Palang Pintu, Tradisi Turun Temurun Suku Betawi

Palang Pintu, Tradisi Turun Temurun Suku Betawi
info gambar utama

Ibu kota Indonesia Jakarta, memiliki banyak sekali yang tidak dimiliki kota lain, di kota Jakarta juga masih memiliki suku, budaya, dan adat seperti di kampung dan desa. Nama sukunya ialah suku Betawi, suku yang dibilang sangat kuno ada beberapa adat dan tradisi, salah satunya Palang pintu.

Tradisi palang pintu merupakan sebuah kesenian Betawi yang merupakan paduan antara silat dan juga pantun. Palang pintu hadir menjadi salah satu rangkaian dalam pernikahan orang Betawi. Di sini, setiap pengantin pria akan mendapat tantangan dari mempelai wanita untuk menguji kepiawaian bela diri dan juga kepandaian dalam mengaji.

Palang Pintu merupakan tradisi yang menjadi bagian dari upacara pernikahan masyarakat Betawi. Palang pintu menggabungkan seni beladiri dengan seni sastra pantun. Dalam tradisi ini, jawara yang bertindak sebagai perwakilan mempelai laki-laki dan perempuan akan saling menunjukan kemampuan memperagakan gerakan silat dan melontarkan pantun satu sama lain.

Tradisi palang pintu menyimbolkan ujian yang harus dilalui mempelai laki-laki untuk meminang pihak perempuan. Jawara dari daerah asal laki-laki harus bisa mengalahkan jawara yang berasal dari daerah tempat tinggal perempuan. Hal ini sesuai dengan pelaksanaannya di mana rombongan mempelai laki-laki harus melewati hadangan tantangan yang diberikan oleh pihak perempuan. Sementara itu, berbalas pantun dimaknai sebagai manifestasi dari diplomasi. Palang Pintu juga berfungsi untuk mendekatan hubungan antarkampung dan antarkeluarga.

Tradisi Palang Pintu merupakan salah satu tradisi yang menjadi identitas masyarakat Betawi Di Jakarta. Tradisi ini menjadi bagian dalam prosesi upacara pernikahan adat Betawi sejak zaman nenek moyang. Perpaduan silat dan seni pantun yang jenaka menjadi hal yang dominan dalam tradisi Palang Pintu. Hal inilah yang kemudian menjadi landasan digelarnya festival tahunan bernama Festival Palang Pintu yang bertempat di Kawasan Kemang, Jakarta.

Festival palang pintu | sumber: wartalika.id
info gambar

Sebenarnya, tak ada bukti sahih sejak kapan tradisi palang pintu bermula. Akan tetapi, tokoh Betawi, Pitung (1874-1903) ternyata telah menjalani tradisi ini saat hendak memperistri Aisyah, yang merupakan putri jawara berjuluk 'Macan Kemayoran', Murtadho.

Bermodal nyali dan ilmu kanuragan yang dimilikinya, Murtadho lantas menjadi palang pintu dalam prosesi pernikahan putrinya itu. Tak dinyana, si Pitung justru berhasil memaksa Murtadho bertekuk lutut di hadapannya hingga akhirnya mempersunting Aisyah.

Istilah palang pintu di kalangan masyarakat Betawi diartikan sebagai menghalangi orang lain yang akan memasuki daerah tertentu, di mana suatu daerah memiliki jawara alias pendekar yang siap mengadang. Palang pintu lazimnya muncul saat acara perkawinan atau besanan.

Atraksi ini dilakukan dengan saling adu seni beladiri (pencak silat) yang melibatkan pihak mempelai laki-laki agar bisa diterima sebagai keluarga oleh pihak mempelai wanita. Tak sekadar beladiri, pihak mempelai laki-laki juga dituntut paham ilmu agama seperti pandai membaca Alquran alias mengaji.

Para anak anak yang antusias mengikuti palang pintu | sumber: fetti.ru
info gambar

Palang pintu memang budaya pernikahan yang hingga kini masih kuat tertanam kuat pada masyarakat Betawi. Sebenarnya, rangkaian upacara pernikahan pada adat Betawi dimaksudkan untuk memberi pesan kepada masyarakat bahwa pernikahan adalah ritual yang hanya terjadi sekali seumur hidup. Sehingga, perlu ada tahapan atau syarat tertentu yang harus dilakukan oleh pasangan pengantin sebelum menggelar prosesi pernikahan.

Sayangnya, seiring dengan majunya perkembangan zaman, tak jarang masyarakat mulai menanggalkan tradisi ini, bahkan generasi muda Betawi belum tentu memahami apa itu makna tradisi dari palang pintu dengan melupakan begitu saja.


Catatan kaki:

Palang Pintu | Festival palang pintu | Sejarah Hikayat dan arti palang pintu

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini