Keliling Sambil Nostalgia di Museum Transportasi

Keliling Sambil Nostalgia di Museum Transportasi
info gambar utama

Perkembangan transportasi di Indonesia sudah berkembang sangat pesat, khususnya di kota-kota besar, seperti di kota metropolitan Jakarta.

Mulai dari moda transportasi darat, laut, sampai udara, semua mengalami perubahan dari masa ke masa.

Untuk mengetahui perkembangan moda transportasi dari zaman dahulu hingga masa kini, Kawan GNFI bisa mengunjungi sebuah museum yang membuat kita jadi bernostalgia.

Museum tersebut ialah Museum Transportasi. Sebuah museum yang mengumpulkan, memelihara, meneliti, memamerkan bukti sejarah transportasi, dan perkembangan transportasi.

Museum ini berdiri bersama dengan museum lainnya di area Taman Mini Indonesia Indah, tepatnya jalan Taman Mini I, Ceger, Kecamatan Cipayung, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

Untuk dapat mengunjungi museum ini, Kawan GNFI hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp5,000 saja. Murah bukan?

Sesampainya di sana, Kawan GNFI akan langsung disuguhkan dengan pemandangan berbagai moda transportasi, seperti pesawat, kereta api, dan bus.

Museum Transportasi ini merupakan milik Lembaga Departemen Perhubungan Republik Indonesia yang sudah diresmikan oleh Presiden Soeharto sejak 20 April 1991.

Dibangunnya museum ini tidak lain ialah untuk memberikan informasi dan pengetahuan sejarah transportasi beserta perkembangannya, sekaligus sebagai tempat rekreasi edukasi.

Pameran koleksi museum tidak hanya berada di dalam ruangan tapi juga ada di luar ruangan.

Pada ruang pameran yang berada dalam gedung, terdapat beberapa anjungan yang dibagi sesuai dengan moda transportasi, yakni anjungan pusat, anjungan udara, anjungan darat, dan anjungan laut.

Saat menaiki tangga untuk memasuki gedung pameran, Kawan GNFI akan disuguhkan dengan beberapa koleksi transportasi darat, seperti opelet, taksi, bemo, dan becak beserta dengan infografis besar tentang sejarah perkembangan masing-masing transportasi.

Opelet Si Doel | Foto: Dessy Astuti/GNFI
info gambar

Uniknya ialah ada sebuah opelet legendari yang bisa membuat Kawan GNFI menjadi bernostalgia, yakni opelet Si Doel Anak Sekolahan berjenis Morris Minor 1000 produksi tahun 1957.

Ada berbagai macam koleksi yang dipamerkan dalam ruang pamer berupa asli maupun tiruan, miniatur, dokumentasi foto, dan diorama.

Beralih ke dalam ruang pameran, anjungan pertama yang akan Kawan GNFI temui ialah anjungan darat. Berisikan layanan transportasi mencakup jalan raya, rel, dan mesin transportasi.

Pada anjungan darat terdapat koleksi pompa tahun 1890, miniatur lokomotif, dokumentasi Menteri Perhubungan, miniatur bus, koleksi helm zaman dahulu, pandungan rambu lalu lintas, koleksi motor antik, hingga diorama pembangunan jalan kereta api pertama tahun 1864.

Setelah selesai di anjungan darat, Kawan GNFI akan beralih ke anjungan pusat yang memamerkan keberadaan transportasi masa lampau, baik menggunakan tenaga manusia, hewan, maupun mesin.

Ontel masa lampau | Foto: Dessy Astuti/GNFI
info gambar

Di anjungan ini, ada berbagai transportasi mencakup darat dan laut dari berbagai wilayah di Indonesia.

Kemudian berlanjut ke anjungan udara yang memamerkan perkembangan teknologi transportasi udara, seperti koleksi pesawat, beragam alat detector logam tangan, alat penakar hujan, menara pengawas, miniatur pesawat, hingga perkembangan pesawat Garuda tahun 1961 sampai 2013, beserta dengan seragam awak pesawat tahun 1949 sampai 2013.

Terakhir ialah anjungan laut yang membawa kita untuk menjelajahi luasnya lautan dengan transportasi. Koleksinya berupa lampu navigas, miniatur kapal, diorama anjungan kapal dan diorama teknologi pengangkutan, alat komunikasi kapal, dan perkembangan seragam pakaian dinas PT Dharma Lautan Utama.

Selesai berkeliling di dalam ruang pamer, kini Kawan GNFI bisa menjelajah di area Museum Transportasi.

Lokomotieffabriek 1911 | Foto: Dessy Astuti/GNFI
info gambar

Pameran di luar ruangan, terdapat dua mini stasiun, yaitu Stasiun Kemidjen dan Stasiun Ambarawa.

Tidak hanya itu, di bagian depan dekat pintu masuk museum, terdapat kereta api Luar Biasa Presiden atau disingkat KLB Presiden, yaitu IL. 7 dan IL. 8.

Kereta yang dibuat oleh bengkel kereta Staatspoorwegen Bandung tahun 1919 itu menjadi saksi sejarah hijrahnya presiden dan wakil presiden pertama di Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta.

Terakhir, jika Kawan GNFI ingin merasakan naik pesawat udara jenis DC-9 PK-GNT milik Garuda Indonesia, Kawan GNFI harus membayar tiket masuk sebesar Rp3.000 saja.

Bagaimana? Seru bukan berkunjung dan berkeliling Museum Transportasi. Selain bisa mendapatkan ilmu sejarah perkembangan trasnportasi, Kawan GNFI tentunya juga dapat merasakan sensasi naik transportasi tersebut.***

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dessy Astuti lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dessy Astuti.

Terima kasih telah membaca sampai di sini