Rabiah Si Malaikat Mengapung Jadi Sorotan di Acara UNDP

Rabiah Si Malaikat Mengapung Jadi Sorotan di Acara UNDP

Laut Flores © Abdurahman Faiz

Film The Floating Suster/Suster Apung karya Arfan Sabran tampil sebagai pembuka dalam acara UNDP "Human Development Report" 2019.

Di film ini, Rabiah sebagai pemeran utama bercerita bagaimana dirinya dengan tak gentar menjadi suster yang berjuang demi kesehatan orang-orang di Flores. Di sana terjadi krisis kesehatan dikarenakan kurangnya teknologi dan sarana yang mendukung.

Film ini bercerita tentang kegigihan Rabiah dalam memberikan jasa di bidang kesehatan, yang mana hal itu menjadi kebutuhan penting namun sangat sulit untuk diperoleh.

United Nations Development Programme (UNDP) adalah sebuah organisasi Internasional yang memfokuskan program kerja pada masalah pembangunan di bawah PBB. Atau lebih tepatnya sebuah organisasi yang mengusahakan perubahan dan membuat negara-negara terhubung pada pengetahuan, pengalaman, dan sumber daya untuk membantu masyarakatnya membangun kehidupan yang lebih baik.

UNDP berada pada 177 negara termasuk Indonesia, di mana posisi UNDP adalah bekerja sama dengan masyarakat hingga mendapatkan solusi mereka sendiri dalam menghadapi tantangan global dan nasional.

Pada acara Human Development Report (HDR) 2019, UNDP melaporkan bahwa Indonesia masuk ke dalam kelompok kategori pembangunan manusia tinggi.

Bagi Christopher Bahuet (Kepala Perwakilan UNDP Indonesia), bahwa tantangan yang dihadapi oleh Asia-Pasifik, termasuk Indonesia adalah tidak meratanya pembangunan atau kesenjangaan yang masih terlihat jelas meskipun angka pembangunan terus meningkat drastis.

Hal ini dibuktikan bedasarkan IPM (Indeks Pembangunan Manusia) Indonesia yang menyentuh angka 0,707 , namun di beberapa wilayah Indonesia masih adanya kesulitan untuk masalah kesehatan.

Rabiah si Suster Apung | Foto: @susterapung/Twitter

Rabiah berhasil menggambarkan betapa terasanya ketimpangan itu pada negeri ini.

Dirinya berjuang dan memberi harapan bagi warga Flores. Rabiah mengerahkan segala kemampuan untuk menjadi perawat sekaligus dokter, walaupun hal itu melanggar kewajiban dasarnya atau bisa dikatakan malpraktik. Untuk dirinya bisa memberi jawaban dari rasa sakit orang-orang sana adalah hal terpenting.

Ombak besar dan jarak yang jauh antar pulau rela ia tempuh demi memberikan obat kepada siapapun yang membutuhkan. Dirinya yakin bahwa semua orang berhak untuk sehat. Rabiah tidak pernah mengeluh walaupun bantuan dari pemerintah sangat minim.

Dia bernostalgia dalam film itu, bahwa ia pernah memberikan infus kepada seseorang yang menderita diare parah dan butuh diinfus sesegera mungkin. Namun, sayangnya persediaan infus habis dan hanya tersisa yang sudah kedaluwarsa.

Dengan keputusan yang sangat hati-hati dan menyerahkan diri kepada Tuhan, akhirnya ia tetap menginfuskannya kepada orang tersebut.

Alhasil, Rabiah berhasil menyelamatkan hidup orang tersebut. Film dokumenter yang menggugah siapapun yang menyaksikan juga berhasil memperoleh beberapa penghargaan seperti: Best Film oleh EAGLE AWARDS 2006, Best Cinematography oleh EAGLE AWARDS 2006, Viewer's Favorite oleh EAGLE AWARDS 2006, HIGHLY COMMENDED FOR BEST DOCUMENTARY oleh ASIAN TELEVISION AWARDS 2007, Official Selection oleh ASIAN HOTSHOTS FILM FESTIVAL BERLIN 2011, Official Selection oleh DOCUMENTARY FILM FESTIVAL YOGYAKARTA 2007.

Film dokumenter The Floating Nurse memberikan pandangan bagaimana pembangunan yang sudah dirasa merata namun di beberapa wilayah di Indonesia masih saja merasakan derita. Bahkan hanya untuk sehat saja pun susah.

Indonesia harus optimis melakukan pembangunan. Jika dengan IPM 0,707 Indonesia menjadi ranking 111 di dunia dalam hal pembangunan, maka ke depannya Indonesia harus menyentuh IPM sempurna dan menjadi negara dengan ranking yang lebih baik lagi. Selamat!

Referensi: Acara UNDP "Human Development Report 2019" | Neliti.com

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi100%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Mewujudkan Pembelajaran Revolusi Digital 4.0 di Indonesia Sebelummnya

Mewujudkan Pembelajaran Revolusi Digital 4.0 di Indonesia

Potensi Ekonomi Baru dari Kota Batu Selanjutnya

Potensi Ekonomi Baru dari Kota Batu

Raka Nugraha
@rakanugraha

Raka Nugraha

I'm curios about everything, and i'm support the indonesian good news!

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.