Ditangan Lambas, Barang Bekas Jadi Berkelas

Ditangan Lambas, Barang Bekas Jadi Berkelas

Lambas Hutabarat, pendiri Bank Sampah Pematang Pudu saat memberikan penjelasan tentang program pengolahan sampah yang dilakoninya.© Panji A Syuhada

Lambas Hutabarat, Direktur Bank Sampah Pematang Pudu Bersih (PPB) menjadi inspirasi. Ditangan cekatan Lambas, sampah-sampah jadi berkelas. Limbah rumah tangga jadi rupiah, dan pemberdayaan terus berjalan.

_

Lambas, begitu sapaannya. Pendiri Bank Sampah Pematang Pudu Bersih ini tampak sumringah melihat hasil kerajinan tangan berbahan sampah berjejer di lemari ruko satu lantai miliknya. Sampah-sampah yang dianggap sepele tersebut berhasil disulapnya jadi bernilai ekonomis.

Pria asal Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis itu memiliki segudang tekad kuat untuk membawa perubahan. Terbukti, sejak tahun 2012 didirikan, Bank Sampah yang dikoordinir bersama sejawatnya sukses memberdayakan 800 nasabah yang tersebar di wilayah Duri Kabupaten Bengkalis secara berkala.

Para nasabah Lambas diberikan edukasi untuk menjaga lingkungan dan memanfaatkan barang-barang bekas, kemudian dikelola. Selain itu, sampah juga dirubah jadi rupiah dengan sistem tabungan. "Kita memberikan edukasi kepada masyarakat untuk menjaga lingkungan dan menabung lewat hal kecil (sampah) yang bisa dijual dan dikelola," katanya.

Saat dikunjungi di markasnya Jalan Bakti Kopelapip, dia tengah menjabarkan programnya kepada peserta jambore yang mengulik lebih dalam hasil kinerja Lambas ditengah masyarakat.

Setiap nasabah bank sampah besutan Lambas sudah dipastikan memiliki tabungan sampah, dan kalau ada minatnya membuat kerajinan tangan, dia siap membimbing. Tabungan nasabah tersebut berguna untuk mencatat jumlah sampah dan barang bekas yang disetorkan. Ada yang langsung menukarkannya dalam bentuk uang, ada juga yang menabungnya dulu dan baru mencairkan tabungannya ketika sudah membutuhkan.

Pada pengelolaan bank sampah, sampah organik akan didaur ulang menjadi kompos. Sementara sampah non-organik akan diolah kembali agar bisa bermanfaat secara ekonomis. Bank Sampah yang dikelola Lambas menampung itu semua. Tabungan Bank Sampah Pematang Pudu Bersih terdiri dari beberapa jenis yaitu tabungan Reguler, tabungan Pendidikan dan tabungan Sosial. para nasabah bebas memilih jenis tabungan sesuai kebutuhan masing-masing.

Rupanya program yang dijalankan Lambas tak lepas dari peran serta PT Chevron Pasifik Indonesia, perusahaan pengelola Minyak dan Gas yang memberdayakan Bank Sampah besutan Lambas untuk menjangkau langsung ke masyarakat. Melalui program PRISMA (Promoting Sustainable Integrated Farming, Small Medium Enterprise Cluster and Microfinance Access) Chevron membina masyarakat.

"Tahun 2012 berdiri dan pada tahun 2015 kami dibina Chevron," ujarnya. Selama itu pula, Bank Sampah besutan Lambas terus diberi pembinaan, studi banding dan pelatihan oleh Chevron hingga mandiri dalam pengelolaannya. Bahkan ia juga telah menjadi pilot project Chevron.

Merubah Sampah Jadi Rupiah

Ditengah masyarakat, Lambas dan kelompok pengelola Bank Sampah Pematang Pudu Bersih rutin memberdayakan warga. Mulai dari kalangan umum hingga pelajar. Disekolah misal, Lambas juga memberikan pengajaran dan edukasi tentang pentingnya menjaga agar bumi tetap hijau. Misal, disekolah SMA yang menjalankan program Adiwiyata, Lambas hadir memberikan motivasi. Selain itu, dirinya juga mencetak karakter pelajar agar rajin menabung.

"Disekolah, pada siswa kita beri pendidikan karakter agar cinta lingkungan. Juga kita ajarkan menabung sampah dan hasilnya kita beli dengan rupiah," katanya.

Sistem bank sampah, rupanya kurang lebih sama dengan Perbankan pada umumnya." Warga menabung sampah berapa kilo kemudian dinilai dengan uang, kalau dia mau dibuat kerajinan juga bisa. Kita yang membimbing,," ujar Lambas. Sejauh ini warga telah merasakan manfaatnya. "Selain lingkungan bersih, mereka juga mendapatkan uang hasil menabung sampah."

Barang bekas yang berhasil disulap Lambas jadi bernilai. (Foto: Annisa NP)

Barang Bekas Jadi Berkelas

Gantungan kunci dan tas-tas daur ulang hinggap dilemari kaca milik Lambas disudut Jalan Kopelapip Kelurahan Pematang Pudu, tempat Lambas bermukim. Disana, proses pengelolaan barang-barang bekas berlangsung. Lambas tak sendirian, dia bersama sejawatnya rutin mendaur-ulang barang bekas untuk kembali dipasarkan.

Adapun hasil produksinya antara lain yaitu, tas, pernak pernik, gapura dari barang bekas, gubuk hingga barang-barang kecil yang unik. Dalam momen-momen besar misal, produk olahan Lambas ditampilkan. "Ada momen MTQ dan Expo kita selalu hadir memamerkan barang olahan dan dijual. Seperti MTQ di Mandau kemarin dan Expo di Dumai," kata Lambas.

Selain memasarkan langsung, Lambas juga memanfaatkan Media sosial untuk promosi. Seperti akun Facebook, Instagram hingga grup-grup WhatsApp. Kini, pendapatan Bank Sampah besutan Lambas tersebut telah memiliki omzet sebesar 40 hingga 60 juta pertahun dari hasil produksi barang bekas secara rutin hingga penjualan sampah yang sudah dipilah-pilahnya secara mandiri.***

PANJI AHMAD SYUHADA, Duri

Pilih BanggaBangga67%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi17%
Pilih TerpukauTerpukau17%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Menelusuri Kejayaan Band Rock Legendris Indonesia Sebelummnya

Menelusuri Kejayaan Band Rock Legendris Indonesia

Benteng  Ulantha, Tempat Favorit Penikmat Senja di Gorontalo Selanjutnya

Benteng Ulantha, Tempat Favorit Penikmat Senja di Gorontalo

Panji Ahmad Syuhada
@panjisyuhada

Panji Ahmad Syuhada

Pegiat Alam dan Pekerja Sosial

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.