Masossor Manurung, Ritual Pembersihan Keris dari Dua Budaya

Masossor Manurung, Ritual Pembersihan Keris dari Dua Budaya

Prosesi pembersihan dan pensucian keris pusaka Kerajaan Mamuju yang biasa dikenal dengan tradisi Masossor Manurung yang dilakukan oleh pemangku adat setempat | foto: humas.majenekab.go.id

Masossor/Manossor Manurung adalah ritual pencucian keris yang dilakukan oleh kerajaan Mamuju. Keris pusaka yang dibersihkan dalam upacara tersebut berasal dari Kerajaan Badung, Bali. Rangkaian tradisi tersebut dilakukan setiap dua tahun sekali di kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat.

Tradisi pembersihan keris merupakan peninggalan yang diturunkan dari hubungan Kerajaan Mamuju dan Badung, Bali di masa lampau. Pengertian tradisi Masossor Manurung sendiri berasal dari kata Masossor yang memiliki arti penyucian atau pembersihan dan Manurung yang berarti benda kerajaan.

Awal hubungan Kerajaan Mamuju dan Badung

Masyarakat Bali yang melakukan Masossor Manurung dengan ritual Bali | Foto: @abdilatiefi/Instagram

Ritual Masossor Manurung tak hanya dilakukan oleh orang Mamuju namun juga oleh masyarakat Bali yang tinggal di lokasi tersebut dengan ritual khas dari Bali. Hal tersebut dilatarbelakangi hubungan keduanya yang sudah terjalin pada 1500 Masehi.

Menurut legenda, pada masa itu seorang putra mahkota Mamuju bernama Pattulawalu yang merupakan anak dari Raja Tommejammeng menikahi putri dari Raja Badung, Bali.

Pernikahan pasangan tersebut dikaruniai seorang putra yang memiliki kembaran sebuah keris. Benda yang dianggap sebagai kembaran sang putra tersebut kemudian dinamakan Manurung.

Keris tersebut menjadi sebuah benda penghormatan dan tanda ikatan atas kedua kerjaan. Tak hanya menjadi benda pusaka, keris itu juga memiliki panggilan khusus yaitu Maradika Tammakkana-kana yang berarti raja yang tidak berbicara.

Proses Masossor Manurung

Dalam melakukan pembersihan dari keris pusakanya ada beberapa pihak yang hadir dan memiliki hak untuk ikut melakukan prosesi tersebut. Pertama adalah kehadiran Maradika atau raja dari Mamuju, selanjutnya adalah kehadiran Galaggar Pitu yang merupakan pemangku adat kawasan setempat. Tak hanya pihak kerajaan Mamuju pihak dari kerajaan Badung pun kerap hadir dalam acara tersebut.

Kehadiran Raja Badung Bali, Ida Cokorda Ngurah Jambe Pemecutan dan Raja/ Maradika Mamuju Andi Maksum Dai pada Masossor Manurung 2015 | foto: @abdilatiefi/ Instagram

Tradisi Masossor Manurung sendiri dipercaya memiliki kesaktian yang dapat memberikan berkat pada masyarakat. Mulanya tradisi tersebut dilakukan saat masyarakat Mamuju mengalami masa sulit yaitu kekeringan. Hal tersebut mendorong raja untuk memerintahkan Galaggar Pitu agar memandikan dan mensucikan keris pusaka kerajaan.

Setelah melakukan pembersihan, air hasil cuci keris tersebut coba untuk disebar ke kebun, sawah dan laut. Penyebaran air tersebut akhirnya meredakan kekeringan yang terjadi pada rakyat setempat.

Harus tetap terjaga

Karena kemunculannya yang bersamaan dengan putra makhota terdahulu Kerajaan Mamuju, umur keris pusaka tersebut saat ini juga mencapai ratusan tahun. Perlu dilakukan upaya untuk terus menjaga dan melestarikan keberadaan dan tradisinya.

Pada pertengahan Desember 2019 mendatang Masossor Manurung menjadi salah satu agenda dalam Festival Maradika Mamuju. Forum yang rencananya akan menghadirkan 150 perwakilan kerajaan di Nusantara tersebut akan menjadi wadah silaturahmi yang bisa mendukung tradisi tersebut untuk terus eksis.

Walaupun umumnya tradisi ini hanya dihadiri oleh tetua adat dan pemerintah setempat, tradisi Mamosor Manurung yang dilkukan pada tahun ini rencananya akan turut mengundang siswa SMA dan Mahasiwa.

Usdi, Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan (Disparbud) Mamuju menjelaskan kepada 2enam.com, upaya itu dilakukan untuk mensosialisasikan budaya lokal kepada generasi muda.

Hal tersebut dirasa penting agar mereka tidak hanya bisa mendengar atu mengetahui tradisi tersebut, namun juga diharapkan dapat berpartisipasi dalam menjaga kelestariannya.

Sumber: kumparan.com | antaranews.com | kemendikbud.go.id | 2enam.com | kumparan.com

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi100%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Indonesia jadi Negara Terfavorit untuk Dikunjungi versi Conde Nast Traveler Sebelummnya

Indonesia jadi Negara Terfavorit untuk Dikunjungi versi Conde Nast Traveler

Mulai Desember, 4 Stasiun di Jawa Timur Ini Berganti Nama. Sudah Tahu? Selanjutnya

Mulai Desember, 4 Stasiun di Jawa Timur Ini Berganti Nama. Sudah Tahu?

Ariefiani Harahap
@ariefiani_elf

Ariefiani Harahap

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.