Menakar Potensi Destinasi '10 Bali Baru’

Menakar Potensi Destinasi '10 Bali Baru’

Candi Borobudur 2019 © Aisy Fajar

Pulau Dewata, atau lebih dikenal dengan Bali, merupakan salah satu pulau destinasi wisata yang ditawarkan oleh Indonesia dan sudah dikenal di kancah mancanegara.

Sejak zaman kolonial, Bali sudah dipilih sebagai lokasi untuk berwisata. Dari masa ke masa, Bali memang tidak melakukan promosi wisata. Namun, keindahan Bali-lah yang dipromosikan setiap orang yang berkunjung, sehingga turis lokal maupun mancanegara berkeinginan untuk mengunjungi The Island of God ini.

Dari tahun ke tahun Bali terus mengekspansi wisatanya dengan membuka serta menambah destinasi baru.

Dari sebanyak 17.504 pulau di Indonesia, Bali masih menjadi topik yang banyak diperbincangkan dan ditawarkan di kancah destinasi wisata internasional.

Sebagai destinasi wisata yang berada di daerah tropis, melalui media digital Bali digambarkan sebagai pulau impian yang tepat untuk berlibur. Seperti yang kita ketahui, Bali memiliki beragam potensi wisata yang tersebar di seluruh wilayahnya.

Disadur dari CNN, sebagai salah satu wilayah di Indonesia yang terkenal akan budaya ketimurannya, masyarakat Bali yang dikenal ramah dan hangat akan menyambut wisatawan ketika hadir di Bali.

Artikel berbahasa asing tersebut turut menunjukkan bahwa Bali telah bertransformasi dari lokasi berlibur yang santai menjadi salah satu destinasi liburan paling populer di dunia.

Tak hanya itu, Bali melalui beberapa situsweb penyedia layanan perjalanan digambarkan sebagai destinasi wisata di indonesia dengan potensi alam, kelimpahan budaya dan tradisi, serta menawarkan beragam aktivitas dan pengalaman yang beragam.

Para pengunjung di era modern ini acap kali mengabadikan aktivitas liburannya di lini sosial media. Dengan merebaknya media sosial dan kemudahan mengunggah aktivitas, Bali sering kali dijadikan destinasi wisata yang banyak dipamerkan di media sosial. Hal ini menjadi promosi yang murah bagi wilayah terkait.

Beberapa situsweb penyedia layanan perjalanan menggambarkan bahwa para pengunjung akan disuguhi keberagaman agama yang beriringan secara harmonis dan saling menghormati satu sama lain.

Menurut suara.com, destinasi wisata menjadi topik pencarian di media digital yang hangat beberapa waktu terakhir. Bali sendiri dari tahun ke tahun semakin meningkat topik pencariannya di media digital, sebagai tanda bahwa Bali masih menjadi topik destinasi wisata yang hangat.

Dilatarbelakangi meningkatnya kunjungan wisata ke Bali, pemerintah Indonesia memiliki keinginan untuk memperluas daya tarik wisatawan ke wilayah-wilayah di Indonesia yang memiliki potensi wisata.

Hal ini dicanangkan pemerintah melalui program 10 Bali Baru. Dilansir dari Tempo, program 10 Bali Baru ini merupakan program pemerintah dalam mendongkrak destinasi wisata lain di Indonesia yang tidak kalah menariknya. Program ini disusun dari perbaikan infrastruktur, layanan pariwisata hingga promo lainnya.

Dalam pelaksanaannya secara teknis destinasi yang akan dibentuk ini antara lain di wilayah Sumatra Utara (Danau Toba), Belitung (Tanjung Kelayang), Jawa Tengah (Candi Borobudur), Nusa Tenggara Timur (Labuan Bajo), Nusa Tenggara Barat (Mandalika), Sulawesi Tenggara (Wakatobi), Maluku Utara (Morotai), Jawa Timur (Bromo Tengger Semeru), Banten (Tanjung Lesung), dan Kepulauan Seribu.

10 destinasi wisata itu sebelumnya memang sudah dikenal keindahannya, namun sarana pendukung di daerah wisata tersebut dirasa masih kurang mumpuni untuk menunjang wisatawan.

Oleh karenanya, pemerintah merencanakan pembangunan pendukung di daerah wisata guna memperluas daerah wisata yang dapat menunjang ekonomi Indonesia.

Hingga Agustus 2019 lalu, CNBC Indonesia menyebutkan bahwa empat dari 10 kawasan pariwisata sedang dibangun fasilitas dasar dan beberapa infrastruktur pendukung lainnya. Namun ada satu hal yang mungkin terlupa dari berbagai persiapan pembangunan ini, yaitu bagaimana masyarakat di wilayah tersebut dapat menerima pembentukan baru.

Menurut Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) (2009), aset budaya dilihat sebagai kekayaan warisan dan pondasi identitas yang dimiliki suatu destinasi wisata.

Sejak 1980, “wisata budaya” dipandang sebagai sumber utama pembangunan ekonomi untuk banyak sektor dalam suatu destinasi wisata.

Saat ini wisatawan semakin sering mengunjungi suatu destinasi untuk dapat mengalami gaya hidup, keseharian budaya, dan kebiasaan dari orang-orang di lokasi yang mereka kunjungi.

Richards (2005), mengatakan bahwa pariwisata bergeser dari menikmati keasyikan suasana alam menjadi industri budaya atau industri kreatif yang dibentuk dan dilestarikan dari suatu destinasi.

Daya tarik dan daya saing setiap daerah yang beragam dapat menjadi pertimbangan dalam ekspansi satu wisata. Hal-hal lain yang juga perlu dipertimbangkan yaitu bagaimana keberlanjutan ekonomi (dari segi aktivitas masyarakat, dan event), infrastruktur dan keberlanjutan lingkungan serta kondisi sosial.

Hubungan orang-orang lokal juga menjadi hal yang sangat penting dalam mempertimbangkan ekspansi wisata. Hal ini dikarenakan penciptaan “atmosfer” baru dikhawatirkan dapat membentuk guncangan budaya di lokasi terkait.

Menurut OECD (2009), secara normal pengunjung suatu destinasi wisata dipahami sebagai pelanggan, sedangkan sektor budaya dari penghuni wilayah asli tentu memiliki asumsi yang berbeda.

Hal ini perlu dipersiapkan dalam pembangunan 10 Bali Baru mengingat beragamnya budaya di Indonesia serta tidak semua budaya asing dapat serta merta memiliki peluang untuk diadaptasi dan dikembangkan dalam destinasi tersebut.

Jika disamaratakan, setiap wisatawan mancanegara akan menganggap setiap penduduk lokal di destinasi wisata pasti sama ramah dan hangat layaknya di Bali.

Padahal, karakter masyarakat Indonesia yang beragam perlu dipersiapkan serta diberi panduan untuk mempersiapkan diri dalam mengembangkan destinasi wisata Indonesia, tanpa mengubah budaya lokal yang telah ada.


Referensi: CNN | suara.com | CNBC Indonesia | Tempo.co | Richard, Greg. 2005. Cultural Tourism in Europe. Wallingford: CAB International | OECD. 2009. The Impact of Culture Tourism. Prancis: OECD Publishing.

Pilih BanggaBangga50%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang50%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Perairan di Indonesia dengan Kemunculan Lumba-Lumba (Bagian I) Sebelummnya

Perairan di Indonesia dengan Kemunculan Lumba-Lumba (Bagian I)

Rasakan Sensasi Pedas Inovasi Cabai Carvi Agrihorti Selanjutnya

Rasakan Sensasi Pedas Inovasi Cabai Carvi Agrihorti

Aisy Fajar Kautsar
@aisykautsar

Aisy Fajar Kautsar

1 Komentar

  • Reza Hudan Prakosa

    Bagus Tulisannya tolong penulisnya dipertahankan

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.