Pretty Boys, Joker, dan Kesunyian Kelompok Minoritas

Pretty Boys, Joker, dan Kesunyian Kelompok Minoritas

Ilustrasi pemukiman di pinggiran kota © Erik Zünder/Unsplash

*Hati-hati, tulisan ini mengandung spoiler

Tampilan fisik mereka tidak seperti orang kebanyakan. Lenggak-lenggok tubuhnya seakan menggambarkan betapa berat jalan hidup yang mereka jalani. Untuk bertahan hidup saja, mereka tak jarang harus mempertaruhkan nyawa bahkan membuang harga diri. Begitulah secuil potret kelompok minoritas dengan stereotip negatif di masyarakat, seperti gelandangan, waria, dan banci.

Masyarakat dengan taraf kehidupan yang lebih tinggi sering kali menganggap remeh mereka. Memandangnya sebagai sekelompok manusia yang harus dijauhi, dikucilkan, dan mungkin kalau bisa, disingkirkan. Orang-orang yang tergabung di kelompok minoritas berstereotip negatif itu seakan membawa virus yang bisa membasmi seluruh populasi dunia seperti di Resident Evil.

Stigma itu tidak hanya berlaku di kota-kota besar, tapi juga merasuk sampai daerah-daerah. Tidak hanya di Indonesia, bahkan di Amerika pun tiada bedanya. Siapa pun yang tidak mencapai taraf kehidupan rata-rata masyarakat setempat, maka mereka dianggap gagal sebagai manusia. Mereka juga kerap dianggap bukan makhluk hidup.

Film Pretty Boys dan Joker dengan bingkai yang berbeda, berhasil menarik atensi masyarakat untuk kembali menaruh perhatian ke kelompok minoritas tersebut. Pretty Boys melalui gambaran hidup para golongan banci dan waria, lalu Joker dengan potret suram seorang pekerja serabutan yang tidak tahu asal-usulnya.

Dua film yang masih tayang di bioskop Indonesia ini juga dengan tepat menangkap bagaimana pandangan golongan mayoritas terhadap minoritas, dan upaya para anggota minoritas untuk bertahan hidup dalam selimut stereotip negatif itu.

BACA JUGA: Review Gundala: Hujan, 10% Kenangan, 90% Kekuatan

Poster film Joker

Joker, tertawa dalam penderitaan

Mari kita mulai dari Joker, film yang menjadi spin-off dari film Batman, anggota DC Universe yang terkenal bernuansa dark. Kelamnya nuansa film DC benar-benar tergambar di film ini, tentang seorang pria dengan penyakit jiwa dan tidak tahu dari mana asalnya, terus hidup dalam gempuran pandangan sinis orang-orang di sekitarnya.

Arthur Fleck nama aslinya. Dia awalnya bekerja sebagai badut jalanan, tapi karena memiliki penyakit jiwa, dia sulit bersosialisasi. Arthur mengidap penyakit mental yang membuatnya tertawa kencang kalau sedang tertekan. Dia pun sampai membuat kartu keterangan khusus untuk diberikan ke orang-orang di dekatnya, agar mereka tahu kalau dia terwata bukan karena gila tapi karena sakit.

Beruntungnya Arthur, dia punya ibu yang setia menemaninya, bernama Penny Fleck. Arthur bahkan tidak segan berbicara lantang di sebuah acara televisi, kalau dia masih tinggal satu rumah bersama ibunya. Di Amerika, pria seumuran Arthur dianggap belum mandiri kalau belum hidup terpisah dari orang tuanya.

Maka tak heran Arthur sangat cinta ibunya. Ia dengan tekun merawat sang bunda yang sudah renta dan sakit-sakitan, dari menyuapi makanan sampai memandikannya. Tapi, dari ibunya yang begitu dicintainya itu, justru di kemudian hari membuat hidupnya semakin kelam.

Arthur tanpa sengaja mengetahui isi surat yang menunjukkan kalau dia sebenarnya adalah anak seseorang yang terkenal seantero Gotham. Sosok bapak yang kalau menganggapnya sebagai anak sah, mungkin jalan hidupnya tidak akan segelap ini.

Perjalanan Arthur mencari ayahnya pun dimulai. Tapi menguak kebenaran tidak pernah semudah membalikkan telapak tangan. Selalu ada halangan, dan tidak jarang berakhir dengan fakta yang disembunyikan.

Arthur yang awalnya begitu yakin Thomas Wayne adalah ayahnya, langsung tertunduk lesu begitu melihat berkas yang menyebutkan dia sebenarnya adalah anak adopsi, bukan lahir dari rahim Penny Fleck, yang menurut cerita Penny, Arthur lahir akibat hubungan gelapnya dengan Thomas Wayne, ayah Bruce Wayne.

Kemanusiaan Arthur langsung terampas saat itu juga. Ia yang hanya ingin bertemu sosok ayahnya yang tidak pernah dilihatnya sejak lahir, justru berujung ke teka-teki tiada akhir.

Potret semrawutnya kota Gotham berjalan beriringan dengan Arthur Fleck yang terus mencari asal-usulnya, berjuang hidup dengan penyakit jiwanya, sampai akhirnya dia berbalik menertawakan keadaan di sekitarnya, setelah sebelumnya dia yang ditertawakan.

BACA JUGA: Bumi Manusia : Annelies, Jan Dapperste dan Pandangan Tentang Pribumi

Poster film Pretty Boys

Pretty Boys, ironi para banci

Mirip seperti Joker, film Pretty Boys juga membingkai stigma negatif yang menimpa kelompok minoritas. Bedanya, di film yang disutradarai Tompi ini, subyeknya adalah banci. Vincent Rompies dan Deddy Mahendra jadi pemeran utamanya.

Pretty Boys dengan genre komedinya menunjukkan para banci sebagai kelompok yang dijauhi masyarakat, tapi ketika mereka punya potensi untuk mendatangkan fulus, barulah "derajat" mereka diangkat setara dengan masyarakat pada umumnya.

Vincent dan Desta (di film ini bernama Anugrah dan Rahmat) yang berjuang mencari nafkah di Jakarta, rela berperan jadi banci dalam sebuah acara televisi. Itu semata-mata mereka lakukan demi menggapai mimpi masuk tv, yang sudah dicita-citakan sejak masa kecil di kampung.

Ada juga Tora Sudiro yang berperan jadi waria. Dia rela melakukannya semata-mata demi menyambung hidup di ibu kota. Keberadaan mereka berulang kali menjadi bahan tertawaan golongan mayoritas, karena penampilan yang berbeda.

Padahal, mereka bukan melakukannya tanpa alasan. Seperti yang dikatakan Anugrah pada ayahnya saat tidak diridhoi bekerja sebagai pembawa acara Kembang Gula, "Ya kalau yang di atas ngasihnya begini mau gimana lagi, Pak?"

Bagi yang belum menonton film ini, ayah Anugrah yang diperankan Roy Marten adalah pensiunan tentara. Beliau turut berjuang di tragedi Semanggi 1998, dan tidak rela anaknya mengais rezeki dengan balutan busana perempuan. Lagi-lagi, stigma negatif yang muncul.

Sayangnya, film ini ikut memandang banci dan waria dengan pandangan negatif. Selain Anugrah dan Rahmat yang pada akhirnya sukses berkarier tanpa harus menjadi banci, aktor-aktor lainnya juga diletakkan di stereotip serupa.

Onadio Leonardo yang memerankan Roni sang manajer Anugrah dan Rahmat, diceritakan sebagai sosok yang gemar foya-foya. Ferry Maryadi yang berperan jadi pembawa acara utama Kembang Gula, digambarkan sebagai orang yang materialistis. Lalu Imam Darto yang bermain jadi produser acara, penokohannya dibuat sebagai karakter yang hanya peduli dengan rating acaranya.

***

Kita semua tahu, jalan hidup setiap orang berbeda-beda. Tapi sering kali kita lupa, atau mungkin enggan menyadari, kalau berbeda yang tidak sesuai dengan taraf orang kebanyakan, bukan berarti harus dikucilkan, disingkirkan, dan dipadang sebelah mata.

Ingat, semua orang punya batas kesabarannya masing-masing. Kim Ki-taek di film Parasite sudah membuktikan.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih100%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Tak Hanya Hujan Meteor, Dua Galaksi Tetangga bisa disaksikan di Langit Indonesia Oktober Ini Sebelummnya

Tak Hanya Hujan Meteor, Dua Galaksi Tetangga bisa disaksikan di Langit Indonesia Oktober Ini

Di Pasar Tradisional ini, Rupiah diganti dengan "Dhono" Selanjutnya

Di Pasar Tradisional ini, Rupiah diganti dengan "Dhono"

Aditya Jaya Iswara
@adityajoyo

Aditya Jaya Iswara

Tidak bisa masak tapi suka makan. Tidak bisa main bola tapi suka nonton bola.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.