Belajar Bahagia dari Sebiji Gol Mariana Utara

Belajar Bahagia dari Sebiji Gol Mariana Utara

Laga kedua Grup G kualifikasi Piala Asia U-16 2020, Indonesia menang 15-1 lawan Mariana Utara © Alvino Hanafi/goal.com

Bahagia itu relatif. Ada orang yang harus memenuhi banyak kriteria untuk bisa mencapai level bahagianya, tapi ada juga yang cuma perlu cara sederhana untuk meluapkan kegembiraan. Timnas Mariana Utara U-16 contohnya, yang bersorak sorai merayakan sebijii golnya ke gawang Timnas U-16 Indonesia, kemarin (18/9).

Sebuah tendangan bebas tidak langsung dihadiahi wasit untuk Mariana Utara di area pertahanannya sendiri, tepat ketika waktu menunjukkan menit ke-45. Saat itu, mereka tertinggal 6 gol dari Indonesia, dan belum melakukan satu pun tendangan tepat sasaran ke gawang Garuda Asia.

Tak heran, tiada orang peduli dengan situasi bola mati yang akan dieksekusi Mariana Utara. Para suporter sudah sibuk bersiap mengisi waktu di jeda turun minum, dan kami pun yang berada di tribun media sedang fokus ke gawai masing-masing untuk menunaikan tugas.

Tapi siapa sangka, di tengah ketidakpedulian seisi Stadion Madya, pemain Mariana Utara justru temukan kebahagiaannya. Umpan lambung dari lini belakang langsung jatuh di jantung pertahanan Indonesia. Sebuah sontekan first-time dari Jim Kurt Maniago mengecoh kiper Putra Kaicen.

BACA JUGA: Kalau Suporternya Tidak Dewasa, Timnasnya Ya Gitu-gitu Aja

Gol untuk Mariana Utara, memperkecil ketertinggalan mereka jadi 1-6. Normalnya, tim yang sudah ketinggalan sangat jauh seperti ini menganggap gol yang mereka cetak hanya hiburan semata. Tapi Mariana Utara beda. Mereka merayakannya dengan penuh suka cita, seakan-akan itu adalah gol kemenangan yang diciptakan di akhir laga.

Jim Kurt sang pencetak gol berteriak kencang luapkan kegembiraannya. Rekan-rekannya langsung mengerubungi pemain bernomor punggung 7 itu, ikut bersuka ria sembari mengepalkan tangan ke udara. Mereka berlari ke arah bench yang sudah disambut pelatih beserta ofisial.

Nuansa kegembiraan bahkan sampai menjalar ke pojok lapangan. Tiga pemain yang sedang melakukan pemanasan, langsung berlari menghampiri rekan-rekannya. Mereka bergembira bersama merayakan sebiji gol, yang sebenarnya mereka tahu tidak akan mengubah hasil pertandingan, tidak akan memperbaiki posisi di klasemen, dan mereka juga pasti tahu... gawang mereka belum selesai disiksa anak-anak asuhan Bima Sakti.

Michi, pelatih Timnas U-16 Mariana Utara, bahkan tetap memberi selamat ke para pemainnya, walau dalam dua kali pertemuan lawan Indonesia U-16, gawang timnya selalu kebobola dua digit gol.

"Selamat kepada semua pemainku yang sudah bermain melawan tim kuat, tim terkuat di grup ini. Apresiasi kepada penonton Indonesia. Kami masih muda, dari klub kecil, pengalaman terbaik bisa ke sini. Dua tahun lalu kami kalah 18-0, sekarang 14-1. memang bukan skor sepak bola. Selanjutnya kami ingin bersiap untuk tampilkan permainan terbaik," ujarnya dalam konferensi pers usai pertandingan.

BACA JUGA: Sudah Terlalu Banyak Noda di GBK

Sebaliknya, Indonesia...

Melihat Mariana Utara begitu gembira dengan hanya sebiji gol, wajar membuat perhatian insan lapangan hijau Tanah Air, tersedot ke sana. Di sepak bola Indonesia yang targetnya setinggi angkasa tapi pencapaiannya serendah rubanah (basement), satu gol yang dicetak tidak akan diapresiasi, kalau gawangnya diperkosa bergiliran seperti Mariana Utara.

Tidak akan ada selebrasi, tidak akan ada senyum terukir di bibir, tidak akan ada raut muka ceria, tidak akan ada tepuk tangan penonton. Tidak ada apresiasi, yang dialami pemain justru frustrasi.

Padahal, kalau berbicara sepak bola usia dini, tujuan utamanya bukan kemenangan, tapi perkembangan. Kebobolan berapa pun tidak apa-apa, mencetak gol sedikit pun tak mengapa. Terpenting, tim mendapat dukungan penuh dari penonton, agar kepercayaan diri mereka terus terangkat, karena jalan menuju jenjang senior akan sangat berat.

Kebahagiaan sebiji gol Mariana Utara seakan menjadi sindiran bagi belasan gol yang dicetak Indonesia. Ketika sebuah tim begitu bersyukur dengan hanya satu bola yang diceploskan, kita malah kufur dengan segala sumber daya lapangan hijau yang dianugerahkan Tuhan.

Coba bayangkan. Level pertandingan U-16 saja bisa menyedot 3 ribu penonton, tapi satu noda kekalahan saja langsung membuat suporter bilang "Ah, mainnya monoton..."

BACA JUGA: Dua Pemain Indonesia Tampil di PES 2020

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi90%
Pilih TerpukauTerpukau10%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Inilah Peringkat 5 Kampus di Indonesia versi Times Higher Education Sebelummnya

Inilah Peringkat 5 Kampus di Indonesia versi Times Higher Education

Aneka Rujak di Indonesia (Bagian II) Selanjutnya

Aneka Rujak di Indonesia (Bagian II)

Aditya Jaya Iswara
@adityajoyo

Aditya Jaya Iswara

Tidak bisa masak tapi suka makan. Tidak bisa main bola tapi suka nonton bola.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.