Inilah Museum Kereta Api Terbesar di Asia Tenggara yang Ada di Indonesia

Inilah Museum Kereta Api Terbesar di Asia Tenggara yang Ada di Indonesia

Museum Kereta Api Indonesia berada di desa Panjang, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah © PT KAI

Semarang seakan menjadi pusat sejarah kereta api di Indonesia. Selain karena adanya museum Lawang Sewu yang dulunya sebagai pusat perusahaan kereta api swasta, ada tempat lain di Semarang yang juga lekat kaitannya dengan kereta api. Tempat tersebut berada di Ambarawa, Kabupaten Semarang – Jawa Tengah. Amabarawa menjadi salah satu tempat penting bagi sejarah perkerta apian di Indonesia karena ada Stasiun Ambarawa yang kini dialihfungsikan menjadi Museum Kereta Api Indonesia (Indonesian Railway Museum) yang ternyata menjadi museum kereta api pertama di Indonesia dan terbesar di Asia Tenggara.

Mulanya, Stasiun Ambarawa tersebut bernama Stasiun Willem I. Hal tersebut untuk menghargai jasa raja Belanda yang saat itu Raja Belanda bernama Raja Willem I memberikan perintah untuk membangun jalur kereta api untuk mempermudah akomodasi logistik untuk tentara Belanda. Hingga akhirnya pada tahun 1873 pun pembangunan jalur kereta api selesai. Selain itu, di dekat stasiun tersebut juga berdiri kokoh sebuah benteng peninggalan Belanda yang bernama Benteng Willem atau biasa disebut Beteng Pendhem. Namun kini, stasiun tersebut berganti nama menjadi Ambarawa karena letak stasiun berada di kecamatan Ambarawa agar memudahkan masyarakat untuk mencari lokasinya.

Kerta api dengan roda bergerigi yang masih dapat digunakan saat ini hanya ada di tiga negara yaitu Swiss, India dan Indonesia. Kereta api bergerigi digunakan untuk rute perjalanan Ambarawa-Bedono-Ambarawa. | Sumber coretanpetualang's Blog

Stasiun Ambarawa saat ini tidak digunakan sebagai jalur transportasi jarak jauh. Hal tersebut karena pada tahun 1972 terjadi erupsi Gunung Merapi yang mengakibatkan terputusnya jalur kereta api dari Ambarawa ke arah selatan salah satunya ke arah Magelang. Akhirnya PJKA menutup operasi Stasiun Ambarawa dan mengakibatkan terbengkalainya beberapa-beberapa lokomotif terutama lokomotif yang sudah tua. Keputusan mengalihfungsikan stasiun tersebut menjadi museum pun diambil pada tahun 1976 oleh Gubernur Jawa Tengah kala itu yakni Soepardjo Rustam beserta Kepala PJKA Ekploitasi Tengah Soeharso yang akhirnya disepakati oleh DPRD Jawa Tengah.

Museum Kereta Api Indonesia mulai dibuka sejak 21 April 1978 dengan koleksi museum berupa lokomotif-lokomotif uap serta barang-barang antik yang berkaitan dengan kereta api. Barang-barang antik yang menjadi koleksi antara lain mesin pencetak tiket, kalkulator jaman dulu, alat pemutar lokomotif dan lain-lain. Kini, kelengkapan fasilitas yang ada di Museum Kereta Api Indonesia sudah bertambah salah satunya perpustakaan, toilet dan musholla.

Museum Kereta Api Indonesia juga memiliki spot foto yang ciamik, yang memberikan nuansa tempo dulu. | Sumber Blog Surya Hardhiyana

Selain mengalihfungsikan sebagai museum, di Stasiun Ambarawa juga dibuka kereta wisata yang menggunakan kereta api uap dan kereta api diesel. Dibukanya Kereta Wisata di Stasiun Ambarawa bertujuan untuk mengoptimalkan stasiun-stasiun yang ada di sekitar Ambarawa yakni Stasiun Jambu, Stasiun Tuntang dan Stasiu Bedono. Kereta wisata ini dinamakan Ambarawa Railway Mountain Tour yang mulai dioperasikan pada waktu yang sama saat Museum Kereta Api Indonesia dibuka yaitu 21 April 1978.

Jam operasional museum ini berlangsung mulai pukul 8 pagi hingga pukul 5 sore. Untuk dapat masuk ke dalam museum ini, pengunjung dikenakan tarif tiket masuk seharga Rp 10.000,00 untuk dewasa dan mahasiswa serta Rp 5.000,00 untuk anak-anak usia 3 hingga 12 tahun. Museum ini juga dilengkapi ruang audio-visual yang menunjang informasi seputar kereta api d Indonesia. Dengan dibangunnya Museum Kereta Api Indonesia ini memberikan kesempatan masyarakat untuk dapat melihat lokomotif-lokomotif jaman dulu serta informasi-informasi mengenai perkereta apian di Indonesia.


Catatan kaki: PT KAI | Wikipedia

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi67%
Pilih TerpukauTerpukau33%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Kenapa SARA Perlu Dihindari Sebelummnya

Kenapa SARA Perlu Dihindari

Di Pasar Tradisional ini, Rupiah diganti dengan "Dhono" Selanjutnya

Di Pasar Tradisional ini, Rupiah diganti dengan "Dhono"

Wihdi Luthfi
@wihdiluthfi

Wihdi Luthfi

Mahasiswa semester 7 program studi Komunikasi Penyiaram Islam di UIN Sunan Ampel Surabaya

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.