Inilah 6 Tokoh yang Mendapat Gelar Pahlawan Nasional 2019

Inilah 6 Tokoh yang Mendapat Gelar Pahlawan Nasional 2019

Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional yang diwakili para ahli waris. © Portaltiga.com

Melalui Keputusan Presiden Nomor 120 TK 2019 yang ditandatangani 7 November 2019 lalu, Presiden Jokowi menetapkan enam tokoh sebagai pahlawan nasional. Tokoh-tokoh tersebut terdiri dari anggota BPUPKI hingga jurnalis wanita. Anugerah gelar pahlawan nasional tersebut diserahkah oleh Presiden Joko Widodo kepada para ahli waris. Berikut adalah 6 tokoh yang dianugerahi gelar pahlawan di Istana Negara Jakarta Pusat.

  1. A.A. Maramis
A.A. Maramis. | Foto : Wikipedia

Memiliki nama lengkap Alexander Andries Maramis, seorang pejuang kemerdekaan Indonesia yang juga menjadi pahlawan nasional Indonesia. A.A. Maramis lahir di Manado pada 20 Juni 1897 dan wafat pada usia 80 tahun di Jakarta. A.A. Maramis merupakan Menteri Keuangan Indonesia yang kedua, setelah ditunjuk Menteri Keuangan pertama yakni Sasmi Sastrawidagda yang hanya menjabat selama dua minggu dikarenakan sakit. Dapat dikatakan, secara de facto, A.A. Maramis adalah Menteri Keuangan pertama Indonesia. Menjabat sebagai Menteri Keuangan, A.A. Maramis berperan penting dalam percetakan dan perkembangan uang kertas yang pertama di Indonesia atau disebut ORI (Oeang Republik Indonesia) dengan tanda tangannya yang tertera pada uang kertas tersebut.

Kiprahnya bagi Indonesia tidak hanya sebagai Menteri Keuangan, namun juga sempat menjadi anggota BPUPKI yang ditunjuk sebagai anggota Perancang Undang-Undang Dasar sebelum disetujui BPUPKI. Selain itu, A.A. Maramis juga menjadi anggota Panitia Lima yang ditugaskan oleh presiden kedua Indonesia, Soeharto untuk mendokumentasikan perumusan Pancasila.

2. K.H. Masjkur

K.H. Masjkur | Foto : Lensaindonesia.com

K.H. Masjkur (dibaca K.H. Masykur) adalah tokoh ulama yang ikut berperan dalam perjuangan meraih kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan Indonesia. Berbasis dari pesantren di Malang, K.H. Masjkur menimba ilmu di beberapa pesantren di berbagai daerah hingga aktif menjadi ketua cabang NU di Malang dan menjadi anggota PBNU yang berkantor di Surabaya. K.H. Masjkur juga aktif menjadi anggota BPUPKI.

Kiprahnya dalam ikut memerjuangkan Indonesia ditunjukkannya melalui menjadi anggota PETA (Pembela Tanah Air) serta menjadi anggota Laskar Hizbullah yang berada di bawah naungan Masyumi. K.H. Masjkuri menghimpun pemuda Islam yang berada dalam Laskar Hizbullah untuk ikut turun seiring dengan tragedi perobekan bendera di Hotel Yamato Surabaya. Laskar ini pula turut bertempur melawan tentara Inggris yang marah akibat tewasnya Mayor Jenderal Mallaby yang tewas dibunuh santri.

3. Roehana Kuddus

Ruhana Kudus merupakan jurnalis wanita pertama yang mendapat gelar pahlawan nasional. | Foto : MINEWS.ID

Perempuan kelahiran Kota Gadang, Sumatera Barat ini merupakan perempuan yang tekun mendalami bidang jurnalistik, kerajinan, bisnis dan mengajar. Ruhana lahir pada 20 Desember 1884 yang memiliki hubungan kerabat dengan para pejuang kemerdekaan Indonesia antara lain Ruhana adalah sepupu dari H. Agus Salim dan kakak tiri dari Sutan Syahrir. Ruhana juga berada satu masa dengan pejuang emansipasi wanita R.A. Kartini sehingga kehadiran Ruhana juga mengobarkan semangat para perempuan untuk mendapat pendidikan yang lebih baik.

Ruhana menekuni bidang jurnalistik melalui surat kabar Poetri Hindia yang kemudian berinisiatif mendirikan surat kabar sendiri bernama Sunting Melayu. Pimpinan direksi dan para penulisnya adalah perempuan, karena memang Ruhana ingin mengajak perempuan di daerahnya menjadi perempuan yang memiliki pengalaman dan pengetahuan lebih. Selain melalui bidang jurnalistik, Ruhana juga tekun dalam memberdayakan perempuan melalui kegiatan kerajinan seperti merajut, menjahit yang dipelajarinya ketika bertetangga dengan orang Belanda. Kemampuan tersebut merupakan kemampuan yang banyak dimiliki oleh perempuan Belanda. Melalui kerajinan tersebut, Ruhana bersama para perempuan yang diberdayakannya melalui kemapuan kerajinan, dapat mengekspor hasil kerajinan murid-muridnya ke Eropa.

Perannya dalam membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia dilakukan Ruhana melalui berbagai cara salah satunya melalui tulisan-tulisannya yang membakar semangat para pemuda. Selain itu, Ruhana juga mencetuskan untuk mendirikan dapur umum untuk kepentingan perang gerilya.

4. Abdul Kahar Mudzakkir

Abdul Kahar Mudzakkir. | Foto : Wikipedia

Abdul Kahar Mudzakir adalah tokoh BPUPKI yang lahir di Gunungkidul Yogyakarta. Selama menempuh pendidikan di Kairo, Mesir, Abdul Kahar Mudzakkir aktif menyuarakan perjuangan kemerdekaan Indonesia di dunia Timur Tengah. Selain itu, Mudzakkir juga membawa nama Indonesia melalui tulisan-tulisan di majalah Suara Azhar dan Pilihan Timur serta surat kabar Palestina Al-Tasurah. Mudzakkir yang hidup dan tumbuh di lingkungan Muhammadiyah, menjadi anggota BPUPKI yang terlibat dalam merumuskan bentuk negara bersama tokoh Islam dari organisasi Nahdlatul Ulama KH. Wahid Hasyim, bersama berpendapat dasar negara Islam di Piagam Jakarta. Meski akhirnya, Mudzakkir menerima perubahan sila pertama yang awalnya berbunyi “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya” diubah menjadi “Ke-Tuhanan Yang Maha Esa” untuk menjaga kesatuan negara Indonesia yang terdiri dari berbagai golongan.

5. Sarjito

dr. Sardjito. | Foto : Wikipedia

Sarjito adalah seorang dokter dan peneliti yang lahir di desa Purwodadai Kabupate Magetan. Sarjito berperan dalam menciptakan vaksi anti infeksi untuk typus, kolera, disentri, staflokolen dan streptokoken. Sarjito juga membuat makanan ransum yang ia berinama Biskuit Sardjito pada masa perjuangan kemerdekaan bagi para tentara pelajar yang berada di medan perang. Selain itu, Sarjito juga pernah aktif dalam organisasi Budi Utomo di Jakarta.

Sardjito bersama Prof Sutarman, dokter Sanusmo, dan dokter Pudjodarmohusodo mendirikan Fakultas Kedokteran RI di Klaten dan Solo pada 5 Maret 1946. Dari Fakultas tersebut kemudian berkembanglah menjadi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

6. Sultan Himayatuddin

Sultan Himayatun merupakan Sultan ke 20 dan ke 23 Kesultanan Buton.| Foto : RRI

Sultan Himayatuddin memiliki nama lengkap Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi adalah sultan dari Kerajaan Buton, Sulawesi Tenggara yang lahir pada awal abad ke 18 dan berkuasa pada tahun 1752-1755 serta 1760-163. Kiprahnya dalam perjuangan bagi Indonesia yakni ketika memutuskan untuk mengakhiri perjanjian antara Kesultanan Buton dan VOC yang dapat mengakibatkan tenggelamnya martabat Kesultanan Buton serta merugikan rakya Buton. Akhirnya Sultan Himayatuddin bergerilya di dalam hutan bersama rakyat merancang strategi perlawanan terhadap VOC hingga akhirnya VOC keluar dari Buton. Hal tersebut menjadikan Sultan Himayatuddin mendapat gelar Oputa Yi Koo yang artinya penguasa yang bergerilya melawan penjajah dari dalam hutan. Sultan Himayatuddin wafat pada tahun 1766 di Gunung Siontapina.


Catatan kaki: Historia.id | Wikipedia | Kompas

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Imbangi Perkembangan Media Informasi, BAKORWIL Malang Adakan Workshop Videografi Sebelummnya

Imbangi Perkembangan Media Informasi, BAKORWIL Malang Adakan Workshop Videografi

Jelang Akhir Tahun, FPMSI Akan Gelar Diskusi Bersama Warganet Menuju Indonesia Maju Selanjutnya

Jelang Akhir Tahun, FPMSI Akan Gelar Diskusi Bersama Warganet Menuju Indonesia Maju

Wihdi Luthfi
@wihdiluthfi

Wihdi Luthfi

Salam. Panggil saja Widi.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.