Lagi, Mahasiswa Indonesia Toreh Prestasi di Negeri Gajah Putih

Lagi, Mahasiswa Indonesia Toreh Prestasi di Negeri Gajah Putih
info gambar utama

Berawal dari tingginya kasus kecelakaan kerja yang berujung pada luka yang diderita korban, lima orang mahasiswa Universitas Hasanuddin, Makassar, membuat inovasi berupa plaster yang diklaim hanya butuh waktu tiga hari.

“Yang membedakan plester kami dengan plester konvensional adalah plester ini dapat menyembuhkan luka lebih cepat dibandingkan dengan plester luka yang biasa kita jumpai. Plester konvensional butuh waktu sampai satu minggu untuk menyembuhkan luka, sedangkan plester kami hanya membutuhkan waktu 3 hari untuk menyembuhkan luka”, jelas ketua tim, Ishmah Rosyidah kepada penulis.

Dengan memanfaatkan buah naga merah (Hylocereus Polyrhizus) sebagai bahan baku dan plester luka jenis hidrokoloid yang diketahui tidak mudah lepas saat terkena air dan tidak sulit dilepas, tim yang terdiri dari lima orang mahasiswa tersebut pun membuat plaster luka yang diberi nama Hypolast.

Hasil dari penelitian tersebut pun menjadi modal mereka untuk mengikuti Bangkok International Intellectual Property, Invention, Innovation, and Technology Expo (IPITEx 2020) yang diselenggarakan oleh NRCT (National Research Council of Thailand) yang diselenggarakan di Bangkok, Thailand pada 2-6 Februari kemarin.

Pada kesempatan tersebut, tim yang terdiri dari Ishmah Rosyidah, Asma Aris, Andi Ashabul Kahfi, Juztika Andriani Farid, dan Muhammad Amri Arfah tersebut harus bersaing dengan sejumlah peserta yang berasal dari 23 negara berbeda.

Uniknya, kelima mahasiswa tersebut berasal dari lima fakultas berbeda. Bahkan, salah satu di antaranya berasal dari rumpun ilmu sosial. Hal itu tidak menjadi alasan bagi mereka untuk mengikuti ajang tahunan tersebut.

Berkat inovasinya, tim yang berasal dari lima fakultas berbeda itu berhak menggondol silver medal untuk kategori Pharmacy, Health, Medicine, and Humanistic Therapy.

Ke depannya, plaster akan dikembangkan dengan menguji cobakannya pada luka yang lebih parah lagi, seperti luka dekubitus, luka borok, dan sebagainya. Selain itu, plester yang membutuhkan waktu pembuatan sekitar seminggu itu rencananya akan dipatenkan dan akan dikomersilkan.

"Kalau ada dana, kami akan segera menyelesaikan patennya dan akan kami segera komersilkan agar penelitian kami ini dapat memberikan manfaat kepada masyarakat", tutup Ishmah Rosyidah ketika dihubungi melalui WhatsApp.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini