'Tetanggamu adalah Pasarmu'

'Tetanggamu adalah Pasarmu'

Ilustrasi © Unsplash.com

Oleh: Ahmad Cholis Hamzah

Hari pertama Kongres Indonesianis Dunia di Universitas Negeri Yogyakarta diisi dengan panel diskusi yang menarik tentang Penguatan Demokrasi (Strengthening Democracy). Ada empat panelis yaitu Letnan Jendral Pur. Agus Widjojo gubernur Lemhamnas, Michael Vatkiotis dari Inggris (Center for Humanitarian Dialogue), Shawn Corrigan dari Amerika Serikat (Indonesian In-depth} dan Dr. Siswo Pramono Kepala Badan Penkajian dan Pengembangan Kebijakan Deplu.

Lt.Jendral Purnawirawan Agus Widjojo yang dikenal sebagai salah satu reformis dikalangan TNI menjelaskan secara detail tentang sosiologi bangsa Indonesia, transisi politik dari jaman Orde Baru sampai sekarang ini. Beliau menjelaskan tentang bagaimana reformasi dilingkungan TNI menyebabkan kekuatan militer Indonesia ini bersedia untuk “stay away from politic” atau menjauh dari urusan politik. Hal ini adalah suatu perubahan paradigma TNI yang sangat serius dan tidak mudah, sebab selama rejim Suharto berkuasa selama lebih dari 30 tahun, pihak TNI mendapatkan “privilege” atau keistimewaan khusus dibidang politik dan ekonomi. Pemerintahan Suharto kala itu menunjuk 100 anggota TNI untuk menjadi anggota MPR tanpa dipilih. Keistimewaan khusus ini tidak hanya dipusat tapi juga di seluruh daerah di nusantara ini. Dapat kita bayangkan sulitnya TNI kemudian bersedia menyerahkan kekuasaan penuh itu pada pihak Sipil. Seoang mahasiswa dari Afrika yang duduk dibelakang saya membisikkan pertanyaan kepada saya “how come Indonesia military were willing to surrender its power to civilians?” karena umumnya di negara-negara berkembang seperti di Afrika, pihak militer selalu mengambil kekuasaan bila terjadi kekosongan politik atau political vacuum karena menganggap kaum sipil tidak becus mengurus negara.

Let. Jendral Agus juga menjelaskan tentang karakter demokrasi di Indonesia yang senantiasa berdasarkan nilai-nilai luhur bangsa sendiri. Bukan berarti Indonesia menolak demokrasi; namun beliau menjelaskan “take the seed of apple from everywhere, but plant it in our soil”. Pak Agus mengatakan bahwa nilai-nilai demokrasi bisa diambil dari manapun di dunia ini, tapi harus disemaikan di Indonesia sendiri berdasarkan nilai-nilai luhur bangsa. Beliau mengatakan demikian dengan meng-ibaratkan kita mengambil bibit buah apel dari manapun di dunia ini, tapi harus di tanam di tanah kita sendiri sesuai dengan karakter tanah kita itu.

Sedangkan pak Michael menjelaskan banyak tentang politik di Indonesia berserta berbagai tantangannya dan memberikan masukan-masukan yang berharga demi kemajuan Indonesia kedepannya. Pak Shawn Corrigan menceritakan pengalaman dia ketika terjadi reformasi di Indonesia, karena pada tahun-tahun 1997 an itu dia menjadi mahasiswa UI jurusan bahasa Indonesia, sehingga dia menyaksikan berbagai demonstrasi mahasiswa menentang rejim Suharto dan dinamika politik di Indonesia.

Yang tak kalah menariknya adalah pendapat dari Dr. Siswo Pranomo – alumni FH Unair dan Australian National University tentang pentingnya posisi Indonesia, Asia dalam percaturan politik dan ekonomi global. Diplomat karir yang pernah menjadi wakil Dubes RI di Jerman ini menjelaskan bahwa dimasa depan dunia akan fokus pada Asia dan Asia Tenggara (ASEAN) karena berbagai kemajuan yang mengagumkan. Beliau mengatakan bahwa di kawasan Asia ini “your neighbor is your market” atau negara tetangga adalah sejatinya pasar yang menarik dan penting. Dia mencotohkan kalau di negara-negara Timur Tengah misalnya, negara tetangga adalah musuh bukan pasar untuk produknya; misalnya Saudi Arabia bertempur dengan negara tetangga Yaman, Turki berseteru dengan Siria, Saudi Arabia konflik dengan Iran, Lebanon dengan Israel. Di kawasan lain misalnya India berseteru dengan tetangganya Pakistan, di kawasan Amerika Selatan juga begitu. Karena itu kawasan Asia dan Asia Tenggara merupakan kawasan yang strategis bagi dunia.

Pendapat-pendapat yang menarik dari para panelis terkemuka diatas sangatlah penting bagi para calon Indonesianis yang hadir dalam acara Kongres Dunia Indonesianis ini; karena pendapat-pendapat itu akan membuka wawasan akan pentingnya Indonesia di kancah percaturan dunia. Ketertarikan para mahasiswa asing terhadap pendapat para penelis itu ditunjukkan dengan banyaknya diantara yang mereka yang mengajukan berbagai pertanyaan.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang25%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi75%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Inilah Daftar Wisata Terbaik Bengkulu Sebelummnya

Inilah Daftar Wisata Terbaik Bengkulu

Benteng  Ulantha, Tempat Favorit Penikmat Senja di Gorontalo Selanjutnya

Benteng Ulantha, Tempat Favorit Penikmat Senja di Gorontalo

Ahmad Cholis Hamzah
@achamzah

Ahmad Cholis Hamzah

Seorang mantan staf ahli bidang ekonomi kedutaan yang kini mengajar sebagai dosen dan aktif menjadi kolumnis di beberapa media nasional.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.