Berkapasitas 100 Juta Penumpang, Indonesia akan Miliki Bandara Terbesar di Asia Tenggara

Berkapasitas 100 Juta Penumpang, Indonesia akan Miliki Bandara Terbesar di Asia Tenggara

Ilustrasi © Unsplash.com

Indonesia akan memiliki bandara raksasa. Bandara Soekarno-Hatta bakal mengalahkan bandara internasional besar lainnya di Asia Tenggara seperti Changi Airport di Singapura, Suvarnabhumi Airport di Thailand, dan KLIA di Malaysia. Pembangunan Terminal 4 Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) bakal menambah kapasitas Bandara Soetta secara keseluruhan. Untuk terminal 4 sendiri saja, kapasitas akan bertambah sekitar 40 juta.

Jika digabung dengan Terminal 1, 2, dan 3, maka Bandara Internasional Soekarno-Hatta akan memiliki kapasitas hingga 100 juta penumpang per tahunnya, yakni saat Terminal 4 beroperasi penuh pada 2024. Adapun kapasitas Bandara Changi di Singapura, mengutip hasil penelusuran sinarjambi.com, direncanakan bakal mengembangkan bandara hingga berkapasitas 150 juta penumpang, tapi baru akan beroperasi pada tahun 2030. Sementara Kuala Lumpur Internasional Airport (KLIA) di Sepang, Malaysia, saat ini memiliki kapasitas penumpang sampai 75 juta per tahunnya. Awalnya pengoperasian bandara ini memiliki kapasitas penumpang 30 juta per tahun. Lalu, ada pengembangan terminal kedua yang memiliki kapasitas 45 juta penumpang per tahun.

Sedangkan untuk Suvarnabhumi Airport di Thailand memiliki kapasitas 45 juta penumpang yang bisa dioptimalkan menjadi 60 juta per tahun. Bandara ini akan dikembangkan dan mampu menampung sampai 130 juta penumpang, namun baru akan terealisasi tahun 2030.

Saat ini PT Angkasa Pura II sebagai pengelola Soekarno Hatta baru memulai perancangan desain pembangunan terminal 4. Perancangan dilakukan selama 18 bulan dan mencakup desain perencanaan teknis, struktur pembiayaan/financing dan desain penataan keseluruhan operasional.

Terminal 4 seluas 400.000 meter persegi diproyeksikan mampu melayani hingga 40 juta penumpang per tahun. Adapun terminal 1 dan 2 nantinya setelah revitalisasi masing-masing akan memiliki kapasitas hingga 20 juta penumpang per tahun. Sementara itu, Terminal 3 berkapasitas 25 juta penumpang per tahun.

Sumber: detikfinance.com | Sinarjambi.com

Pilih BanggaBangga73%
Pilih SedihSedih5%
Pilih SenangSenang3%
Pilih Tak PeduliTak Peduli8%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau12%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Jam Berapa Ratangga Bangun dan Tidur? Sebelummnya

Jam Berapa Ratangga Bangun dan Tidur?

Rasakan Sensasi Pedas Inovasi Cabai Carvi Agrihorti Selanjutnya

Rasakan Sensasi Pedas Inovasi Cabai Carvi Agrihorti

Akhyari Hananto
@akhyari

Akhyari Hananto

http://www.goodnewsfromindonesia.org

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to understand it. My banking career continued in Yogyakarta when I joined in a program funded by the Asian Development Bank (ADB),as the coordinator for a program aimed to help improve the quality of learning and teaching process in private universities in Yogyakarta. When the earthquake stroke Yogyakarta, I chose to join an international NGO working in the area of ?disaster response and management, which allows me to help rebuild the city, as well as other disaster-stricken area in Indonesia. I went on to become the coordinator for emergency response in the Asia Pacific region. Then I was assigned for 1 year in Cambodia, as a country coordinator mostly to deliver developmental programs (water and sanitation, education, livelihood). In 2009, he continued his career as a protocol and HR officer at the U.S. Consulate General in Surabaya, and two years later I joined the Political and Economic Section until now, where i have to deal with extensive range of people and government officials, as well as private and government institution troughout eastern Indonesia. I am the founder and Editor-in-Chief in Good News From Indonesia (GNFI), a growing and influential social media movement, and was selected as one of The Most Influential Netizen 2011 by The Marketeers magazine. I also wrote a book on "Fundamentals of Disaster Management in 2007"?, "Good News From Indonesia : Beragam Prestasi Anak Bangsa di dunia"? which was luanched in August 2013, and "Indonesia Bersyukur"? which is launched in Sept 2013. In 2014, 3 books were released in which i was one of the writer; "Indonesia Pelangi Dunia"?, "Indonesia The Untold Stories"? and "Growing! Meretas Jalan Kejayaan" I give lectures to students in lectures nationwide, sharing on full range of issues, from economy, to diplomacy

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.