10 Tahun Lagi, MRT Jakarta Akan Sepanjang 230 km. Mungkinkah?

10 Tahun Lagi, MRT Jakarta Akan Sepanjang 230 km. Mungkinkah?

MRT Jakarta © Wikimedia Commons

Pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) koridor utara-selatan masih terus berlangsung. Saat ini sudah mencapai fase II, yaitu rute Bundaran HI sampai Jakarta Kota. Ke depan, moda transportasi ini rencananya akan dikembangkan menyeluruh di Jabodetabek. Ditargetkan Jakarta dan wilayah sekitarnya akan memiliki MRT dengan panjang jalur mencapai 230 km.

Direktur Utama PT MRT Jakarta William P Sabandar menjelaskan, target pembangunan jalur MRT sepanjang 230 km itu merupakan rencana jangka panjang. Ditargetkan bisa tercapai pada 2030 atau sekitar 10 tahun mendatang. William menjelaskan, pembangunan jalur MRT 230 km itu akan dilakukan dengan pendekatan paralel. Artinya MRT Jakarta akan membangun secara bertahap dan berkelanjutan

“Karena kan ada MRT line 1 sampai line 10 untuk 230 km. Itu sedang kita dibantu konsultan Jepang. Kemudian mendesain, keluar angka untuk Jakarta 230 km,” ujarnya.

MRT Jakarta akan mencontek cara pembangunan MRT di New Delhi. Di sana, kata William pembangunannya dilakukan langsung oleh pemilik dan pengelola MRT-nya.

Berdasarkan perhitungan awal, untuk membangun jalur MRT di Jakarta dan sekitarnya membutuhkan dana sekitar Rp 250 triliun.

MRT Jakarta | Wikimedia Commons

Untuk dana tersebut ke depannya MRT Jakarta tidak lagi menggunakan pinjaman bertahap dari Japan Internasional Cooperation Agency (JICA). Dengan begitu pihak MRT Jakarta tidak lagi diharuskan menggunakan kontraktor Jepang dan komponen bangunan dari Jepang.

“Kita ambil pinjamannya saja dengan jumlah tertentu. Kita tidak ambil 100% Sebagian dari pemerintah, sebagian dari pengembangan TOD,” terangnya.

Pembangunan jalur MRT 230 km itu nantinya akan berasal dari pinjaman, kemudian suntikan ekuitas dari pemerintah dan sisanya dari hasil pembangunan dan pengelolaan Transit Oriented Development (TOD) di stasiun-stasiun MRT.

Menurutnya saat ini sudah ada dua pihak pemberi pinjaman yang sudah bertemu dengan MRT Jakarta, yakni Asian Development Bank (ADB) dan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB). Pihak MRT sendiri membuka peluang untuk pihak pemberi pinjaman lainnya.

Corporate Secretary PT MRT Jakarta Muhammad Kamaluddin mengatakan, saat ini yang pasti adalah rute Selatan-Utara dan Timur-Barat. Untuk pembangunan MRT fase Timur-Barat yang akan menghubungkan Kalideres dengan Ujung Genteng akan ditargetkan mulai 2020 mendatang dan tengah menyelesaikan pencarian sumber pendanaan yang memungkinkan dalam pembiayaan proyek tersebut.

“Fase ini biaya investasi yang diperlukan untuk membangunnya mencapai US$4 miliar atau sekitar Rp56 triliun. Jalur dengan panjang 31 km ini dibagian tengah dibangun underground dan sebagian elevated. Banyak elevated,” jelas William.

Untuk diketahui berikut daftar 10 line MRT Jakarta yang mencakup target pembangunan 230 km jalur baru hingga 2030 mendatang:
Lebak Bulus-Ancol Barat
Cikarang-Balaraja
Bandara Soetta-Kampung Bandan
Cilincing-Lebak Bulus
Karawaci-Senayan-Cawang-Cikarang
Lebak Bulus-Rawa Buntu-Karawaci
Bekasi Utara-Bekasi Selatan
Pluit-Grogol-Kuningan-Depok
Outer loopline
Inner loopline

Pilih BanggaBangga14%
Pilih SedihSedih14%
Pilih SenangSenang29%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi14%
Pilih TerpukauTerpukau29%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Bandara Terbesar Kedua di Indonesia akan Segera Punya Kereta Bandara Sebelummnya

Bandara Terbesar Kedua di Indonesia akan Segera Punya Kereta Bandara

Islamic Center Indonesia akan Dibangun di Kota Dingin di AS Selanjutnya

Islamic Center Indonesia akan Dibangun di Kota Dingin di AS

Akhyari Hananto
@akhyari

Akhyari Hananto

http://www.goodnewsfromindonesia.org

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to understand it. My banking career continued in Yogyakarta when I joined in a program funded by the Asian Development Bank (ADB),as the coordinator for a program aimed to help improve the quality of learning and teaching process in private universities in Yogyakarta. When the earthquake stroke Yogyakarta, I chose to join an international NGO working in the area of ?disaster response and management, which allows me to help rebuild the city, as well as other disaster-stricken area in Indonesia. I went on to become the coordinator for emergency response in the Asia Pacific region. Then I was assigned for 1 year in Cambodia, as a country coordinator mostly to deliver developmental programs (water and sanitation, education, livelihood). In 2009, he continued his career as a protocol and HR officer at the U.S. Consulate General in Surabaya, and two years later I joined the Political and Economic Section until now, where i have to deal with extensive range of people and government officials, as well as private and government institution troughout eastern Indonesia. I am the founder and Editor-in-Chief in Good News From Indonesia (GNFI), a growing and influential social media movement, and was selected as one of The Most Influential Netizen 2011 by The Marketeers magazine. I also wrote a book on "Fundamentals of Disaster Management in 2007"?, "Good News From Indonesia : Beragam Prestasi Anak Bangsa di dunia"? which was luanched in August 2013, and "Indonesia Bersyukur"? which is launched in Sept 2013. In 2014, 3 books were released in which i was one of the writer; "Indonesia Pelangi Dunia"?, "Indonesia The Untold Stories"? and "Growing! Meretas Jalan Kejayaan" I give lectures to students in lectures nationwide, sharing on full range of issues, from economy, to diplomacy

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.