Ismail Marzuki Alias Maing, Pejuang Indonesia Melalui Lagu

Ismail Marzuki Alias Maing, Pejuang Indonesia Melalui Lagu

Ismail Marzuki © Kebudayaan Indonesia

Betapa hatiku takkan pilu

Telah gugur pahlawanku

Betapa hatiku tak akan sedih

Hamba ditinggal sendiri...

Apakah Kawan GNFI tahu beberapa kalimat di atas? Ya, 4 baris kalimat di atas merupakan potongan dari lirik lagu ‘Gugur Bunga’ yang selalu membuat hati bergetar seraya air mata menetes tanpa disadari. Di balik lagu yang hampir selalu dimainkan ketika ada pahlawan Indonesia tutup usia, ada sosok yang senantiasa turut berjuang untuk Indonesia melalui karyanya berupa lagu yang membangkitkan semangat nasionalisme. Sosok itu adalah Ismail Marzuki, yang kini namanya diabadikan menjadi salah satu taman di Jakarta.

Ismail Marzuki adalah seorang komponis yang lahir di Kwitang, Batavia (kini Jakarta) pada 11 Mei 1914. Ismail Marzuki adalah gabungan dari namanya sendiri yakni Ismail dan Marzuki adalah nama ayahnya. Ismail Marzuki kerap disapa oleh teman-teman di lingkungannya dengan sebutan Mail atau diplesetkan menajdi Maing. Ismail memulai karir musiknya ketika ia berusia 17 tahun dengan karya petamanya yakni lagu yang berjudul ‘O Sarinah’ pada tahun 1931 yang inti dari lagu tersebut adalah keadaan bangsa yang tertindas. Selain menjadi pengarang lagu, Ismail juga piawai dalam memainkan berbagai alat musik orkestra seperti gitar, saxophone dan harmonium pompa.

Taman Ismail Marzuki (TIM) Salemba, Jakarta Pusat. | Foto : jktgo.com

Dari segi pendidikan, Ismail Marzuki menempuh sekolah formal di HIS Idenburg Menteng dan menimba ilmu agama di Madrasah Unwanul Wustha. Ismail kemudian melanjutkan pendidikannya di MULO Menjangan Jakarta. Berbekal ijazah MULO, Ismail memiliki kemampuan dalam berkomunikasi dengan bahasa Inggris dan Belanda sehingga ia bekerja di Socony Service Station. Selanjutnya, Ismail memutuskan untuk berpindah tempat kerja karena faktor ketidak cocokkan dengan tempat kerja yang semula ia tekuni yakni Socony Service Station. Ismail kemudian bekerja sebagai penjual piringan hitam produksi Columbia dan Polydor. Kesemptan bekerja di salah satu perusahaan yang memiliki kaitan dengan dunia musik, Ismail manfaatkan untuk mencari relasi dengan para tokoh seni seperti musisi Zahirdin, Yaha, Kartolo dan Roekiah.

Sebenarnya, Ismail Marzuki tidak pernah menekuni pendidikan musik secara formal. Musik merupakan hobi yang ia tekuni dan lahir dari bakat alam yang senantiasa ia terus pelajari. Ismail pun pernah bergabung dengan grup musik Lief Java yang dipimpin oleh Hugo Dumas, salah satu orkes terkenal di masa kolonial Belanda. Melalui grup musik tersebut, Ismail mendapat kesempatan untuk mengekspresikan hobinya hingga ke daratan malaya bahkan grup musik Lief Java seringkali mengisi acara musik di stasiun radio milik Belanda yang Bernama Nederlands Indishe Radio Omroep Maaeshappi (NIROM). Selain pernah diduduki Belanda, Indonesia juga pernah diduduki oleh Jepang. Pada masa pendudukan Jepang inilah Ismail turut aktif di Radio Republik Indonesia (RRI) yang dulu bernama Hoso Hanri Kyouku yakni merupakan pengganti radio Belanda atau NIROM.

Lirik lagu Gugur Bunga | Foto : seputar musik

Aliran musik yang ditekuni Ismail adalah jazz, hawaii, seriosa atau klasik ringan dan keroncong. Tercatat, Ismail telah membuat karya lagu dengan jumlah di atas 200 judul lagu baik yang menjadi lagu nasional hingga lagu dengan aliran musik keroncong. Beberapa lagu karya Ismail Marzuki di antaranya adalah o Sarinah, Gugur Bunga, Melati Di Tapal Batas, Rayuan Pulau Kelapa, Halo-Halo Bandung, Indonesia Pusaka dan Juwita Malam. Ismail wafat di usia 44 tahun tepatnya pada 25 Mei tahun 1958 di Jakarta. Apresiasi bangsa Indonesia terhadap komponis asal Betawi ini salah satunya adalah dengan mengabadikan nama Ismail Marzuki sebagai taman di kawasan Salemba Jakarta Pusat dan penobatan menjadi tokoh pahlawan nasional Indonesia pada tahun 2004.


Catatan kaki: wikipedia | historia

Pilih BanggaBangga33%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi33%
Pilih TerpukauTerpukau33%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Hendro Purwoko Pamerkan Sketsa-sketsa Malioboro Sebelummnya

Hendro Purwoko Pamerkan Sketsa-sketsa Malioboro

Bersenyawa dengan Kukila: Harmoni Hidup antara Manusia dengan Kukila di Hutan Kemuning Selanjutnya

Bersenyawa dengan Kukila: Harmoni Hidup antara Manusia dengan Kukila di Hutan Kemuning

Wihdi Luthfi
@wihdiluthfi

Wihdi Luthfi

Salam. Panggil saja Widi.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.