Mendorong Penciptaan Solusi di Bootcamp for Young Technopreneur (BYTe)

Mendorong Penciptaan Solusi di Bootcamp for Young Technopreneur (BYTe)

Peserta beasiswa Bootcamp for Young Technopreur (BYTe) sedang terlibat dalam proses pembuatan rambak secara tradisional © SociopreneurID

Bootcamp for Young Technopreneur (BYTe) menjadi rangkaian acara terakhir dalam pelaksanaan Empathy Project 2019 #3. Diselenggarakan di Desa Doplang, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, acara ini merupakan kerja sama antara SociopreneurID dengan Kementrian Koordinasi Kemaritiman dan Investasi, Kementrian Kelautan dan Perikanan, Pemerintah Kabupaten Boyolali khususnya Dinas Perikanan dan Peternakan, dan didukung oleh Elex Media Komputindo, Indika Foundation, dan toleransi.id.

Mengangkat tema “Inovasi Produk Kelautan dan Perikanan”, 26 putra dan putri terpilih dari seluruh Indonesia secara intensif mengikuti BYTe selama 4 hari 3 malam mulai dari tanggal 27 – 30 Oktober 2019. Program BYTe hadir sebagai salah satu bentuk manifestasi dari Sociopreneur Indonesia dalam membangun ekosistem kewirausahaan di Indonesia. Didesain dengan pendekatan pembelajaran intensive experiential learning, peserta diajak untuk turun langsung dan belajar pada UMKM lokal terpilih, yaitu: UMKM Pengolahan Lele Alang-Alang Tumbuh Subur, UMKM Pengolah dan Pemasaran Ikan Lele “WIEN” dan UMKM Pembuatan Rambak Srigading Karangwuni Club (SKC).

Peserta sedang mempersiapkan presentasi prototype inovasi permasalahan yang diidentifikasi di UMKM

Selain belajar dan turun langsung ke UMKM lokal, peserta kemudian dilatih untuk belajar mengidentifikasi tantangan pada UMKM yang mereka datangi berikut dengan solusi yang mereka tawarkan untuk menanggulangi permasalahan tersebut. Jubaidi, selaku pemilik dan pengelola UMKM Pembuatan Rambak dapat merasakan manfaat dari adanya kegiatan ini. Jubaidi sendiri sudah menggeluti usaha rambaknya selama 24 tahun. “Ide inovasi yang telah dibuat peserta dalam 3 hari ini akan saya aplikasikan pada UMKM saya”, ujar Jubaidi. Ia mengaku bahwa selama ini program inovasi yang diikuti olehnya belum mencapai tahap eksekusi dan masih hanya terbatas pada teori saja. “Solusi dapat lahir sebab anak-anak turun langsung dan belajar memahami proses dari awal sampai akhir, sehingga mereka paham. Proses pembelajaran seperti inilah yang sekiranya menurut saya efektif jika ingin menghasilkan sebuah inovasi”, tambahnya.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Selamat! Ambon Resmi Jadi Kota Musik Dunia Sebelummnya

Selamat! Ambon Resmi Jadi Kota Musik Dunia

Dijuluki Jurassic Park Mini, Kawasan Wisata Ini Seperti Zaman Batu Selanjutnya

Dijuluki Jurassic Park Mini, Kawasan Wisata Ini Seperti Zaman Batu

Christian Setiawan
@christiantiti

Christian Setiawan

http://sociopreneur.id

Christian was passionate "Help People" to create endless impact for everyone. Its drove him to learn something new by looking the other perspective and capture the moment from travelling which to fulfillment his knowledge. Social issues encourage him to combine his ability to contribute in the social field.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.