Menguatkan Solidaritas Melalui Tradisi Bakar Batu "Barapen"

Menguatkan Solidaritas Melalui Tradisi Bakar Batu "Barapen"

Tradisi Barapen © Ublik.id

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠. Rekomendasi lain dari WHO

Barapen merupakan salah satu tradisi yang dilakukan oleh masyarakat di beberapa wilayah Wamena, Papua. Tradisi ini umumnya dilakukan oleh masyarakat Suku Dani yang mendiami wilayah dataran tinggi Wamena seperti Lembah Baliem, Paniai, Nabire, Pegunungan Tengah, Pegunungan Bintang, Jayawijaya, Dekai dan Yahukimo. Barapen merupakan sebuah tradisi masak bersama warga satu kampung menggunakan media batu yang dibakar hingga membara, oleh sebab itu tradisi ini juga disebut dengan istilah “Bakar Batu”.

Berdasarkan laman pesona travel, tradisi Barapen ini sudah berlangsung sejak lama bahkan hingga ratusan tahun. Mulanya, sepasang suami istri merasa kebingungan ketika hendak mengolah bahan makanan yang mereka miliki karena tidak ada peralatan. Setelah berpikir cukup panjang, muncullah ide untuk menggunakan batu sebagai media mengolah makanan. Ternyata, mengolah makanan menggunakan bara batu justru menghasilkan cita rasa makanan yang lebih lezat, hingga akhirnya cara tersebut tetap berlangsung hingga kini. Makanan yang dimasak dalam tradisi Barapen sangat bervariasi, mulai dari umbi-umbian hingga daging hewan.

Persiapan sebelum masak bersama | Foto : Intan Jaya Papua

Tata cara melakukan Barapen adalah dimulai dari persiapan yang dilakukan semenjak pagi buta oleh kepala suku yang menggunakan pakaian adat dan berkeliling untuk mengundang semua masyarakat agar berkumpul dan ikut memeriahkan Barapen. Menjelang siang, perburuan dilakukan, biasanya hewan yang diburu adalah babi, namun juga dapat diganti hewan lain. Menurut tradisi, jika hewan buruan yang dipanah langsung mati, maka Barapen akan berlangsung lancar, namun jika hewan buruan tidak langsung mati maka akan ada kendala saat acara berlangsung. Selesai diburu, beberapa masyarakat menerima hewan tersebut dan sebagian masyarakat lainnya menari dan menata batu yang disiapkan menjadi bara.

Batu yang digunakan haruslah batu yang kuat sehingga tidak mudah hancur. Urutan penataan batu tersebut adalah batu kemudian kayu, batu lagi dan kayu lagi ditumpuk hingga jumlah batu yang disiapkan habis. Lamanya waktu yang dibutuhkan untuk membakar batu adalah sekitar dua hingga empat jam. Setelah batu panas membara, masyarakat menyiapkan lubang sedalam 50 cm dengan lebar 4 meter. Batu panas dipindahkan ke lubang tersebut dan bahan makanan siap dimasak menggunakan alas daun pisang. Setelah semua makanan masak, dilanjutkan makan bersama yang diawali oleh kepala suku dan diikuti oleh semua masyarakat. Jika makanan telah habis, warga biasanya menggelar acara menari dengan iringan lagu daerah berjudul Weya Rabo dan Besek.

Makanan yang dimasak pada tadisi Barapen dapat berupa sayuran, umbi dan daging | Foto : Wikimedia Commons

Meskipun terlihat seperti acara masak dan makan bersama biasa, namun di balik tradisi Barapen tersimpan makna yang mendalam. Barapen merupakan cara yang dilakukan untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Sang Pemberi Kehidupan dan simbol solidaritas yang kuat karena semua yang dilakukan pada tradiri Barapen selalu bersama-sama mulai dari berburu hingga makan bersama. Tradisi Barapen biasanya dilakukan pada acara-acara tertentu seperti menyambut kelahiran anak, mengumpulkan prajurit untuk berperang, peringatan kematian bahkan untuk media mendamaikan kelompok yang sedang berselisih. Karena perselisihan dianggap selesai bersamaan dengan selesainya makan bersama sehingga terjalin kerukunan antar masyarakat.

Barapen tidak hanya dilakukan ketika kegiatan dari suku saja, namun juga kerap kali dilakukan pada acara-acara penting lainnya seperi kunjungan tamu-tamu penting, peringatan HUT RI bahkan menyambut bulan ramadhan. Barapen dalam menyambut bulan ramadhan biasanya menggunakan daging ayam atau daging sapi sehingga masyarakat muslim tidak khawatir ketika hendak makan. Oleh sebab itu, Barapen juga merupakan simbol toleransi dan solidaritas.


Catatan kaki: adira | wikipedia

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah jika sakit
  5. Hindari menyentuh wajah
  6. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga29%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang29%
Pilih Tak PeduliTak Peduli14%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi14%
Pilih TerpukauTerpukau14%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Tanah Jawa di Selatan Amerika Sebelummnya

Tanah Jawa di Selatan Amerika

Ketika Para Seniman Ajak Masyarakat Atasi Covid-19 Lewat Pertunjukan Di Dunia Maya Selanjutnya

Ketika Para Seniman Ajak Masyarakat Atasi Covid-19 Lewat Pertunjukan Di Dunia Maya

Wihdi Luthfi
@wihdiluthfi

Wihdi Luthfi

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.