Roko Molas Poco, Tradisi Unik Untuk Awali Pembangunan Rumah Adat

Roko Molas Poco, Tradisi Unik Untuk Awali Pembangunan Rumah Adat

Prosesi Roko molas poco yang sedang dilakukan | foto : gpswisataindonesia.info

Roko molas poco adalah tradisi pikul kayu bersama asal Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur yang dilakukan ketika sebuah desa hendak membangun Mbaru Gendang atau rumah adat. Hal tersebut dilakukan dengan kayu pilihan yang diatasnya diduduki oleh gadis remaja.

Roko molas poco sendiri berasal dari bahasa setempat, tepatnya dari kata roko yang memiliki arti pikul, molas yang berarti cantik dan poco yang berarti gunung atau hutan. Dalam prosesi yang dijalankan warga Manggarai, pikulan dilakukan dengan posisi satu tangan menyangga dan satu tangan lain memeluk kayu.

Runtutan adat

Sebelum melakukan roko molas poco, perencanaan pembangunan pun dipersiapkan dengan melakukan musyawarah di rumah adat dengan posisi melingkar atau biasa disebut dengan lonto leok. Selanjutnya lingkaran tersebut di tengahnya diisi oleh tu'a golo sebagai kepala kampung dan tu'a teno. Pada tahap ini warga desa melakukan pembagian tugas dan kelompok yang akan menebang serta mengambil pohon terbaik di hutan.

Musyawarah yang telah dilakukan akan menghasilkan dua kelompok yang terbagi dalam roko molas poco dan curu molas poco. Masing-masing dari mereka memiliki tugas untuk pergi ke hutan serta menebang pohon dan menjadi penjemput molas poco.

Kelompok yang ditugaskan untuk pergi ke hutan sebelumnya harus melakukan doa kepada leluhur yang dipimpin langsung oleh kepala desa. Prosesi ini dilakukan di compang yang berada di halaman rumah adat. Compang sendiri memiliki fungsi sebagai altar tempat sesajen, sehingga dalam tahap ini sesajen yang lengkap turut meghiasi doa yang dilakukan.

Dengan membawa berbagai persembahan seperti Ayam Jantan, tuak, kapak, Parang dan alat-alat penebangan lain kelompok roko molas poco bersama tu'a golo pun pergi ke hutan. Setibanya mereka disana mereka akan memilih kayu yang dirasa terbaik. Pada kayu tersebut tu'a golo dan anggota kelompoknya akan kembali melakukan doa dan meminta restu pada leluhur dengan posisi duduk menghadap pohon.

Setelah doanya dirasa telah direstui, kelompok tersebut pun menebang pohon tersebut dan membentuknya menjadi seperti balok. Mereka kemudian membawanya ke gerbang kampung atau pa'ang beo dan akan dijemput oleh curu atau para penjemput yang sudah memakai atribut adat. Para curu sendiri dapat dikenali lewat pakaian mereka yang serba putih dengan balutan kain songke dan destar di kepala.

Kayu yang telah dibawa ke desa selanjutnya diduduki oleh gadis remaja dan diarak sampai rumah adat yang akan dibangun. Gadis tersebut akan ditemani ratusan pria yang akan menari dan memainkan gendang serta gong hingga kayu tersebut sampai dan dipasang sebagai tiang utama.

Kayu terpilih yang sedang didoakan oleh tokoh agama dan tokoh adat setempat | foto: kumparan.com

Ratusan tokoh adat dan petinggi suku yang diundang pun menyambut kedatangan mereka di tengah desa dengan duduk bersila bersama. Dengan tetap mempertahankan gadis diatasnya, kayu yang dibawa dan dianggap suci tersbut pun diturunkan. Pemotongan seekor babi turut dilakukan yang selanjutnya diikuti dengan penumpahan darah di depan kayu. Setelah acara inti selesai barulah gadis diatas kayu diperbolehkan untuk turun.

Mengapa harus dilakukan?

Mbaru gendang atau rumah adat yang sudah jadi | foto : kumparan.com

Roko molas poco dilakukan karena mbaru gendang atau rumah adat yang memiliki arti penting dan memiliki arti simbolis untuk masyarakat Manggarai. Tanpa kehadiran kayu suci rumah adat sendiri dianggap tidak akan berdiri kokoh. Mbaru sendiri berasal dari kata mbau yang berarti tempat teduh dan ru yang berarti milik sendiri.

Sedangkan gendang adalah salah satu alat musik tradisional setempat yang menjadi alat komunikasi antar manusia dengan manusia dan dengan dunia di dimensi lain. Hal tersebut menyebabkan mbaru gendang menjadi tempat yang dianggap dapat melindungi dan memberi keteduhan secara fisik juga rohani.

Selain arti-arti simbolis, warga setempat juga memiliki kebiasaan dimana permasalahan yang terjadi pada masyarakatnya selalu diupayakan untuk dibahas dan diselesaikan di rumah adat.

Sumber : kumparan.com | tajukflores.com

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Di Bali, Skizofernia dari Cercaan Jadi Kebanggaan Sebelummnya

Di Bali, Skizofernia dari Cercaan Jadi Kebanggaan

Dijuluki Jurassic Park Mini, Kawasan Wisata Ini Seperti Zaman Batu Selanjutnya

Dijuluki Jurassic Park Mini, Kawasan Wisata Ini Seperti Zaman Batu

Ariefiani Harahap
@ariefiani_elf

Ariefiani Harahap

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.