua kali lipat dari Dinoyo Keramik padahal kualitas dan modelnya sama. Sangat disayangkan selama ini mereka tidak mengenal Dinoyo Keramik,” ujar Ketua Pelaksana dan salah satu anggota iMage Creative, Andrian.

Acara Keramikopi digelar di pusat perkopian Sudimoro | Foto: iMage Creative
info gambar

BACA JUGA: Kopi Telanjang, Kopi Legenda dari Pontianak

Kemudian Pak Soeharto selaku Ketua Paguyuban dan salah satu Pengrajin Keramik Dinoyo, sangat mengapresiasi adanya Keramikopi Festival. Menurutnya, acara ini selain mengenalkan Keramik Dinoyo, juga bisa menyadarkan para pengrajin keramik bahwa pangsa pasar mereka tidak hanya untuk suvenir tapi juga kedai kopi.

Event ini sangat berpengaruh pada Dinoyo Keramik, selain mengenalkan produk Dinoyo, event ini juga menyadarkan Pengrajin Keramik Dinoyo kalau pasar kami tidak hanya souvenir dan pesanan-pesanan lain, tapi juga ada kedai-kedai Kopi. Saya yakin masih banyak masyarakat yang peduli produk lokal dan sadar potensi besar Dinoyo Keramik,” urai Pak Soeharto.

Keramikopi Festival tidak hanya berisi tentang pengenalan kopi dan keramik saja, tapi juga ada lomba fotografi. Peserta dibebaskan untuk berkreasi dengan obyek-obyek Keramik Dinoyo. Sebelum acara ini, Paguyuban dan Pengrajin Keramik Dinoyo juga telah diberikan pengetahuan-pengetahuan baru dan saling koordinasi untuk siap menerima pasar baru yaitu kedai-kedai kopi.

Lomba foto Keramikopi | Foto: iMage Creative
info gambar

Selain itu juga telah diadakan acara Rembug Bareng Paguyuban, Warga Kampung Keramik, dan Sinau Sesarengan yang ditargetkan untuk pemuda-pemuda yang siap meneruskan Dinoyo Keramik.

BACA JUGA: Bondowoso, dari Kota Tape Jadi Republik Kopi

Kampung Industri yang dikenal dengan sebutan Kampung Keramik Dinoyo ini semakin lesu dan berkurang peminatnya. Kampung yang memiliki peninggalan pabrik keramik ini sebelumnya memiliki kurang lebih 55 home industri yang menjadi pengrajin keramik, tapi sekarang hanya tersisa 4 pengrajin aktif.

Situasi ini menjadi keresahan bagi warga Dinoyo yang takut industri asli Malang ini nantinya akan terus meredup dan mati. Padahal, Keramik Dinoyo memiliki potensi besar untuk perindustrian dan pariwisata kota Malang.

Kampung Keramik Dinoyo merupakan Kampung Industri Percontohan Pertama di Kota Malang dan hingga saat ini memproduksi keramik asli Malang dan harga yang terjangkau.**

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini