Mengenang Tragedi Tsunami Lewat Museum Tsunami Aceh

Mengenang Tragedi Tsunami Lewat Museum Tsunami Aceh

Tampak depan Museum Tsunami Aceh © sipayo.com

Sudah 15 tahun lamanya sejak tragedi bencana alam melanda sebuah kota yang dijuluki Serambi Mekah, yakni Aceh. Kala itu, gempa bumi berkekuatan 9,1-9,3 skala richter dan tsunami menerjang Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara.

Ketakutan dan kesedihan saat itu menjadi momok yang tidak dapat dilupakan oleh warga Aceh, bahkan Indonesia sekalipun. Dikutip dari History, gempa di Aceh ini menjadi gempa terkuat kedua yang pernah terekam dan menjadi salah satu dari sepuluh bencana terburuk sepanjang masa.

Bagaimana tidak? Tsunami tersebut tidak hanya meluluh lantahkan Aceh, tapi juga hingga bagian negara lain di Asia Tenggara, seperti India, Thailand, Malaysia, Myanmar, Sri Lanka, dan lainnya. Tercatat sekitar 280.000 nyawa melayang di 14 negara dalam tragedi tersebut.

Kondisi Masjid Raya Banda Aceh pasca-tsunami melanda | Foto: Eva M/VOA

Banyak orang yang kehilangan sanak keluarganya serta kehilangan harta benda atas kejadian tersebut. Tangisan, pilu, dan air mata akan selalu membekas dalam ingatan para korban.

Untuk kembali mengenang tragedi tersebut, dibangunlah sebuah museum bernama Museum Tsunami Aceh, yang diresmikan pada 27 Februari 2009 oleh Susilo Bambang Yudhoyono.

Dibangun di atas lahan seluas 2.500 meter persegi, museum ini dirancang oleh Ridwan Kamil selaku mantan walikota Bandung yang memenangkan sayembara. Sayembara tersebut diselenggarakan oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias pada 17 Agustus 2007.

Pembangunan museum ini memakan dana Rp140 miliar dengan hasil yang sangat mengagumkan. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil bangunan yang memiliki dua makna.

Jika dilihat dari bagian atas, museum tersebut merefleksikan gelombang Tsunami. Namun jika dilihat dari bawah atau tampak depan, bangunan ini seperti sebuah kapal penyelamat dengan geladak luas.

Tampak atas desain Museum Tsunami Aceh | Foto: meutiadiary.com

Untuk menuju Museum Tsunami Aceh cukup mudah. Sesuai namanya, museum ini terletak di pusat kota Banda Aceh tepatnya di Jalan Sultan Iskandar Muda, berdekatan dengan Lapangan Blang Padang dan sekitar 400 meter dari Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.

Isi bangunan Museum Tsunami Aceh terdiri dari empat lantai dan memiliki beberapa koleksi yang membahas kejadian tsunami, yaitu dengan total koleksi mencapai 55 unit yang terdiri dari 22 alat peraga, 26 foto, dan 7 maket.

Interior dan eksterior Museum Tsunami Aceh memiliki keindahan dengan tembok yang berkelok dan penuh relief geometrik. Lantainya pun memiliki nilai seni, dirancang seperti rumah tradisional Aceh yang tinggi.

Pada lantai dasar museum terdapat ruang terbuka yang dapat dimanfaatkan sebagai ruang publik. Saat memasuki museum ini, ruang pertama yang akan disinggahi pengunjung adalah ruang renungan.

Dalam ruangan tersebut terdapat sebuah lorong sempit dengan penerangan yang remang. Terdapat suara air yang mengalir di sisi kanan dan kiri lorong yang diibaratkan sebagai gemuruh tsunami saat masa silam.

Lorong museum dengan gemuruh air di sisi kanan dan kiri | Foto: medandailybisnis.com

Setelah melewati ruang renungan, pengunjung akan memasuki ruang kaca yang disebut “Memorial hill” dengan dilengkapi oleh monitor yang bisa digunakan untuk mengakses informasi mengenai peristiwa tsunami.

Setelah melewati ruang memorial hill, pengunjung akan memasuki ruang “The Light of God”, yaitu sebuah ruangan berbentuk sumur silinder yang menyorotkan cahaya. Pada puncak ruangan terlihat kaligrafi arab bertuliskan ALLAH.

Tak hanya itu, pada dinding-dinding ruangan tersebut juga dipenuhi oleh nama-nama korban tsunami yang tewas dalam peristiwa bencana tersebut.

Deretan nama para korban Tsunami Aceh | Foto: Adara/sejarahlengkap.com

Beralih pada lantai dua museum, yaitu akses untuk menuju ke ruang multimedia, seperti ruang audio, ruang 4 dimensi “Tsunami Exhibition Room”, pre-tsunami, while tsunami, dan post-tsunami.

Kemudian di lantai 3 museum ini tersedia beberapa fasilitas-fasilitas, seperti ruang geologi, perpustakaan, musala, dan souvenir.

Di lantai paling atas, difungsikan sebagai tempat penyelamatan darurat atau escape building apabila terjadi tsunami kembali di masa datang. Pada lantai ini tidak dibuka untuk umum karena mengingat konsep keselamatan dan keamanan pengunjung, dan hanya akan dibuka saat keadaan darurat atau dibutuhkan saja.

Pada 2018, Museum Tsunami Aceh terpilih sebagai museum terpopuler dari 400 museum di Indonesia dalam ajang Indonesia Museum Award 2018.

Selain itu, Museum Tsunami Aceh juga memiliki frekuensi kunjungan yang tinggi, tidak hanya pengunjung dari dalam negeri, tapi juga ada dari mancanegara.

Referensi: abulyatama.ac.id | sejarahlengkap.com

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau100%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

6 Ekor Orangutan Dilepasliarkan di Kalimantan Sebelummnya

6 Ekor Orangutan Dilepasliarkan di Kalimantan

Inilah Lele Berwarna Pink Dari Jepara Selanjutnya

Inilah Lele Berwarna Pink Dari Jepara

Dessy Astuti
@desstutt

Dessy Astuti

Literasi-kata.blogspot.com

Si penyuka buku, bakso, dan kucing.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.