Pantai Ombak Mati, Cuilan Surga yang Bersahaja

Pantai Ombak Mati, Cuilan Surga yang Bersahaja

© www.instagram.com/thisiswulanjarii/

Waktu menunjukkan pukul 14.00 WIB ketika kami tiba. Beberapa kendaraan terparkir rapi di sekitar area parkir Pantai Ombak Mati, pantai yang hanya sejauh 25 kilometer dari jantung Kabupaten Jepara. Menginjakkan kaki di pasir yang terasa panas, kami pun segera berjalan menuju warung tepat di tepi pantai, untuk beristirahat sembari menghindar dari sinar matahari yang cukup menyengat.

Beberapa menit kemudian aroma semerbak dari ikan yang dibakar mulai menggoda perut. Tanpa berpikir panjang, kami pun mendatangi pemilik warung untuk memesan kuliner laut yang ia sediakan. Pemilik warung lantas membuka freezer yang berisi berbagai macam ikan beku sambil mempersilahkan kami untuk memilih.

Setelah melempar beberapa pertanyaan, kami pun memilih tiga ikan bakar dan dua ikan goreng berukuran besar, lengkap dengan sambal dan lalapan, untuk mengganjal tujuh perut yang mulai keroncongan.

Pantai Ombak Mati dengan hasil lautnya yang melimpah | Foto: www.instagram.com/thisiswulanjarii/

Menunggu pesanan datang, kami berjalan berkeliling pantai. Tentunya sambil berjalan di bawah pohon ketapang yang berjajar rapi, untuk menghindari teriknya sinar matahari. Di depan kami, terhampar pantai berpasir putih sepanjang dua kilometer, yang dilengkapi dengan berbagai bentuk ayunan dan spot instagrammable untuk berswafoto.

Dari kejauhan tampak PLTU Tanjung Jati B, yang kabarnya merupakan PLTU terbesar kedua setelah PLTU Paiton. Dua pipa besar menjulang, mengepulkan asap tanpa henti. Bonus pemandangan yang sangat cantik. Puas memandang sekeliling, kami pun melanjutkan perjalanan untuk menyusuri pantai yang terletak di Desa Bondo, Kecamatan Bangsri, Kabupaten Jepara ini. Hingga akhirnya menemukan makam keramat, yang kemudian kami ketahui sebagai Makam Mbah Suto, Ulama penyebar Agama Islam di Desa Bondo.

Tak lama kemudian pemilik warung memanggil dan mempersilakan makan. Kami lantas menyerbu ikan tersebut. Suapan pertama, kelezatan menggelitik lidah kami, tanpa menunggu lama, semua pesanan tersebut segera kita habiskan.

Memiliki permukaan dangkal, Pantai Ombak Mati sangat aman untuk berenang - © www.instagram.com/thisiswulanjarii/

Tepat pukul 16.00 WIB, pantai mulai dipenuhi oleh wisatawan. Beberapa berswafoto, beberapa berendam, dan terlihat pula anak-anak yang berenang hingga ke tengah pantai, baik yang menggunakan ban sebagai pelampung, maupun yang berenang bebas. Pantai ini memang sangat aman, nyaris tidak ada ombak yang menderu. Itulah mengapa dinamakan Pantai Ombak Mati, yakni karena airnya sangat tenang menyerupai danau. Banyaknya wisatawan yang berendam juga tak lepas dari mitos jika air pantai ini dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Kami pun mulai menyusul berendam. Di sini, air sangat jernih. Terlihat beberapa biota laut yang berenang di sela-sela kaki, dan yang mengejutkan, pantai ini ternyata sangat dangkal, hingga kami pun semakin berjalan ke tengah. Puas berendam, kami menepi untuk mengeringkan tubuh yang basah. Tanpa sengaja, mata kami bertatapan dengan seorang nelayan yang membawa beberapa hasil tangkapan.

Kami berbincang, rupanya pantai ini memiliki banyak sekali hasil laut. Tak heran jika di sekeliling kami terdapat banyak tambak, dan kapal-kapal yang bersandar, menunggu waktu berlayar. Bapak yang memperkenalkan diri sebagai Pak Giri menuturkan jika hari ini ia tidak sedang melaut. Hasil tangkapan tersebut ia dapatkan dari tepi laut, untuk dikonsumsi keluarga dan sebagian dibagikan kepada tetangga. Dengan bangga ia menunjukkan cumi-cumi berukuran besar yang baru saja ditangkapnya.

Nelayan dengan hasil tangkapannya
Salah seorang Nelayan bersama hasil tangkapannya | Foto: www.instagram.com/thisiswulanjarii/

Waktu semakin beranjak, kami memutuskan untuk segera mandi agar tidak melewatkan matahari yang akan pulang ke peraduan. Selesai mandi, matahari terlihat sangat cantik. Pancaran sinar jingga mulai menyoroti perahu yang sebagian berangkat berlayar, dan kemudian perlahan menghilang. Senja pun berganti malam.

Kami pun kembali ke warung untuk membayar pesanan. Pemilik warung menyebutkan nominal yang sangat bersahaja. Hanya berkisar Rp275 ribu untuk kuliner lengkap, termasuk juga biaya toilet, serta parkir. Pantai Ombak Mati memang masih dikelola secara swadaya oleh masyarakat sekitar, untuk itu belum dikenakan tiket masuk, dan harga berbagai fasilitas terbilang cukup murah.

Eloknya sunset di Pantai Ombak Mati - © www.instagram.com/thisiswulanjarii/

Kami pulang dengan perasaan bahagia. Tak hanya karena datang ke pantai yang indah pemandangannya, tetapi juga karena disambut dengan bersahaja, dengan berjuta keramahan masyarakatnya.

Pilih BanggaBangga33%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau67%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Tak Lekang Oleh Waktu, Inilah Dongeng Populer di Indonesia (Bagian II) Sebelummnya

Tak Lekang Oleh Waktu, Inilah Dongeng Populer di Indonesia (Bagian II)

Biar Anak Anda Sukses di Sekolah & di Kehidupan, Ini 3 Tipsnya Selanjutnya

Biar Anak Anda Sukses di Sekolah & di Kehidupan, Ini 3 Tipsnya

elya wulanjari
@wulanjar1

elya wulanjari

a little dreamer

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.