Meriam Karbit Si Pengusir Kuntilanak

Meriam Karbit Si Pengusir Kuntilanak

meriam karbit © sitimustiani.com

Indonesia adalah Negeri yang kaya akan budaya dan tradisi yang kental. Hal ini tak lepas dari peran masyarakat yang turut campur tangan dalam pelestariannya. Salah satunya adalah meriam karbit. Meriam Karbit adalah meriam yang terbuat dari sebatang kayu bulat berukuran besar dan meriam karbit adalah salah satu primadona kebanggaan masyarakat yang ada di Pontianak.

Meriam Karbit merupakan meriam khas kota Borneo yang meiliki panjang 6 meter dengan diameter diatas 50 centimeter. Meriam Karbit biasa dibunyikan menjelang awal bulan Ramadhan dan juga dibunyikan ketika menjelang malam takbiran.

Awal mula adanya meriam karbit karena dahulu kata Pontianak berasal dari hantu kuntilanak yang dalam bahasa daerah berarti kata bunting atau hamil dan ada arti bahwa kuntilanak adalah seorang wanita yang meninggal pada saat mengandung , maka jadilah hantu kuntilanak. Untuk mengusir kuntilanak maka Sultan Sayyid menyalakan beberapa meriam untuk mengusir hantu tersebut. Hingga saat ini penyalaan Meriam Karbit menjadi tradisi. Dari tahun ke tahun festival meriam karbit dijadikan sebagai ajang perlombaan dengan berbagai hadiah menarik yang ditawarkan.

meriam karbit @padmagz.com

Permainan tradisonal ini dikemas dengan menarik serta digelar oleh Forum Komunikasi Meriam Karbit yang bekerja sama dengan Pemerintah Kota Pontianak melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pontianak.

Ketika Ramadan tiba, setiap kelompok yang ada di di masyarakat yang memiliki mariam karbit akan mempersiapkan meriam karbit yang rata-rata warga memiliki 6 hingga 10 meriam karbit. Biasanya meriam karbit ini dipersiapkan di tepian Sungai kapuas. Persiapan awal dimulai dengan menaikkan meriam-meriam yang direndam di Sungai Kapuas usai digunakan pada tahun sebelumnya. Meriam itu sengaja direndam didalam air dengan harapan bisa memperpanjang usia pakainya. Pengerjaannya biasanya dilakukan pada malam hari agar lebih mudah.

Setiap pengerjaan dilakukan dengan bergotong royong agar lebih cepat dan terjalinnya rasa kerja sama antar satu sama lain. Setelah meriam diangkat dari air meriam langsung dibersihkan dari kotoran yang telah menempel pada meriam selama direndam. Meriam yang dipakai bukanlah meriam yang terbuat dari besi seperti zaman Belanda. Tapi saat ini meriam menggunakan katu yang dibelah dua memanjang untuk diambil tengahnya dan akan kembali disatukan dengan ikatan rotan yang kuat. Kayu tersebut dibuat menyerupai meriam asli yang mirip dengan meriam yang terbuat dari besi dengan diameter 50 centimeter.

Setelah meriam sudah siap untuk digunakan, sepanjang malam mulai dari malam takibiran hingga menjelang pagi kita akan mendengar suara dentuman yang sambung menyambung. Suara dentuman dari Meriam Karbit akan terdengar hingga radius 3 kilometer.

Saat ini Meriam Karbit memang sudah menjadi bagian dari masyarakat Pontianak, namun yang menjadi kendala hingga saat ini adalah sulitnya menemukan bahan baku yang digunakan untuk pembuatan meriam yaitu kayu bulat yang berukuran besar. Bukan hanya itu saja harga karbit yang menjadi bahan bakar juga mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Meski demikian, daya tarik masyarakat terhadap meriam ini masih cukup tinggi.

Sumber: Kompas | Delikkalbar

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Tingkatkan Hubungan Dagang, KBRI Havana Gelar 'Business Meeting' di Republik Dominika Sebelummnya

Tingkatkan Hubungan Dagang, KBRI Havana Gelar 'Business Meeting' di Republik Dominika

Ketika Kain Tenun Mengangkasa Bersama Srikandi Bangsa Selanjutnya

Ketika Kain Tenun Mengangkasa Bersama Srikandi Bangsa

Mona Destiana
@mona_destiana

Mona Destiana

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.