Potensi Ekonomi Baru dari Kota Batu

Potensi Ekonomi Baru dari Kota Batu

Bunga Pikok © Falahi Mubarok

Lelaki berkulit sawo matang itu tampak lihai memotong tanaman mungil dengan mahkota yang memiliki warna ungu di lahan miliknya di Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur. Tanaman itu merupakan bunga peacock atau dikenal juga dengan pikok (Aster sp.).

Batang demi batang bunga yang mempunyai warna putih dan pink muda itu dia kumpulkan. Hingga ratusan batang, kemudian dia bawa ke pematang sawah menyusul bunga pikok lain yang sudah dipotong dan ditumpuk sebelumnya.

Berbekal gunting, pria berkumis hitam keputihan ini cekatan mengumpulkan bunga yang merupakan keluarga dari bunga aster tersebut. Setelah itu bunga dirapikan lalu diikat sebelum dia kirim ke pengepul. “Satu ikat ini dari petani harganya Rp10 ribu. Nanti di pengepul, satu ikatnya dibagi dua,” ujar Wasianto, salah satu petani bunga pikok yang ditemui Jumat (03/01/2020) disela-sela merapikan bunga di lahan 600 meter persegi miliknya itu.

Bunga pikok dipilih untuk dibudidayakan, lanjutnya, karena harganya lebih stabil dibandingkan sayur-sayuran seperti kubis, brokoli, selada, dll. Jika mengalami penurunan harga pun tidak drastis. Namun, pada saat pemotongan juga harus memperhatikan batang. Semakin pendek batang yang dipotong harganya semakin murah.

Menurut Wasianto harga bunga ini bisa stabil karena permintaan selalu ada. Selain itu ditingkat petani, bunga ini masih sedikit diminati daripada bunga mawar (Rosa) maupun bunga krisan (Chrysanthemum).

Peluang Usaha

Untuk mendapatkan bunga pikok yang baik, perlu memperhatikan perawatannya yang baik juga. Suharno, petani lain mengatakan bunga pikok menjadi pilihan karena menurutnya perawatan lebih mudah. Selain itu biaya perawatan lebih murah.

“Awalnya saya menanam sayur, tapi sekarang ini lebih ke bunga pikok karena perawatannya juga tidak seberapa susah, harganya stabil,” kata pria 47 tahun ini. Baginya, peluang usaha budidaya bunga pikok sangat menjanjikan dan juga menguntungkan. Saat memulainya juga tidak sulit. Bisa dimulai dengan modal yang kecil. Untuk lahan juga bisa dilakukan dipekarangan rumah ataupun lahan kecil.

Seorang petani memanen bunga pikok di lahan miliknya di Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur. Foto : Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

Pemasaran bunga ini juga tidak sulit. Bisa langsung ke pengepul maupun dijual ke pasar. Selain permintaan untuk tanaman hias bunga pikok sudah menjadi kebutuhan bagi warga yang sedang menikah, bunga ini biasa digunakan sebagai salah satu bahan untuk membuat dekorasi. Dengan tampilanya yang cantik bunga potong ini memang selalu dicari dan juga dibutuhkan.

Bunga berwarna-warni ini pun biasa digunakan untuk bunga papan, hiasan ruangan, rangkaian bunga, dan juga buket. “Jika ditaruh di dalam air bunga pikok bisa bertahan sampai 10 hari. Kebanyakan digunakan untuk nikahan dan ucapan-ucapan,” imbuhnya.

Suharno mengaku menanam bunga pikok hanya untuk usaha sampingan. Namun, baginya hasilnya sangat menguntungkan. Sedangkan pekerjaan utamanya pendekorasi nikahan. Di lahannya berukuran 500 meter persegi itu dia bisa panen seminggu dua kali. Sekali panen minim mendapatkan 50 ikat, yang dijual Rp10 ribu per ikatnya. Jadi, sekali panen bisa mengantongi Rp500 ribu atau satu juga seminggu.

Pada bulan-bulan tertentu, lanjutnya, permintaan bunga pikok menurun, seperti saat puasa dan bulan suro dalam perhitungan Jawa. Karena pada bulan itu tidak ada acara nikahan. Puncak ramai permintaan terjadi pada bulan maulid dalam perhitungan kalender bulan Islam.

Potensi Wisata

Pertanian bunga potong (florikultura) merupakan bagian dari subsektor pertanian hortikultura. Tingginya kebutuhan masyarakat untuk menggunakan bunga potong dalam berbagai kesempatan serta masa panen yang singkat, menyebabkan pertanian bunga potong sangat potensial untuk dikembangkan.

Petani membawa bunga pikok untuk dirapikan kemudian diantarkan ke pengepul. Pada bulan-bulan tertentu permintaan bunga pikok menurun. Foto : Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

Andi Susilo (40), Kepala Desa Gunungsari saat ditemui Mongabay, Selasa (21/01) saat ini bunga pikok semakin diminati para petani. Banyak petani yang mulai beralih pola tanam dari sayur-sayuran ke bunga potong, salah satunya bunga pikok ini. Dulu pernah direncanakan untuk membuat taman seperti padang rumput yang berasal dari bunga pikok, apalagi warna bunga yang beragam akan menjadi daya tarik tersendiri. Seperti warna putih, kuning, biru.

Dia berencana membuat kebun budi daya bunga pikok sebagai tempat wisata untuk swafoto bagi wisatawan lokal maupun wisatawan luar daerah. Wisata desa tentunya akan mengangkat nama desa setempat, dan yang lebih penting masyarakat bisa menikmati hasilnya. Harapanya perekonomiannya bisa terbantu.

“Insya Allah nanti rencananya akan kami buat rest area, hanya masih terkendala dengan lahan” kata Andi. Secara ekonomis, bunga pikok ini bisa membantu perekonomian petani sekitar. Permintaan juga meningkat seiring waktu, seperti halnya bunga mawar. Untuk bunga pikok ini dikirim ke kota-kota besar seperti Malang, Surabaya, Bandung dan Semarang.

==

Republished dari Mongabay.co.id atas kerjasama GNFI dengan Mongabay Indonesia

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang25%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi50%
Pilih TerpukauTerpukau25%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Dari Titik di Gunung Timau ini, Tata Surya Bisa Dilihat Dari Segala Penjuru Sebelummnya

Dari Titik di Gunung Timau ini, Tata Surya Bisa Dilihat Dari Segala Penjuru

Biar Anak Anda Sukses di Sekolah & di Kehidupan, Ini 3 Tipsnya Selanjutnya

Biar Anak Anda Sukses di Sekolah & di Kehidupan, Ini 3 Tipsnya

Akhyari Hananto
@akhyari

Akhyari Hananto

http://www.goodnewsfromindonesia.org

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to understand it. My banking career continued in Yogyakarta when I joined in a program funded by the Asian Development Bank (ADB),as the coordinator for a program aimed to help improve the quality of learning and teaching process in private universities in Yogyakarta. When the earthquake stroke Yogyakarta, I chose to join an international NGO working in the area of ?disaster response and management, which allows me to help rebuild the city, as well as other disaster-stricken area in Indonesia. I went on to become the coordinator for emergency response in the Asia Pacific region. Then I was assigned for 1 year in Cambodia, as a country coordinator mostly to deliver developmental programs (water and sanitation, education, livelihood). In 2009, he continued his career as a protocol and HR officer at the U.S. Consulate General in Surabaya, and two years later I joined the Political and Economic Section until now, where i have to deal with extensive range of people and government officials, as well as private and government institution troughout eastern Indonesia. I am the founder and Editor-in-Chief in Good News From Indonesia (GNFI), a growing and influential social media movement, and was selected as one of The Most Influential Netizen 2011 by The Marketeers magazine. I also wrote a book on "Fundamentals of Disaster Management in 2007"?, "Good News From Indonesia : Beragam Prestasi Anak Bangsa di dunia"? which was luanched in August 2013, and "Indonesia Bersyukur"? which is launched in Sept 2013. In 2014, 3 books were released in which i was one of the writer; "Indonesia Pelangi Dunia"?, "Indonesia The Untold Stories"? and "Growing! Meretas Jalan Kejayaan" I give lectures to students in lectures nationwide, sharing on full range of issues, from economy, to diplomacy

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.