Meminta Hujan Lewat Pertarungan di Karangasem

Meminta Hujan Lewat Pertarungan di Karangasem

Ilustrasi awan mendung di atas laut | foto: aurelien/unsplash

Bali merupakan salah satu destinasi wisata paling terkenal di Indoesia. Alam dan budaya yang indah nan beragam selalu membuat orang kagum pada daerah ini.

Salah satu yang mempengaruhi kekayaan budaya bali adalah mayoritas penduduknya yang memeluk agama Hindu. Ritual keagamaan umat Hindu di Bali selalu ditunggu-tunggu karena keunikannya.

Salah satu budaya unik asal Bali adalah Gebug Ende Karangasem. Sesuai dengan namanya tradisi ini berasal dari Karangasem tepatnya di Desa Seraya. Gebug Ende Karangasem merupakan tarian perang rotan yang dilakukan untuk memanggil hujan. Nama Gebug Ende sendiri berasal dari Gebug yang artinya memukul dan Ende yang artinnya tameng atau perisai.

Awalnya tradisi ini dilakukan karena kemarau yang tak kunjung berakhir di Desa Seraya, Karangasem. Karena keadaan yang tidak menguntungkan akibat kekurangan air mereka mencoba mencari cara untuk mengatasinya. Setelah melakukan suatu rapat, tercetuslah ritual “Gebug Ende” yang akhirnya dilakukan secara turun temurun.

Sudah ada sejak zaman kerajaan

Tradisi Gebug Ende Karangasem | foto: Kintamani.id

Awal mula kemunculan tradisi Gebug Ende adalah saat kerajaan Karangasem ingin menguasai kerajaan Seleparang di Pulau Lombok. Warga Desa Seraya sebagai bagian dari kerajaan Karangasem ditunjuk sebagai prajurit penyerang. Pemilihan warga Seraya dilakukan karena mereka dikenal memiliki ilmu kebal sehingga kuat dan tangguh.

Semangat warga Seraya yang menjadi garda terdepan seolah tak kunjung padam. Meski telah menang mereka masih bersemangat untuk berperang. Akhirnya semangat perang tersebut mereka salurkan lewat pertarungan yang mereka lakukan dengan melawan teman sendiri menggunakan alat perang yang tersisa.

Bagaimana Gebug Ende dilakukan?

Tradisi Gebug Ende dilakukan oleh dua orang pria yang melakukannya dengan mengenakan pakaian adat Bali Madya. Sambil memakai udeng, memakai sarung, bertelanjang dada dan bersaput poleng, dua pria tersebut akan membawa rotan dan tameng untuk bertarung. Rotan yang dipakai umumnya memiliki panjang 1,5-2 meter, sedangkan tamengnya terbuat dari kulit sapi.

Pertarungan akan dilakukan selama sepuluh menit dan dipimpin oleh wasit yang biasa disebut saye. Pada lokasi pertarungan ada garis pemisah yang akan menjadi batas.

Setelah memasuki lokasi, peserta diperbolehkan saling serang ketika saye telah memukul rotan pada ende selama tiga kali. Ketika sudah dimulai pertarungan akan didampingi dengan musik gamelan sehingga dapat memeriahkan dan memanaskan suasana.

Ilustrasi darah | foto: valentin salja/unsplash

Dalam tradisi ini luka bukanlah hal yang dihidari, justru dengan terluka hujan dianggap akan lebih cepat turun. Setiap tetes darah di anggap pun dianggap sebagai berkah. Karena tradisi ini dilakukan sebagai bentuk permohonan dalam Gebug Ende tidak ada yang kalah atau menang.

Tradisi Gebug Ende kerap dilakukan pada kemarau panjang atau pada sasih kapat atau bulan keempat dimana waktunya bunga bermekaran. Waktu tersebut merupakan penghitungan kalender Bali yang biasanya berada pada bulan Oktober ke November.

Penyebaran tradisi

Gebug Ende Karangasem saat ini tidak hanya dilakukan di lokasi asalnya. Warga Desa Seraya yang merantau ikut menyebarkannya sehingga tradisi itu kerap dilakukan di lokasi lain di Bali.

Pada tahun 1925 tradisi tarung ini berkembang di desa Sumberkima yang terletak di Buleleng Barat. Setelah perkembangan di Sumberkima pada tahun 1930 terjadi pemekaran desa adat yang melahirkan delapan desa.

Desa-desa tersebut di antaranya adalah Sumberkima, Pejarakan, Peuteran, Sumberklampok, Patas, Banyupoh, Penyabangan hingga Sanggalangit. Pemekaran tersebut menyebabkan tersebarnya pula tradisi Gebug Ende.

Sumber: isi-dps.ac.id | tempo.co | sastrabali.com | kintamani.id

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih50%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau50%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Jembatan BJ Habibie, Penghargaan dari Timor Leste untuk Habibie Sebelummnya

Jembatan BJ Habibie, Penghargaan dari Timor Leste untuk Habibie

Menyelisik Manfaat Energi Terbarukan Selanjutnya

Menyelisik Manfaat Energi Terbarukan

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.