Perjalanan Terakhir Homo Erectus di Tanah Jawa

Perjalanan Terakhir Homo Erectus di Tanah Jawa

Rekonstruksi wajah Homo erectus © Britannica.com

Indonesia kaya akan peninggalan bersejarah umat manusia. Baru-baru ini, sebuah penelitian menunjukkan bahwa Homo Erectus, leluhur manusia, hidup 108.000 hingga 117.000 tahun yang lalu di Ngandong, pulau Jawa, Indonesia.

Antropolog Russel Ciochon dari University of Iowa, ilmuwan yang ikut serta dalam penelitian ini, menjelaskan, "Situs penelitian kami memberikan bukti adanya Homo Erectus terakhir yang diketahui di dunia. Kami tidak mengatakan bahwa ini merupakan bukti tanggal punahnya Homo erectus, tetapi bukti tanggal terakhir kalinya mereka ada. Kami tidak memiliki bukti Homo Erectus masih hidup di tempat lain lebih dari penanggalan ini."

Situs penemuan terakhir kalinya Homo Erectus berjalan-jalan di muka Bumi ini adalah di Ngandong, Jawa Tengah. Pada 18 Desember 2019, University of Iowa menerbitkan makalah penelitian mengenai studi baru ini, yang dipimpin oleh Yan Rizal dari Institut Teknologi Bandung. Temuan ini kemudian diterbitkan pada hari yang sama di jurnal Nature.

Homo Erectus sendiri muncul di Benua Afrika sekitar dua juta tahun yang lalu, kemudian menyebar ke seluruh Asia dan Eropa. Sekitar 400.000 tahun yang lalu, kerabat awal manusia modern ini sebagian besar telah menghilang.

Namun, di Ngandong, Homo Erectus rupanya masih ada pada 117.000 hingga 108.000 tahun yang lalu. Di mana pada waktu yang sama ketika itu, manusia modern mulai berkeliaran di Afrika, dan Neanderthal tinggal di Eropa.

Fosil-fosil di Ngandong sendiri ditemukan pada tahun 1930-an oleh penjelajah Belanda. Dengan menggunakan catatan penelitian yang ditinggalkan oleh para penjelajah awal ini, Rizal dan rekan-rekannya dalam studi baru ini meneliti fosil Homo erectus (12 tengkorak dan dua tibia) yang telah ditemukan.

Pada 2008 dan 2010, tim ilmuwan ini juga sempat menggali situs bersejarah itu untuk mengumpulkan fragmen fosil hewan untuk tujuan pencocokan.

Rentang usia baru untuk fosil Homo Erectus dalam penelitian ini ditentukan dengan menggunakan dua strategi; Selain melalui penanggalan fosil hewan, para ilmuwan juga mencocokkan rentang tanggal dengan penanggalan geologi dari bebatuan di pinggir sungai yang ada di bawah dan di atas tempat penemuan fosil.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih100%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Jejak Del Piero di Gereja NTT Sebelummnya

Jejak Del Piero di Gereja NTT

Islamic Center Indonesia akan Dibangun di Kota Dingin di AS Selanjutnya

Islamic Center Indonesia akan Dibangun di Kota Dingin di AS

Riza Miftah Muharram
@rizamuharram

Riza Miftah Muharram

Manusia biasa yang suka membaca dan menulis. Pengagum bahasa-bahasa di dunia, terutama Bahasa Indonesia.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.