Mengapa Jawa Menjadi Tempat Peristirahatan Terakhir Manusia Purba?

Mengapa Jawa Menjadi Tempat Peristirahatan Terakhir Manusia Purba?

illustration © Unsplash.com

Fosil manusia yang berjalan tegak (Homo erectus) terakhir ditemukan di Jawa Tengah, Indonesia. Diperkirakan fosil tersebut berumur antara 108.000 hingga 1170.000 tahun lalu.

Homo erectus bertahan sampai sekitar 100.000 tahun lalu di Pulau Jawa, saat spesies sejenis di tempat lain sudah punah, ungkap kajian ilmiah terbaru. Kerabat dekat manusia modern itu berevolusi sekitar dua juta tahun lampau, dan merupakan spesies manusia pertama yang diketahui dapat berjalan tegak.

Ini berarti, Homo erectus masih ada di Bumi ketika manusia zaman modern muncul.

Para peneliti mengatakan bahwa temuan mereka mengkonfirmasi kapan spesies itu punah. Studi ini dipublikasikan Rabu di jurnal Nature. Baru-baru ini, sekelompok peneliti yang dipimpin oleh Profesor Russell Ciochon dari University of Iowa di Iowa City membuka penggalian baru di samping Sungai Solo, dan menganalisis kembali situs itu dan sekitarnya.

Mereka mengatakan usia definitif untuk lapisan tulang di sana berusia antara 108.000 tahun hingga 117.000 tahun.

Hak atas foto: TIM SCHOON/UNIVERSITY OF IOWA
Image captionProfesor Russell Ciochon dengan replika tengkorak Homo erectus yang ditemukan di Dusun Ngandong.

Ini adalah penelitian tentang Homo erectus yang paling baru di dunia.

"Saya tidak tahu apa yang dapat Anda data di situs itu untuk memberi penanggalan yang lebih tepat dibanding apa yang sudah kami hasilkan," kata Ciochon kepada BBC News.

Profesor Chris Stringer, pemimpin penelitian evolusi manusia di Museum Sejarah Alam London, yang tidak terlibat dengan riset itu, berkomentar:

"Ini adalah studi yang sangat komprehensif tentang tengkorak dan tulang kering Homo erectus Ngandong yang terkenal. Penulis membangun perkiraan yang kuat bahwa individu-individu ini meninggal dan hanyut ke dalam endapan Sungai Solo sekitar 112.000 tahun yang lalu.

"Usia ini sangat muda untuk fosil Homo erectus yang tampak primitif, dan menunjukkan bahwa spesies ini bertahan di Jawa selama lebih dari satu juta tahun."

Para peneliti menduga bahwa terkumpulnya fosil itu menggambarkan peristiwa kematian massal, mungkin akibat lahar.

Di pulau-pulau lain di Asia Tenggara, Homo erectus tampaknya telah berevolusi menjadi lebih kecil, seperti Homo floresiensis - "Hobbit" - di Flores, dan Homo luzonensis di Filipina. Ini mungkin terjadi karena terbatasnya sumber makanan di pulau-pulau itu.

Tetapi di Jawa, tampaknya ada cukup makanan, sehingga memungkinkan Homo erectus mempertahankan ukuran tubuh aslinya. Spesimen di Dusun Ngandong tampaknya memiliki tinggi antara 1,5 hingga 1,8 meter — serupa dengan spesies manusia purba dari Afrika dan tempat lain di Eurasia.

Temuan ini menggarisbawahi pergeseran teori selama beberapa dekade terakhir.

Khalayak dulu menganggap evolusi manusia sebagai suatu perkembangan, dengan garis lurus imajiner dari kera mengarah ke bentuk manusia modern.

Namun, belakangan ini, kita dapat melihat bahwa segalanya jauh lebih berantakan.

Studi terbaru menyoroti kebenaran yang mengejutkan: bahwa masa keberadaan dari spesies manusia purba saling tumpang tindih satu sama lain, dalam beberapa kasus selama ratusan ribu tahun.

Pilih BanggaBangga7%
Pilih SedihSedih3%
Pilih SenangSenang7%
Pilih Tak PeduliTak Peduli14%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi24%
Pilih TerpukauTerpukau45%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

10 Video Terpopuler di YouTube Indonesia Tahun Ini Sebelummnya

10 Video Terpopuler di YouTube Indonesia Tahun Ini

Inilah Lele Berwarna Pink Dari Jepara Selanjutnya

Inilah Lele Berwarna Pink Dari Jepara

Akhyari Hananto
@akhyari

Akhyari Hananto

http://www.goodnewsfromindonesia.org

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to understand it. My banking career continued in Yogyakarta when I joined in a program funded by the Asian Development Bank (ADB),as the coordinator for a program aimed to help improve the quality of learning and teaching process in private universities in Yogyakarta. When the earthquake stroke Yogyakarta, I chose to join an international NGO working in the area of ?disaster response and management, which allows me to help rebuild the city, as well as other disaster-stricken area in Indonesia. I went on to become the coordinator for emergency response in the Asia Pacific region. Then I was assigned for 1 year in Cambodia, as a country coordinator mostly to deliver developmental programs (water and sanitation, education, livelihood). In 2009, he continued his career as a protocol and HR officer at the U.S. Consulate General in Surabaya, and two years later I joined the Political and Economic Section until now, where i have to deal with extensive range of people and government officials, as well as private and government institution troughout eastern Indonesia. I am the founder and Editor-in-Chief in Good News From Indonesia (GNFI), a growing and influential social media movement, and was selected as one of The Most Influential Netizen 2011 by The Marketeers magazine. I also wrote a book on "Fundamentals of Disaster Management in 2007"?, "Good News From Indonesia : Beragam Prestasi Anak Bangsa di dunia"? which was luanched in August 2013, and "Indonesia Bersyukur"? which is launched in Sept 2013. In 2014, 3 books were released in which i was one of the writer; "Indonesia Pelangi Dunia"?, "Indonesia The Untold Stories"? and "Growing! Meretas Jalan Kejayaan" I give lectures to students in lectures nationwide, sharing on full range of issues, from economy, to diplomacy

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.