Menabung Ide Ala Tahilalats

Menabung Ide Ala Tahilalats

Tahilalats, komik strip yang digagas oleh Nurfadli Mursyid | Foto: media.skyegrid.id

Tahilalats adalah satu satu komik strip yang saat ini banyak digandrungi anak muda di Indonesia. Gambar-gambar jenaka karya Nurfadli Mursyid yang populer lewat media sosial tersebut ternyata memiliki strategi pembuatan yang tak main-main dengan waktu.

Seperti yang terlihat dalam Konten Instagram @tahilalats, komik strip adalah bentuk ilustrasi sebuah cerita singkat yang terdiri dari beberapa panel. Kemunculannya sudah diawali sejak 1930-an, sebelum terjadi pergeseran konsumsi informasi ke era digital. Dahulu gambar-gambar komik strip tersebut justru biasa ditemukan di koran.

Proses kerja Nurfadli Mursyid dulu dan sekarang

Nurfadli menceritakan proses kerjanya di tempat produksi Tahilalats di kawasan Jakarta Selatan | Foto: Aditya Jaya Iswara/GNFI

Dalam wawancara yang dilakukan GNFI dengan Nurfadli Mursyid pada (18/10), ia berbagi tentang pengalaman pada awal karirnya. Ia mengaku sempat sulit mengatur waktu dalam pengerjaan kontennya.

“Pas masih jadi single fighter gitu, ya udah stres sih karena saya komitmen setiap hari harus ada. Belum lagi yang webtoon harus ada empat kali seminggu,” ujar Nurfadli.

Diakuinya pembuatan komik strip memiliki kesulitan yang berbeda dengan komik biasa. Cerita singkat yang dibuat pun harus selesai dalam beberapa panel. Hal tersebut mengharuskannya untuk menghasilkan ide-ide baru pada tiap komik strip yang dibuat.

“Kalau dipikirin tiap hari tuh apalagi-apalagi? dan ceritanya harus beda-beda, nggak ada yang nyambung. Kalau nyambung kan masih bisa ngikutin alur nih. Ya kalau ini beda-beda dan nggak boleh sama,” jelasnya.

Nurfadli menjelaskan bahwa dirinya pernah ada di tahap yang hampir semua orang pernah lewati yaitu Sistem Kebut Semalam (SKS), namun menurutnya hal tersebut kurang tepat dilakukan sebagai proses kerja.

“Mendekati deadline biasanya ada aja (ide). Tapi menurut gue cara seperti itu sih salah, nggak cocok. Mungkin jarak-jarak nggak lama ya gapapa, tapi lama kelamaan nanti lo ga ada kehidupan gitu,” ujarnya.

Adanya media sosial sebagai wadah dari karya-karya seniman seperti Nurfadli memang menuntut kecepatan. Konektivitas di era digital yang sangat bergantung pada internet saat ini memungkinkan peningkatan permintaan pada berbagai hal yang bisa didapatkan secara online. Hal tersebut membuat pembuat konten khususnya seniman digital seperti Nurfadli harus menyesuaikan diri dan memutar otak agar namanya tidak redup.

Ia menjelaskan salah satu cara mensiasati kebutuhan akan kontennya adalah dengan menyimpan banyak stok ide.

“Jadi kita udah manfaatin stok. Jadi kalau hari ini masih buntu, besoknya lagi masih buntu ya masih aman,” tambahnya.

Ia menjelaskan dirinya selalu memaksimalkan proses pencarian ide untuk bahan olahan kontennya. Semua ide yang muncul tersebut harus selalu lagsung dicatat. Menurutnya stok cerita yang telah disiapkan biasanya dapat memenuhi kebutuhan konten untuk tiga bulan kedepan.

Tak lagi sendiri

View this post on Instagram

Mata batin . #tahilalatsdotcom (26022019)

A post shared by Mind Blowon (@tahilalats) on

Dalam melakukan proses kreatifnya saat ini Nurfadli tak lagi bekerja sendiri. Diakuinya saat ini ada enam tim kreatif yang ada dibalik produksi konten komik strip Tahilalats. Mereka terbagi menajadi dua drafter termasuk dirinya dan empat illustrator.

Nurfadli menjelaskan secara lebih lanjut, hingga saat ini ide dan konsep masih dipegang oleh dirinya. Namun umumnya proses yang ia lakukan hanya sampai pada drafting atau skesta kasar. Selanjutnya proses tersebut akan diteruskan dengan tahap akhir yang dilakukan para illustrator.

Walaupun dihasilkan dari beberapa tangan, belum ada kekhawatiran dari Nurfadli terkait kualitas kontennya. Ia merasa hingga kini respon dari masyarakat masih cukup positif.

“Kita merasa komik kita buruk banget ketika lima puluh persennya tuh udah nggak bagus komennya, respon orang. Tapi kalau masih secuil, satu persen, dua persen tuh kayak yaudah mungkin lagi banyak masalah (yang memberikan komen negatif),” jelas Nurfadli.

Menurutnya, ia memang memiliki tim yang cukup kompeten di bidangnya, bahkan ia sempat memuji kinerja mereka.

“Nah karena gambar mereka lebih bagus dari saya, jadi makin bagus aja,”pungkasnya.***

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Hidangan Manis Khas Imlek Bernama Kue Keranjang Sebelummnya

Hidangan Manis Khas Imlek Bernama Kue Keranjang

Dijuluki Jurassic Park Mini, Kawasan Wisata Ini Seperti Zaman Batu Selanjutnya

Dijuluki Jurassic Park Mini, Kawasan Wisata Ini Seperti Zaman Batu

Ariefiani Harahap
@ariefiani_elf

Ariefiani Harahap

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.