Hendro Purwoko Pamerkan Sketsa-sketsa Malioboro

Hendro Purwoko Pamerkan Sketsa-sketsa Malioboro

Hendro Purwoko (tengah), Purwadmadi (kiri), serta Prof. M Dwi Marianto (dua dari kanan) bersama sejumlah wartawan saat jumpa media di Posnya Seni Godod, Sabtu (7/12/2019). © ist.

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Malioboro sebagai sebuah ruang yang hidup, seiring waktu tentu akan selalu berubah. Bahkan, sangat cepat berubah.

Merekam Malioboro pada suatu masa tertentu akan menjadi dokumentasi yang sangat bernilai dalam kaitannya dengan perjalanan sejarah Yogyakarta. Sebuah penanda waktu yang terserak antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Menurut Purwadmadi dalam tulisan pengantarnya, pada sisi inilah ragam sketsa tangan Hendro Purwoko tentang bentang kawasan Malioboro menjadi bagian catatan historis, sekaligus rekaman peristiwa sosial yang perlu ditakar dan dibaca sebagai peristiwa sosial budaya.

Lebih lanjut lagi, arah rekaman visual yang dibuat oleh Hendro Purwoko tidak hanya berdimensi heritage atau kecagarbudayaan, melainkan bisa dimanfaatkan untuk membaca sikap dan perilaku masyarakatnya.

Dari balik bangunan yang terekam, tercatat, dan terunggah dalam gambar, sejatinya sebuah teks yang menemukan konteks sosial budayanya dari waktu ke waktu.

Gambar-gambar tangan Hendro Purwoko bukan buah keterampilan semata-mata, tetapi juga ekspresi ajakan untuk membaca Malioboro sebagai kawasan kehidupan, kawasan budaya, yang sangat mewarnai keragaman perjalanan sejarah Yogyakarta.

Motif sketsa Hendro Purwoko pantas untuk tidak hanya dibedah dari pencapaian wujud visual, melainkan juga dari motif konservasi ingatan dan picuan inspirasi konservasi, pemeliharaan, pengembangan, dan pemanfaatkan warisan budaya.

Selain itu, juga dapat digunakan untuk menemu-tunjuk problem sosial budaya kawasan Malioboro yang kompleks. Sketsa-sketsa Malioboro karya Hendro Purwoko adalah cuitan catatan spontan, sekaligus seruan moral memelihara dan mengembangkan Malioboro sebagai kawasan budaya terpenting Yogyakarta.

Oleh karenanya, Pameran Tunggal Hendro Purwoko “SAMBANG SAMBUNG MALIOBORO” punya arti penting, dan menarik secara artistik, dalam dokumentasi sejarah aspek-aspek sosial, budaya, ekonomi, arsitektural, maupun tata ruang kawasan Malioboro yang mana di masa depan dapat dijadikan salah satu pijakan dalam kajian-kajian ilmiah kesejarahan Yogyakarta.

Pameran ini akan menyajikan 42 karya sketsa yang dibuat Hendro Purwoko sejak tahun 2009 hingga 2015. Sketsa-sketsa tersebut mengabadikan suasana Yogyakarta pada tahun-tahun itu, yang mana di tahun 2019 ini sudah cukup banyak berubah.

Proyek revitalisasi Malioboro sepanjang tahun 2018-2019 misalnya, cukup banyak mengubah bentang lanskap Malioboro dari sisi pembangunan infrastruktur sarana & prasarana.

Hendro Purwoko dengan cukup detail menangkap “jiwa-jiwa” Malioboro dalam sketsa-sketsanya. Sosok-sosok penghuninya seperti sais andong, tukang becak, penjaja kopi instan, dan pedagang cenderamata, hingga landmark Malioboro seperti Stasiun Tugu, Kantor Gubernur, Pasar Beringharjo, Ngejaman, Museum Benteng Vredeburg, Ketandan, Kawasan Sosrowijayan, maupun gedung-gedung di kawasan Titik 0 KM terekam dengan apik dan artistik di tangan Hendro Purwoko.

Suasana seperti demo buruh, angkringan, dan Pasar Klithikan juga tak luput dari pengamatan Hendro Purwoko.

Pameran ini merupakan bentuk tanggung jawab Hendro Purwoko sebagai seorang seniman yang selalu berproses kreatif dan menunjukkan idealisme serta eksistensinya.

Pameran ini juga menandai masa purna tugas Hendro Purwoko sebagai staf pengajar di Program Studi Desain Interior, Fakultas Seni Rupa Intitut Seni Indonesia Yogyakarta, per 1 Oktober 2019.

Pameran ini juga bisa dikatakan sebagai sebuah perayaan atas pencapaian Hendro Purwoko sebagai seorang seniman maupun sebagai pengajar seni.

Oleh karenanya, Hendro Purwoko ingin merayakannya bersama keluarga, komunitas, dan teman-teman seniman dengan menggelar sejumlah rangkaian kegiatan.

Rangkaian kegiatan yang pertama adalah Pameran Karya “Meditasi Anak Milenium” yang memajang puluhan gambar hasil karya anak-anak yang mengikuti kegiatan menggambar rutin di Posnya Seni Godod.

Pameran yang diikuti 23 anak-anak usia TK hingga SD ini juga menjadi penanda peringatan 1000 hari berpulangnya Puspitasari Darsono (Mbak Pipit), seorang sahabat yang menginspirasi kehidupan Hendro Purwoko untuk belajar meditasi dan segala variasinya, termasuk makan ala vegetarian.

Pameran ini digelar dari tanggal 1 Desember hingga 8 Desember 2019 di Posnya Seni Godod.

Rangkaian kegiatan berlanjut dengan acara Sket Malioboro di sketchbook ukuran 14 x 14 cm bersama puluhan perupa. Selanjutnya pada Selasa Wage, 10 Desember 2019 diselenggarakan acara Melukis Bersama 100 Perupa di Kawasan Malioboro.

Acara yang dimulai pukul 08.00 WIB ini diikuti lebih dari 100 pelukis yang berasal dari penjuru Nusantara dan bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan DIY, komunitas pelukis cat air (KOLCAI), Sanggar Bambu, Sanggar Sejati, dan kelompok seniman lainnya.

Acara melukis bersama ini selain untuk nyengkuyung Pameran Tunggal Hendro Purwoko, juga untuk memperingati Hari HAM Sedunia dan mendukung program car free day Selasa Wagen.

Para peserta melukis kawasan Malioboro dengan titik kumpul di depan Museum Sonobudoyo (gedung ex-KONI). Panitia menyiapkan 100 kanvas ukuran 50 x 60 cm untuk acara ini.

Hasil melukis bersama ini selanjutnya dipamerkan di Posnya Seni Godod mulai tanggal 10 hingga 18 Desember 2019. Pameran tersebut dibuka Selasa sore pukul 16.00 WIB oleh Mr. Rudolf Iten, pengusaha asal Swiss.

Selasa Wage, 10 Desember 2019 pukul 19.00 WIB digelar Pembukaan Pameran Tunggal Hendro Purwoko “Sambang Sambung Malioboro” di Bentara Budaya Yogyakarta.

Pameran yang menggelar lebih dari 45 sketsa kawasan Malioboro ini dibuka oleh Prof. Dr. M. Agus Burhan, M.Hum. Sekitar 200 tamu undangan yang hadir juga dihibur dengan sajian musik dari See N See Guitar.

Pameran ini dikuratori oleh Prof. M. Dwi Marianto, MFA., Ph.D. dan dengan tulisan pengantar yang cukup panjang dari Purwadmadi. Pameran berlangsung hingga tanggal 18 Desember 2019 dengan jam buka setiap hari pukul 09.00-21.00 WIB.

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

"Prihal" sebagai Peringatan 20 Tahun Arsitek Andra Matin Berkarya Sebelummnya

"Prihal" sebagai Peringatan 20 Tahun Arsitek Andra Matin Berkarya

Aturan Baru WhatsApp Soal ‘’Meneruskan’’ Pesan Selanjutnya

Aturan Baru WhatsApp Soal ‘’Meneruskan’’ Pesan

Wahyu Hidayat
@ekawahyu

Wahyu Hidayat

www.jogjapages.com

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.