Fakta Unik Guling, Bantal Yang Hanya Ada Di Indonesia

Fakta Unik Guling, Bantal Yang Hanya Ada Di Indonesia
info gambar utama

Tahukan Kawan GNFI bahwa guling pernah disebut dengan istilah Dutch Wife?, sebutan ini sendiri muncul bukan dari orang Belanda tapi dari orang Inggris yang sedang meledek orang-orang Belanda kala itu, ketika Belanda masih menjajah Indonesia. Namun pada akhirnya orang-orang Inggris kala itu juga datang ke Hindia (sebutan untuk Indonesia sebelum kemerdekaan) juga mengikuti kebiasaan dari orang-orang Belanda belanda menggunakan guling. Dan pada akhirnya orang-orang belanda balas meledek orang-orang Inggris dengan memberikan julukan British Doll.

Awal pertama muncul atau diperkenalkanya guling adalah pada sekitar tahun 1800-an ketika Belanda masih menjajah Indonesia. Tetapi pada masa itu guling hanya diperuntukan bagi bangsawan, seperti diceritakan Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya yang berjudul Jejak Langkah yang merupakan seri ketiga dari tetralogi pulau buru.

Ilustrasi seseorang yang tidur dengan memeluk guling | Foto: bisnisbandung.com
info gambar

Dalam novel tersebut dikisahkan sedang terjadi percakapan antara mahasiswa School tot Opleiding van Inlandsche Artsen atau STOVIA. Dan dibuka dengan pertanyaan “Tahu kalian apa sebab di dalam asrama tidak boleh ada guling?”

Kemudian Wilam melanjutkan dengan bercerita bahwa bantal guling tidak akan ditemukan di tempat lain di dunia, setidaknya menurut mamanya. Hal ini bermula ketika orang-orang Belanda dan Eropa datang ke Indonesia. Kala itu mereka tidak membawa pasangan atau kekasihnya, dan akhirnya terpaksa menyewa gundik.

“Tapi orang Belanda terkenal sangat pelit. Mereka ingin pulang ke negerinya sebagai orang berada. Maka banyak juga yang tak mau menggundik. Sebagai pengganti gundik mereka membikin guling –gundik yang tak dapat kentut itu.”

Walaupun hal di atas dikisahkan dalam sebuah novel, namun kisah tersebut tidak sepenuhnya salah. Sebab guling sendiri memang pertama kali muncul pada masa kolonial, yang terlahir dari percampuran budaya Eropa, Cina, dan Indonesia sendiri kala itu.

Pendapat tersebut diungkapkan oleh Hadinoto, dosen Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan dari Universitas Kristen Petra Surabaya, dalam jurnal “Indische Empire Style” yang dimuat Jurnal Dimensi Arsitektur, pada Desember tahun 1994.

Ilustrasi Zhufuren | Foto: Kabare.id
info gambar

Dan pada akhirnya guling tetap eksis sampai hari ini. Karena fungsinya yang cukup asing guling ini sempat membuat D sir Charnay seorang kebangsaan Perancis kebingunan ketika datang ke Jawa dan tinggal selama enam minggu pada tahun 1878. Yang dikisahkan oleh Bernard Dorl ans dalam Orang Indonesia dan Orang Prancis: Dari Abad XVI sampai dengan Abad XX

Atau John S.C. Abbott seorang yang dari negara Amerika yang berprofesi sebagai sejarawan dan juga pastor juga sempat terkejut ketika bertemu dengan guling. Dan kemudian ia mencerikan kisanya ini dalam “A Jaunt in Java” dan dimuat di Harper’s New Monthly Magazine Volume XV, pada Juni-November tahun 1857.

Sebenarnya secara umum guling ini juga ada di negara lain khususnya di kawasan Asia Timur sejak jaman dahulu. Namun guling tersebut tidak seperti guling yang ada di Indonesia, karena memiliki bentuk berongga dan terbuat dari rotan atau bambu. Guling tersebut dikenal dengan nama Zhufuren dan dipercaya dapat melancarkan peredaran darah.

Sumber: kumparan.com | historia.id | merdeka.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini