Saprahan Budaya Makan Ala Pontianak

Saprahan Budaya Makan Ala Pontianak

saprahan © Tribun news.com

Bagi sebagian orang mungkin makan bersama adalah sesuatu yang biasa dan seringkali dilakukan. Tapi berbeda dengan tradisi makan satu ini yang bernama saprahan. Sudah pernah mendengar istilah saprahan?

Diketahui Saprahan adalah budaya makan yang ada di kota Pontianak. Banyak makna yang tersirat dari tradisi makan saprahan. Dari sudut pandang etika yaitu menghormati orang yang lebih tua, menghargai pimpinan atau orang yang dihormati. Selain itu ketika makan saprahan akan timbul rasa kekeluargaan dan kebersamaan yang menyatu.

Selain itu, dengan makan saprahan ini istilahnya sama dengan ketika duduk sama-sama rendah, berdiri sama tinggi, dan makanan yang dinikmati juga secara bersama-sama tanpa adanya perbedaan. Dalam tradisi ini juga banyak terkandung nilai bagaimana kita harus bersikap sopan saat menikmati sajian atau hidangan makanan yang disediakan dalam suatu acara. Dalam hal ini kita juga diajarkan bagaimana cara duduk yang baik, untuk pria duduk dengan bersila dan untuk kaum wanita duduk dengan kaki yang bersimpuh.

Uniknya dari tradisi makan saprahan ini tidak menggunakan peralatan makan seperti piring dan sendok melainkan menggunakan daun pisang sebagai alas makan yang dibentangkan dilantai. Daun pisang yang digunakan pun perlembar tanpa dipotong, lalu diletakkan nasi dan sayur mayur secara rapi yang nantinya akan dinikmati secara bersama.

saprahan @tribunnews.com

Ketika makan bersama makanan yang disediakan diwajibkan untuk dihabiskan dan tidak menyisakannya karena itu sangat pamali jikalau menyisakan makanan yag sudah disediakan. Bersyukur dengan makanan yang disediakan adalah dengan cara menghabiskan makanan yang telah diberikan itulah arti dari saprahan itu sendiri.

Selain menggunakan daun pisang saprahan juga ada yang menggunakan peralatan makan yang lengkap karena biasanya tradisi ini juga dilakukan ketika ada acara resmi atau memperingati hari besar tertentu.

Tata cara menyediakan makanan saprahan juga tidak sembarangan, melainkan harus mengikuti etika yang telah diadakan sejak dulu. Misalnya ketika penyaji makanan saprahan tidak boleh membelakangi tamu yang hadir dan ketika duduk bersama dalam acara saprahan haruslah sesama kaum pria dan sesama kaum wanita.

Hingga saat ini budaya saprahan masih dipertahankan karena mengingat ini adalah tradisi turun temurunyang susah lama dilakukan.

Sumber: Republika | Kompas

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Arswendo Otmowiloto Maestro Literasi Indonesia Sebelummnya

Arswendo Otmowiloto Maestro Literasi Indonesia

Di Pasar Tradisional ini, Rupiah diganti dengan "Dhono" Selanjutnya

Di Pasar Tradisional ini, Rupiah diganti dengan "Dhono"

Mona Destiana
@mona_destiana

Mona Destiana

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.