Penyamei, Si Sinden Bengkulu Tanpa Wajah

Penyamei, Si Sinden Bengkulu Tanpa Wajah

Salah Satu Kesenian Asal Bengkulu © Pedomanbengkulu.com

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠. Rekomendasi lain dari WHO

Bengkulu, daerah yang kaya akan lanskap alam yang memukau dan seni budaya yang artistik. Bagaimana tidak, keelokan pantai pasir putih membuat siapapun ingin mengunjungi surga yang ada di Sumatera ini.

Tak hanya itu, Bengkulu juga dikenal sebagai The Land of Rafflesia arnoldii, atau Bumi Rafflesia. Mengapa? Karena pada tahun 1818 untuk pertama kalinya tanaman raksasa itu ditemukan di Bengkulu, tepatnya di dekat Sungan Manna, Kabupaten Bengkulu Selatan. Keren banget kan?

Bengkulu sendiri terletak di sebelah barat daya pulau Sumatra. Provinsi ini memiliki kehidupan berbudaya yang sangat religius. Wilayah yang memiliki total penduduk sekitar 1.904.793 jiwa ini, memiliki mayoritas warga beragama Islam. Islam sendiri sudah mempengaruhi budaya yang ada di Bengkulu sejak dahulu kala. Seperti tradisi tabut, yang dilaksanakan ketika menjelang tahun baru Islam.

Tapi tak hanya itu, Bengkulu juga punya seorang sinden. Apa yang biasanya terlintas dalam pikiran kita? Seorang yang bernyanyi dengan nada tinggi dan berdandan cantik bukan? Benar, tapi sinden yang dimiliki Bengkulu memang unik.

Penyamei | Foto: Dokumentasi pojokseni.com

Tradisi ini disebut Ngandak. Sebuah seni bernyanyi khas suku Rejang (suku tertua di daerah tersebut) yang ada di Bengkulu. Memang, seni ini adalah akulturasi antara budaya Jawa dan suku Rejang itu.

Pada saat memulai tradisi Ngandak maka seorang perempuan akan bernyanyi, namun dengan wajah yang tidak terlihat, karena ditutupi kipas. Dikabarkan memang sudah secara turun-temurun dilaksanakan seperti itu.

Jadi akan hanya mendengar alunan syair tanpa bisa melihat paras si sinden. Sinden ini disebut Penyamei.

Nyanyian yang ada dalam tradisi ini berisi lirik lirih dan menyayat hati. Lirik tersebut pastinya terlantun dengan menggunakan bahasa Rejang, maka tidak jarang jika seseorang yang paham bahasa Rejang akan menangis saat mendengarkan Penyamei bernyanyi.

Kabarnya kebudayaan dalam tradisi ini sudah makin terkikis dan terlupakan. Sepertinya memang sudah seharusnya kita menanamkan rasa bangga dan hormat setinggi-tingginya kepada budaya yang kita miliki, setuju kan Kawan GNFI?


Referensi: www.pojokseni.com | kupasbengkulu.com | id.wikipedia.org

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah jika sakit
  5. Hindari menyentuh wajah
  6. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Inilah 13 Warisan Budaya Indonesia yang Diakui UNESCO Sebelummnya

Inilah 13 Warisan Budaya Indonesia yang Diakui UNESCO

Jamur Tudung Pengantin, Jamur Cantik yang Tumbuh di Indonesia Selanjutnya

Jamur Tudung Pengantin, Jamur Cantik yang Tumbuh di Indonesia

Raka Nugraha
@rakanugraha

Raka Nugraha

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.