Jazz Bengawan: Membungkus Pelestarian Bengawan dalam Konser Musik Jazz

Jazz Bengawan: Membungkus Pelestarian Bengawan dalam Konser Musik Jazz

Panggung Jazz Bengawan 2019 © Jurnaba

Sejumlah motor terparkir rapi di trotoar jembatan Sosrodilogo Bojonegoro (13/11). Para pemiliknya, duduk di jok dan tampak saksama mengarahkan muka di panggung bercahaya yang ada di bawah jembatan.

Di sudut luar venue panggung, para penjual makanan dan minuman ringan terlihat sibuk melayani pembeli. Mereka menggelar lapak demi ikut menikmati keramaian Jazz Bengawan.

Adi Saputra duduk lesehan sambil mengarahkan pandangan ke arah panggung. Jaraknya dengan panggung tak terlalu dekat, tapi juga tak terlalu jauh. "Yang penting cukup bisa lihat penampil saja sih," katanya.

Adi bukan penikmat musik jaz. Setidaknya, tak terlalu paham dengan musik jaz. Layaknya pemuda usia 21 pada umumnya, Adi cenderung menikmati musik rock. Tapi, dia memang berniat menonton Jazz Bengawan.

"Bagus, karena setting lokasi di dekat sungai. Setidaknya masyarakat bisa lebih kenal dekat pada sungai," imbuh mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta Bojonegoro itu.

Jazz Bengawan yang digelar di pinggir sungai Kecamatan Trucuk Bojonegoro itu, memang cukup riuh didatangi para penonton. Pengunjung datang dari bermacam usia. Mulai anak muda hingga orang tua. Mereka mulai memadati lokasi sejak sore hari. Pasca-Isya, jumlah penonton kian menyemut.

Para penampil mengambil peran penting atas banyaknya penonton yang datang. Sejumlah nama seperti B-String, K2D, Nita Aartsen ft Rubem Farias, Rubah Di Selatan, hingga Ahmad Abdul, memang punya nama di segmen masing-masing.

Sehingga tak kaget jika mampu memantik keinginan pengunjung untuk berdatangan dan menyaksikan penampilan mereka di panggung Jazz Bengawan ke-3 ini.

Beberapa hari diguyur hujan, membuat tanah bantaran sungai menguarkan aroma segar tapi tak sampai basah. Tak pelak jika sejumlah penonton banyak yang memilih duduk lesehan, daripada capek berdiri.

Rahmadian Adi Permadi, pengunjung lain menyatakan jika selain penampil, yang membuat dia ingin menyaksikan Jazz Bengawan adalah keragaman tampilan. Meski berlabel jaz, banyak penampil yang menampilkan genre lain.

Dia mencontohkan, Rubah di Selatan dan Abdul, tentu lebih dekat dengan genre pop dibanding jaz. Selain itu, penampilan musisi lokal dengan genre yang mengangkat khasanah lokal juga tak ketinggalan, sehingga lebih bisa menikmati banyak tampilan.

"Acara ini sangat bagus, karena memadukan beberapa unsur musik sekaligus," kata Rahmadian.

Rahmadian juga mengatakan, selain penampilan musik, pesan tersirat dari diadakannya Jazz Bengawan juga amat bagus. Yakni agar kepedulian masyarakat terhadap sungai Bengawan Solo meningkat. Mengingat, selain acaranya digelar di dekat sungai, acaranya pun berlabel Bengawan.

Panitia Jazz Bengawan, Mohamad Firman Febriari, acara Jazz Bengawan memang di-setting beda sejak dari konsep. Sehingga berbeda dari festival musik lain yang pernah diselenggarakan di Kota Bojonegoro.

"Pembedanya dengan yang lain, (acara ini) bukan tentang hiburan semata. Tapi satu gerakan melestarikan bengawan," kata Firman.

Karena itu, Firman berharap acara Jazz Bengawan menjadi acara yang bisa menarik bukan hanya dari acara jaz-nya, tapi juga kesadaran agar tidak membuang sampah dan pentingnya memelihara ekosistem lingkungan di hilir Bengawan.

"Intinya bukan jadi tontonan hiburan, tapi edukasi tentang kelestarian sungai," ucap dia.

ExxonMobil Cepu Limited, sebagai pendukung acara tersebut, melalui Asset Managernya, Harwiyono, mengatakan jika Jazz Bengawan sudah menjadi ikon pertunjukan musik yang peduli lingkungan karena dibarengi dengan konservasi Bengawan Solo.

"Ini sejalan dengan komitmen EMCL dalam memprioritaskan pelestarian lingkungan," kata Harwiyono.

Jazz Bengawan, kata Harwiyono, tidak hanya menampilkan pertunjukan musik jaz, namun juga menampilkan kesenian tradisional tari tengul, reog, serta musik graziola karya seniman Bojonegoro, sebagai upaya pelestarian budaya lokal Bojonegoro.

Pihaknya mengapresiasi kreativitas dan inisiatif para pemuda lokal Bojonegoro, khususnya Pemuda Ledok yang terus konsisten menyuguhkan hiburan alternatif sekaligus aksi nyata kepedulian terhadap Bengawan Solo.

EMCL sebagai operator Blok Cepu -bersama para mitra Blok Cepu: PT Pertamina EP Cepu dan Badan Kerjasama PI Blok Cepu- mendukung upaya masyarakat dalam pelestarian lingkungan, budaya lokal, dan pengembangan ekonomi kreatif di Bojonegoro.

Dia berharap dukungan pihaknya dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan pengembangan ekonomi, bisa terus berkelanjutan dan membawa dampak yang positif menuju terwujudnya masyarakat mandiri, produktif dan energik.

"Kami juga berterima kasih dan memberi apresiasi kepada pemerintah dan masyarakat Kabupaten Bojonegoro yang telah mendukung kesuksesan proyek negara di Lapangan Banyu Urip dan Kedung Keris," pungkas dia.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Sang Perajin, Pengabdi Seni Kriya Logam dari Yogyakarta Sebelummnya

Sang Perajin, Pengabdi Seni Kriya Logam dari Yogyakarta

Jelang Akhir Tahun, FPMSI Akan Gelar Diskusi Bersama Warganet Menuju Indonesia Maju Selanjutnya

Jelang Akhir Tahun, FPMSI Akan Gelar Diskusi Bersama Warganet Menuju Indonesia Maju

Wahyu Rizkiawan
@wrizki

Wahyu Rizkiawan

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.