Mengenal Budaya Wayang Kulit Dalam Film Perempuan Tanah Jahanam

Mengenal Budaya Wayang Kulit Dalam Film Perempuan Tanah Jahanam

Salah satu scene Maya (Tara Basro) dalam Perempuan Tanah Jahanam | foto : medcom.id

Tak hanya menjadi hiburan, Perempuan Tanah Jahanam, film terbaru yang digarap oleh Sutradara Joko Anwar juga menjadi wadah bagi penonton untuk mengenali budaya Jawa. Seni Pertunjukan wayang kulit merupakan salah satu yang ditonjolkan lewat jalan cerita yang ada.

Cerita dan simbol-simbol filosofis yang terkandung dalam pertunjukan wayang memang selalu memberikan pesan-pesan bernilai luhur, bahkan seni pertunjukkan wayang kulit telah diakui UNESCO sebagai Masterpiece of Oral and Intengible Heritage of Humanity sejak 7 November 2003.

Sebagai budaya yang diturunkan oleh leluhur, penghargaan yang paling penting juga harus muncul dari masyarakat asalnya. Hal tersebut turut dihadirkan Perempuan Tanah Jahanam lewat cerminan warga desa Harjosari (latar tempat film) yang rutin datang ke pertunjukkan wayang kulit di desa mereka.

Kisah pewayangan yang diceritakan

Film ini ternyata menyuguhkan rincian kecil didalamnya yang mungkin luput dari perhatian penonton. Walau penonton mungkin tidak terlalu mempertanyakan kisah perwayanngan yang dilakukan, Instagram resmi Perempuan Tanah Jahanam sendiri menjelaskan bahwa pertunjukan wayang yang ada dalam film ternyata berasal dari lakon asal Jawa berjudul Banjaran Jarasanda.

Kisah tersebut menceritakan tentang raja dengan dua istri yang merupakan saudara kembar. Setelah tak kunjung dikaruniai anak. Keduanya istri raja akhirnya melahirkan namun ternyata masing-masing dari keduanya hanya mengandung separuh tubuh bayi. Cerita ini pun terasa seperti bersinggungan dengan kisah kutukan bayi tanpa kulit yang muncul dalam film.

Citra dalang yang terhormat

Asal muasal Maya (Tara Basro) sebagai pemeran utama pun tak jauh dari dunia pewayangan, orang tuanya memiliki profesi sebagai dalang dan sinden.

Seperti ayah Maya yang digambarkan sebagai petinggi desa dengan pribadi cerdas dan berjiwa seni, dahulu menjadi dalang memang tak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Profesinya yang luhur dianggap membutuhkan orang yang berilmu dan berbudi pekerti baik.

Sebagai dalang, ayah Maya turut menjadi pembawa narasi cerita, pemain wayang dan pengisi suara karakter-karakter didalamnya. Hal tersebut membuat seorang dalang harus memiliki kelihaian tangan serta mahir dalam berbahasa Jawa bahkan hingga yang kuno sekalipun. Penuturan cerita yang runut dan menarik juga menjadi salah satu hal yang harus dimiliki, maka itu seorang dalang harus tau tentang berbagai cerita pewaayangan.

Aryo Bayu yang berperan sebagai dalang bernama Ki Saptadi | foto: merahputih.com

Dilansir dari suara.com Ario Bayu yang berperan sebagai dalang asal Harjosari bernama Ki Saptadi, mengakui cukup kesulitan saat melakoni perannya. Menurutnya untuk menjadi dalang yang handal dibutuhkan waktu hingga hampir lima tahun, sedangkan ia hanya menghabiskan waktu dua pekan untuk mendalaminya. Terkait profesi tersebut Ario mengaku hanya bisa menerapkan maknanya saja, hal teknis pun masih dirasa kaku untuk dilakukannya.

Pembuatan wayang kulit

Para penonton tentu tak akan lupa dengan sosok pertama yang ditemui Maya bersama Dini (Marissa Anita), sahabatnya, ketika baru sampai di desa Harjosari. Sosok tersebut adalah peran antagonis Nyi Misni yang dimainkan oleh Christine Hakim.

Salah satu adegan Nyi Misni yang sedang menjemur dan menggosok kulit adalah penggambaran salah satu proses awal pembuatan wayang kulit. Walaupun dalam film, hal tersebut menjadi unsur horror karena pemakaian kulit yang diambil dari tubuh Dini yang telah dibunuh, pada pewayangan asli kulit yang dipakai biasanya berasal dari kulit kerbau.

Untuk menghasilkan wayang kulit dengan kualitas bagus umumnya dibutuhkan waktu pembuatan sekitar satu bulan. Pembuatan wayang kulit sendiri diawali dengan persiapan kulit kerbau yang dilakukan dengan perendaman selama satu malam. Selanjutnya kulit tersebut direntangkan di bingkai kayu dan dijemur. Setelah satu hingga dua hari kulit yang sudah kering pun dikerok agar bulu-bulu yang ada tercabut.

Salah satu proses pembuatan wayang | foto: indonesiakaya.com

Kulit yang sudah siap selanjutnya masuk pada proses kreatif dan perangkaian. Awalnya diberikan pola untuk selanjutnya diukir, setelah diukir bagian-bagian wayang kulit yang terbentuk pun disatukan dan diwarnai sesuai dengan figurnya. Tingkat kesulitan pembuatan wayang kulit sendiri, salah satunya dipengaruhi oleh status figur wayang karena semakin tinggi perannya, semakin banyak juga detail yang harus dibuat.

sumber : cendananews.com | indonesiakaya.com | suara.com

Pilih BanggaBangga75%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi25%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Kolaborasi UNDAR dan Dinas Pertanian Jombang Wujudkan Inovasi di Sektor Pertanian Sebelummnya

Kolaborasi UNDAR dan Dinas Pertanian Jombang Wujudkan Inovasi di Sektor Pertanian

Dijuluki Jurassic Park Mini, Kawasan Wisata Ini Seperti Zaman Batu Selanjutnya

Dijuluki Jurassic Park Mini, Kawasan Wisata Ini Seperti Zaman Batu

Ariefiani Harahap
@ariefiani_elf

Ariefiani Harahap

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.