Mengapa Jawa Menjadi Tempat Peristirahatan Terakhir Manusia Purba?

Mengapa Jawa Menjadi Tempat Peristirahatan Terakhir Manusia Purba?
info gambar utama

Fosil manusia yang berjalan tegak (Homo erectus) terakhir ditemukan di Jawa Tengah, Indonesia. Diperkirakan fosil tersebut berumur antara 108.000 hingga 1170.000 tahun lalu.

Homo erectus bertahan sampai sekitar 100.000 tahun lalu di Pulau Jawa, saat spesies sejenis di tempat lain sudah punah, ungkap kajian ilmiah terbaru. Kerabat dekat manusia modern itu berevolusi sekitar dua juta tahun lampau, dan merupakan spesies manusia pertama yang diketahui dapat berjalan tegak.

Ini berarti, Homo erectus masih ada di Bumi ketika manusia zaman modern muncul.

Para peneliti mengatakan bahwa temuan mereka mengkonfirmasi kapan spesies itu punah. Studi ini dipublikasikan Rabu di jurnal Nature. Baru-baru ini, sekelompok peneliti yang dipimpin oleh Profesor Russell Ciochon dari University of Iowa di Iowa City membuka penggalian baru di samping Sungai Solo, dan menganalisis kembali situs itu dan sekitarnya.

Mereka mengatakan usia definitif untuk lapisan tulang di sana berusia antara 108.000 tahun hingga 117.000 tahun.

Image captionProfesor Russell Ciochon dengan replika tengkorak Homo erectus yang ditemukan di Dusun Ngandong.
info gambar

Ini adalah penelitian tentang Homo erectus yang paling baru di dunia.

"Saya tidak tahu apa yang dapat Anda data di situs itu untuk memberi penanggalan yang lebih tepat dibanding apa yang sudah kami hasilkan," kata Ciochon kepada BBC News.

Profesor Chris Stringer, pemimpin penelitian evolusi manusia di Museum Sejarah Alam London, yang tidak terlibat dengan riset itu, berkomentar:

"Ini adalah studi yang sangat komprehensif tentang tengkorak dan tulang kering Homo erectus Ngandong yang terkenal. Penulis membangun perkiraan yang kuat bahwa individu-individu ini meninggal dan hanyut ke dalam endapan Sungai Solo sekitar 112.000 tahun yang lalu.

"Usia ini sangat muda untuk fosil Homo erectus yang tampak primitif, dan menunjukkan bahwa spesies ini bertahan di Jawa selama lebih dari satu juta tahun."

Para peneliti menduga bahwa terkumpulnya fosil itu menggambarkan peristiwa kematian massal, mungkin akibat lahar.

Di pulau-pulau lain di Asia Tenggara, Homo erectus tampaknya telah berevolusi menjadi lebih kecil, seperti Homo floresiensis - "Hobbit" - di Flores, dan Homo luzonensis di Filipina. Ini mungkin terjadi karena terbatasnya sumber makanan di pulau-pulau itu.

Tetapi di Jawa, tampaknya ada cukup makanan, sehingga memungkinkan Homo erectus mempertahankan ukuran tubuh aslinya. Spesimen di Dusun Ngandong tampaknya memiliki tinggi antara 1,5 hingga 1,8 meter — serupa dengan spesies manusia purba dari Afrika dan tempat lain di Eurasia.

Temuan ini menggarisbawahi pergeseran teori selama beberapa dekade terakhir.

Khalayak dulu menganggap evolusi manusia sebagai suatu perkembangan, dengan garis lurus imajiner dari kera mengarah ke bentuk manusia modern.

Namun, belakangan ini, kita dapat melihat bahwa segalanya jauh lebih berantakan.

Studi terbaru menyoroti kebenaran yang mengejutkan: bahwa masa keberadaan dari spesies manusia purba saling tumpang tindih satu sama lain, dalam beberapa kasus selama ratusan ribu tahun.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini