Jangan Salah! Ini Perbedaan Pakaian Adat Suku Baduy Dalam dan Baduy Luar

Jangan Salah! Ini Perbedaan Pakaian Adat Suku Baduy Dalam dan Baduy Luar

Suku Baduy Dalam dan Luar © PesonaI.travel

Suku Baduy merupakan salah satu suku yang ada di Indonesia. Suku ini masih memegang dan menjaga penuh kemurnian adat istiadat, tradisi, serta kearifan lokalnya. Terletak di desa Kanekes, kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten.

Suku Baduy mempunyai ciri khas yang cukup banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia. Namun, Kawan GNFI perlu tahu bahwasannya suku Baduy terpecah menjadi dua bagian, yakni suku Baduy dalam dan juga suku Baduy luar. Keduanya mempunyai ciri yang berbeda-beda namun masih dalam lingkup yang sama.

Selain ikat kepala yang hingga saat ini masih menjadi sebuah ciri khas, ternyata warna busana pun disinyalir mempunyai perbedaan antara kedua suku tersebut. Busana merupakan salah satu benda untuk melindungi diri serta menunjukan citra diri bagi masyarakat suku Baduy. Meskipun tergolong sebagai masyarakat pedalaman yang menolak modernisasi, namun bukan berarti orang Baduy menghiraukan etika serta estetika berpakaian.

Suku Baduy menganggap, bahwa pakaian bukanlah sekedar melindungi tubuh, melainkan sebagai identitas budaya yang semuanya merupakan warisan dari karuhun, sebutan untuk nenek moyang, yang harus tetap dijaga dan dilestarikan hingga saat ini.

suku Baduy dalam lengkap dengan busana kain putih dan ikat kepala | foto : hipwee.com

Lantas bagaimana cara membedakan suku Baduy dalam dan Baduy luar? Yuk kita simak ulasannya.

Warna putih untuk Suku Baduy Dalam

Laki-laki yang bermukim di Baduy dalam memakai busana lengan panjang serta berwarna putih polos biasa disebut dengan “jamang sangsang”. Disebut demikian lantaran cara memakainya hanya disangsangkan atau diletakkan di badan saja.

Desain busana sangsang hanya tersedia beberapa lubang saja, yaitu pada bagian leher sampai bagian dada. Potongannya tidak menggunakan kerah, tanpa kancing, dan juga tidak memiliki kantong busana. Umumnya, warna busana masyarakat baduy dalam adalah putih. Pembuatan jamang sangsang sendiri hanya menggunakan tangan dan tidak boleh dijahit dengan mesin. Bahan dasarnya sendiri harus terbuat dari benang kapas asli yang ditenun.

Untuk bawahan, orang Baduy dalam menggunakan kain serupa berwarna biru kehitaman. Meski sekilas terlihat seperti celana, namun sebetulnya kain itu hanya dililitkan pada bagian pinggang saja. agar kuat dan tidak melorot, sarung tadi diikat dengan selembar kain.

Sebagai pelengkap, pada bagian kepala mereka menggunakan ikat kepala berwarna putih. Bagi masyarakat Baduy, ikat kepala berfungsi sebagai penutup rambut mereka yang panjang. Kain kerap juga dipadukan dengan selendang. Masyarakat Baduy dalam meyakini bahwa dengan pakaian yang serba putih polos dapat mengandung makna suci bersih.

Warna hitam untuk Suku Baduy Luar

Berbeda halnya dengan suku Baduy dalam, Baduy luar menggunakan busana berwarna hitam. Bukan hanya warna busananya saja, namun desain busananya pun berbeda, yaitu menyerupai gamis panjang, namun terdapat belahan di bagian depan. Selain itu, busana dari suku Baduy luar juga terlihat lebih modern, yaitu terdapat kancing di tengah, memiliki kantong, dan juga harus menggunakan benang kapas murni.

Aturan berpakaian Baduy luar memang sedikit longgar dibandingkan dengan suku Baduy dalam. Telihat dari warna, model, ataupun coraknya, busana Baduy luar menunjukkan bahwa kehidupan mereka sudah terpengaruh oleh budaya modern.

Busana bagi kalangan laki-laki Baduy merupakan sesuatu yang sangat penting. Bagi masyarakat Baduy dalam maupun luar, busana ini waijb digunakan apabila hendak bepergian. Tidak hanya itu, mereka pun diwajibkan untuk selalu membawa senjata berupa golok yang diselipkan di balik pinggang, serta dilengkapi dengan tas kain atau yang biasa disebut dengan tas koja.


Catatan kaki: PesonaIndonesia | Indonesiakaya

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi100%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Rumah Cemara: Tentang Mengubah Stigma dan Berjuang di HWC Sebelummnya

Rumah Cemara: Tentang Mengubah Stigma dan Berjuang di HWC

Tetra Pak Dukung Terus Inovasi Kemasan Ramah Lingkungan Selanjutnya

Tetra Pak Dukung Terus Inovasi Kemasan Ramah Lingkungan

Asriyati .
@asriyati

Asriyati .

Hii Saya mahasiswi Universitas Multimedia Nusantara (UMN) yang lagi magang di Good News From Indonesia, bimbing aku yaa.. hehe

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.