Listrik Seluruh Penduduk di Dua Desa ini 'Dibangkitkan' dari Air dan Matahari

Listrik Seluruh Penduduk di Dua Desa ini 'Dibangkitkan' dari Air dan Matahari

illustration © Unsplash.com

Kabut tebal masih menyelimuti rumah-rumah penduduk pagi di penghujung 2019. Suara burung silih berganti. Jalan kampung dan dedaunan tampak masih basah sisa hujan semalam. Inilah suasana di Dusun Tangkam Pulit, Desa Tangkam Pulit, Kecamatan Batulanteh, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Rumah-rumah penduduk di dusun ini rumah panggung dari kayu. Tertata rapi. Setiap gang dan blok berdiri beberapa rumah. Antara rumah satu dengan yang lain saling berhadapan. Kita bisa melihat tetangga di depan duduk di beranda rumah.

Di bagian bawah rumah, warga jadikan gudang tempat memarkir kendaraan. Sebagian tersekat jadi kamar mandi.

Rumah H Abdul Halim, tempat saya menginap paling terang saat malam. Dia menyediakan genset, khusus ketika ada tamu datang. Baterai listrik di rumah itu tidak cukup kalau ada tamu menginap. Dia juga ingin memastikan seluruh kamera, HP tersisi penuh.

Sejak dua tahun lalu, sinyal telepon seluler sudah masuk ke dusun ini. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) memasang satelit khusus untuk membantu menangkap sinyal. “Hanya bisa nelpon dan SMS. Tidak bisa untuk internet,’’ katanya.

Rumah penduduk di Dusun Musuk Desa Tangkam Pulit berada di punggung bukit. Hutan di desa ini masih terjaga kelestariannya. Foto: Fathul Rakhman/Mongabay Indonesia

Halim menghidupan genset karena pembangkit listrik mikro hidro (PLMTH) di Desa Tangkam Pulit sedang diperbaiki. Ketika musim hujan pertama, arus air sangat besar karena kurang kontrol masuk turbin. Sempat terjadi korsleting. Kini, masih cari pengganti alat yang rusak Sumbawa Besar, ibukota Sumbawa.

Kalau PLTMH tak rusak, warga di tiga dusun di Desa Tangkam Pulit, yakni Dusun Musuk, Sukamaju, dan Tangkam Pulit, menikmati listrik sepanjang hari. Sepanjang tahun. Nyaris tidak ada mati listrik. Pengelola PLTMH dari warga setempat mengatur jadwal agar sepanjang hari warga menikmati listrik.

Malam hari, saat beban puncak, mesin saklar di PLTMH selalu hidup. Listrik menyala mulai pukul 18:00-06:00 pagi. Setelah itu, listrik PLTMH ke rumah warga dimatikan. Sepanjang malam, warga mengisi baterai cadangan. Baterai inilah yang memenuhi kebutuhan listrik pada pagi hari. Biasa hanya untuk mengisi baterai HP. Pagi hingga sore, warga menghabiskan waktu di ladang dan kebun.

Mobil yang kami kendarai melewati sungai. Dari Desa Tepal ke Desa Tangkam Pulit harus melewati empat sungai. Tidak ada jembatan. Sungai inilah yang mengalir ke turbin PLTMH. Foto: Fathul Rakhman/Mongabay Indonesia

Selain baterai dari sumber listrik PLTMH, warga juga mengisi baterai lain dari panel pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Panel PLTS ini dipasang di atap rumah. Panel PLTS itu bantuan pemerintah dalam memenuhi keperluan listrik masyarakat di daerah terpencil.

“PLTS ini sebelum PLTMH. Dua-duanya dipakai. Saat PLTMH gangguan, PLTS ini bisa untuk penerangan,’’ katanya.

Setiap bulan warga rata-rata membayar Rp10.000 untuk iuran PLTMH. Iuran itu untuk perawatan dan petugas yang berjaga.

Selama Desember 2019, ketika ada kerusakan alat, uang iuran itulah untuk membeli peralatan. Kalau ada biaya tambahan, warga rapat. Rapat biasa di mesjid di tiap kampung guna memutuskan iuran tambahan.

Merawat hutan, menjaga mata air

PLTMH di Desa Tepal dan Desa Tangkam Pulit, bisa memenuhi kebutuhan listrik seluruh warga karena debit air terpenuhi. Pada musim kemarau, saat debit sungai di daerah lain berkurang bahkan kering, di dua desa ini tetap teraliri. Dari sungai ini, air mengalir melalui saluran irigasi. Air juga mengalir ke turbin PLTMH. Daya dari perputaran turbin itulah yang jadi listrik yang juga disimpan dalam baterai besar dalam turbin. Ketika turbin istirahat, masih ada cadangan listrik. Begitu juga warga, mereka memiliki baterai di rumah masing-masing, lebih dari satu.

Sebelum ada PLTS dan PLTMH, warga dua desa ini hanya membayangkan listrik. Berpuluh-puluh tahun mereka tak menikmati listrik. Listrik jadi barang mewah. Mereka hanya bisa menikmati listrik ketika berkunjung ke ibukota kecamatan. Di rumah-rumah masih pakai lampu teplok. Kemudian, masuk program PLTS. Satu persatu warga membeli TV. Mereka juga membeli HP—sebelum masuk sinyak–, mereka gunakan di tempat tertentu.

Air berlimpah di desa ini jadi potensi energi listrik. Lewat program desa mandiri energi, pemerintah membangun power house untuk PLTMH. Mesin turbin dibawa dari Sumbawa dengan mobil modifikasi. Mobil yang bisa naik hanya roda berpenggerak 4X4. Itupun dengan modifikasi. Medan berat membuat pengangkutan peralatan PLTMH memakan waktu lama dan biaya tak sedikit.

“Setelah ada PLTMH ini barulah rasanya kita merdeka,’’ kata Halim.

Warga sadar, turbin PLTMH akan terus berputar kalau air terpenuhi. Warga pun menjaga debit air sungai yang jadi sumber air penggerak turbin. Tidak boleh ada penebangan di hulu sungai. Walaupun di hulu kebun warga, tidak boleh menebang pepohonan sekitar mata air atau aliran air.

Dengan cara mempertahankan ketersediaan air, sepanjang tahun warga Tepal dan Tangkam Pulit, bisa menikmati listrik murah.

“Kalau dibandingkan listrik PLN di kota, lebih murah PLTMH ini. Apalagi PLTS, gratis,’’ katanya.

Sejak masuk PLTS dan PLTMH, ditambah jaringan sinyal seluler, warga merasa lebih sejahtera. Mereka tahu informasi melalui televisi. Mereka bisa mengisi baterai HP dan bisa berkomunikasi dengan dunia luar.

Halim membandingkan, dulu kalau ingin menjual kopi harus ke kota atau menunggu pembeli datang ke desa. Kini, dengan ada listrik dan jaringan telepon, dia bisa menghubungi calon pembeli termasuk para calon pembeli. Tawar menawar sudah melalui telepon, tinggal menunggu waktu kedatangan pembeli.

“Sangat dimudahkan, terutama komunikasi dan informasi,’’ katanya.

Tak mau jalan mulus dan tanam jagung

Jarak dari ibukota kabupaten ke Desa Tepal sekitar 40 km, ke Desa Tangkam Pulit sekitar 60 km. Karena medan jalan berat, perjalanan dari ibukota kabupaten ke Tangkam Pulit ditempuh dalam 10 jam. Sebuah perjalanan yang menyeramkan.

Jalan aspal hanya sampai Dusun Punik, Desa Batu Dulang, Kecamatan Batulanteh. Setelah itu, jalan tanah. Jalan tanah berlumpur, di beberapa titik berbatu. Ketika musim hujan, jalan tanah berlumpur itu jadi kubangan. Sangat sulit dilewati, bahkan dengan jalan kaki sekalipun. Sementara jalan yang berbatu, lebih tepatnya tumpukan batu besar sebagai jalan itu licin. Mobil dan motor harus memasang rantai di roda agar bisa melewati jalan ini.

Pisang jadi tanaman sela di kebun warga di Desa Tangkam Pulit. Hasil utama mereka adalah kopi. Foto: Fathul Rakhman/Mongabay Indonesia

Dari Tepal ke Tangkam Pulit, lebih berat lagi. Selain melewati jalan licin dengan tebing di sisi jalan, kendaraan juga harus melewati sungai. Tidak ada jembatan. Kalau air sungai meluap, pengendara terpaksa berhenti. Karena itulah ketika perjalanan akhir Desember 2019 itu, sopir mengingatkan bisa saja menginap di perjalanan kalau air sungai meluap.

“Dari sungai ini menjuju turbin,’’ kata Lukman, asisten sopir menunjuk ke balik bukit ketika saya menanyakan papan kecil yang bertuliskan PLTMH.

“Itu sumber listrik di Desa Tepal,’’ katanya.

Menurut warga Tepal dan Tangkam Pulit, jalan rusak ini di satu sisi menjadi kelebihan desa mereka. Jalan rusak ini mengakibatkan jarang orang luar datang. Tidak ada orang luar yang membeli tanah. Selain itu, jalan rusak ini juga mempersulit pembalakan liar.

“Bandingkan dengan Dusun Sukamaju, di sana jalan sudah agak bagus karena ada yang bawa alat berat.Sering kita dengar suara chinsaw,’’ kata Halim, warga Tangkam Pulit.

Halim termasuk tokoh masyarakat Tangkam Pulit yang menolak program jagung. Dia khawatir, kalau banyak bibit jagung masuk ke Tangkam Pulit, akan merusak lingkungan.

Dia bandingkan dengan bukit-bukit di Desa Batu Dulang, Kecamatan Batulanteh yang sebagian sudah rusak akibat jagung. Kopi dan kemiri ditebang, berganti jagung. Hasil jagung lebih cepat panen, tetapi dampak lingkungan buruk.

“Di daerah-daerah banjir di Sumbawa ini kan karena bukit habis tanam jagung.”

Republished dari Mongabay Indonesia atas dasar MOU GNFI dari Mongabay.co.id

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Le Wuni, Sendu Duka Syair Wamena Sebelummnya

Le Wuni, Sendu Duka Syair Wamena

Biar Anak Anda Sukses di Sekolah & di Kehidupan, Ini 3 Tipsnya Selanjutnya

Biar Anak Anda Sukses di Sekolah & di Kehidupan, Ini 3 Tipsnya

Akhyari Hananto
@akhyari

Akhyari Hananto

http://www.goodnewsfromindonesia.org

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to understand it. My banking career continued in Yogyakarta when I joined in a program funded by the Asian Development Bank (ADB),as the coordinator for a program aimed to help improve the quality of learning and teaching process in private universities in Yogyakarta. When the earthquake stroke Yogyakarta, I chose to join an international NGO working in the area of ?disaster response and management, which allows me to help rebuild the city, as well as other disaster-stricken area in Indonesia. I went on to become the coordinator for emergency response in the Asia Pacific region. Then I was assigned for 1 year in Cambodia, as a country coordinator mostly to deliver developmental programs (water and sanitation, education, livelihood). In 2009, he continued his career as a protocol and HR officer at the U.S. Consulate General in Surabaya, and two years later I joined the Political and Economic Section until now, where i have to deal with extensive range of people and government officials, as well as private and government institution troughout eastern Indonesia. I am the founder and Editor-in-Chief in Good News From Indonesia (GNFI), a growing and influential social media movement, and was selected as one of The Most Influential Netizen 2011 by The Marketeers magazine. I also wrote a book on "Fundamentals of Disaster Management in 2007"?, "Good News From Indonesia : Beragam Prestasi Anak Bangsa di dunia"? which was luanched in August 2013, and "Indonesia Bersyukur"? which is launched in Sept 2013. In 2014, 3 books were released in which i was one of the writer; "Indonesia Pelangi Dunia"?, "Indonesia The Untold Stories"? and "Growing! Meretas Jalan Kejayaan" I give lectures to students in lectures nationwide, sharing on full range of issues, from economy, to diplomacy

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.