Bandara Bandung Kini Jadi Hub Pesawat Baling-Baling

Bandara Bandung Kini Jadi Hub Pesawat Baling-Baling
info gambar utama
  • Bandara Husein Sastranegara di Bandung kini menjadi hub bagi pesawat propeller (baling-baling).
  • Langkah ini untuk mewujudkan sinergitas antara Bandara Husein Sastranegara dengan Bandara Kertajati.
  • Pembicaraan dengan maskapai telah dilakukan agar pesawat ATR 72 dan sejenisnya bisa dipusatkan di Bandung.

Bandara Husein Sastranegara di Bandung akan dijadikan bandara hub untuk penerbangan pesawat baling-baling (propeller). Rute-rute yang akan memakai pesawat ini adalah rute di Jawa dan ke luar Jawa.

Pembicaraan dengan sejumlah maskapai telah dilakukan untuk mendorong agar operasional propeller seperti ATR 72 dan sejenisnya bisa dipusatkan di Bandung.

Maskapai-maskapai yang mengoperasikan propeller di Bandung adalah Wings Air, Garuda Indonesia, NAM Air, dan Citilink, dengan berbagai rute tujuan antara lain Surabaya, Bengkulu, Yogyakarta, Tanjung Karang, Halim Perdana Kusuma, Solo, Pangkal Pinang, dan lain-lain.

BACA JUGA: Mobil Listrik Kini Bisa di-Charge di Bandara Soetta

Dilansir dari siaran pers yang diterima GNFI, langkah ini adalah upaya PT. Angkasa Pura II (Persero) untuk mewujudkan sinergitas antara dua bandara di Jawa Barat, yakni Bandata Husein Sastranegara di Bandung dan Bandara Kertajati di Majalengka.

Dengan Bandara Husein Sastranegara menjadi hub propeller, dapat mendukung penuh operasional Bandara Kertajati. Sebab, Bandara Kertajati sedang disiapkan untuk melayani penerbangan pesawat jet, baik itu berbadan sedang (narrow body) atau berbadan lebar (wide body).

“Bandara Kertajati itu adalah masa depan dari Jawa Barat. Runway di bandara itu berukuran 3.000 x 60 meter sudah bisa untuk melayani penerbangan wide body bukan saja Airbus A330 atau Boeing 777, tapi juga hingga sekelas Airbus A380,“ ujar Presiden Direktur PT. Angkasa Pura II, Muhammad Awaluddin.

BACA JUGA: Akhirnya, Indonesia akan Punya Bandara Antariksa

Ke depannya, runway Kertajati bahkan bisa diperpanjang hingga 3.500 meter dan masih ada lahan untuk membangun runway kedua.

“Sementara, di Husein Sastranegara ukuran runway 2.220 x 45 m yang maksimal hanya bisa narrow body karena sudah tidak mungkin lagi melakukan pengembangan runway di sana. Belum lagi luasan gedung terminal yang hanya mampu menampung maksimal 4 juta pergerakan penumpang per tahun. Area lahan untuk perluasan bangunan juga terbatas. Jadi, memang ada keterbatasan untuk pengembangan bandara,” jelas Muhammad Awaluddin.**

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini