Zubir Said, Orang Indonesia di Balik Lagu Kebangsaan Singapura

Zubir Said, Orang Indonesia di Balik Lagu Kebangsaan Singapura

Zubir Said © straitstimes.com

"Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung" Sebuah pepatah Melayu yang menjadi landasan dan filosofi dalam karya megahnya bagi kelahiran negeri Singapura.

Zubir Said, seorang komponis kelahiran Minangkabau yang memiliki jasa besar dan dihargai sebagai seniman legendaris dalam karyanya terhadap nilai-nilai kebudayaan Melayu di sana.

Setelah kematiannya (1987), pada tahun 2004 pemerintah Singapura mendirikan sebuah patung perunggu seharga $20.000 yang membentuk tubuh dirinya. Selain itu penghargaan yang ia terima lainnya adalah terbitnya sebuah buku tentang dirinya yang berjudul Zubir Said: Lagu-lagunya.

Lantas bagaimanakah hingga dirinya menjadi seorang di balik terciptanya lagu kebangsaan Singapura?

Pada tahun 1928, putra Minang ini pergi meninggalkan tanah Sumatera untuk mencari kehidupan di Singapura. Ia tergiur akan sebuah julukan bahwa Singapura adalah "Tempat yang Bergemerlapan, Kopi, Susu dan Mentega". Atau sebuah tawaran dengan apa yang mungkin tidak bisa ia peroleh pada masa itu di daerah asalnya.

Di sana Zubir belajar mengenal notasi nada dan memperdalam ilmu musiknya. Ia bergabung dengan Wayang Bangsawan City Opera (teater rakyat yang terkenal di kawasan Brunei Darussalam dan Tanah Melayu).

Tak lama kemudian Zubir bekerja sebagai supervisor rekaman di HMV (His Master's Voice), sebuah perusahaan rekaman milik Inggris di Singapura.

Zubir memutuskan untuk menetap di Singapura pada tahun 1947 bersama istri tercintanya, Tarminah Kario Wikromo. Dari situ ia mencoba untuk bekerja di surat kabar Utusan Melayu, agar dirinya memiliki kesempatan lebih untuk bermain musik dan menuliskan lagu-lagunya pada surat kabar tersebut.

Zubir Said | Foto: straitstimes.com

Akhirnya pada tahun 1949, setelah dikenalkan dengan industri film oleh Shaw Brothers, Zubir dipercaya untuk menjadi komposer pada lagu-lagu film Malaysia.

Tak lama kemudian ia bertemu dengan Cathay Keris ia bergerak untuk menjadi pembuat lagu untuk produksi film di Singapura.

Setelah bergerak pada dunia perfilman, pada tahun 1957, karya musiknya dipentaskan di Teater Victoria. Pada tahun 1958, Ong Pang Boon, Wakil Wali Kota Dewan Kota Singapura, meminta Zubir menulis lagu berjudul "Majulah Singapura". Dan lagu itu akan dipentaskan di panggung teater, waktu itu dibawakan pertama kali oleh ensemble Kamar Dagang Singapura.

Ketika Singapura mulai menjalankan pemerintahan sendiri pada 1959, pemerintah merasakan perlunya lagu kebangsaan untuk mempersatukan perbedaan ras di Singapura.

Lagu Majulah Singapura yang telah populer terpilih untuk diangkat sebagai lagu kebangsaan.

Setelah beberapa revisi, komposisi Zubir disetujui secara bulat oleh Dewan Perwakilan Rakyat pada 11 November 1959, dan pada 30 November 1959 peraturan mengenai lambang negara, bendera, dan lagu kebangsaan Singapura disahkan.

Nah, itu dia cerita singkat dari seorang berdarah asli Indonesia, berkontribusi terhadap keperluan penting bangsa lain. Berikut lagu kebangsaan Singapura ciptaan beliau:

Referensi: id.wikipedia.org

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau100%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Yufi Eko Firmansyah

Mengulas Generasi Kembali ke Akar Bersama Pakarnya Sebelummnya

Mengulas Generasi Kembali ke Akar Bersama Pakarnya

3 Tips Public Speaking Agar Anak Anda Makin Percaya Diri Selanjutnya

3 Tips Public Speaking Agar Anak Anda Makin Percaya Diri

Raka Nugraha
@rakanugraha

Raka Nugraha

I'm curios about everything, and i'm support the indonesian good news!

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.