Sedotan Ramah Lingkungan Karya Pengrajin Kalimantan Tembus Pasar Internasional

Sedotan Ramah Lingkungan Karya Pengrajin Kalimantan Tembus Pasar Internasional
info gambar utama

Gerakan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai kini banyak digalakkan di berbagai belahan dunia sebagai wujud penyelamatan lingkungan dari dampak negatif menumpuknya sampah plastik yang ditemukan di darat hingga di lautan. Salah satu upayanya adalah menggunakan bahan yang ramah lingkungan sebagai ganti plastik, seperti hal yang dilakukan pengrajin asal Kalimantan yang membuat sedotan dari bahan alami yakni eceng gondok dan purun atau tumbuhan rawa. Ia adalah Supian Nor, warga asal Desa Banyu Hirang, Amuntai Selatan, Banjarmasin yang merupakan seorang perngrajin dan kini menjadi produsen sedotan purun.

Sedotan purun adalah sedotan yang terbuat dari bahan alami berupa eceng gondok dan purun yang memiliki nama latin Lepironia Articulata sebagai pengganti sedotan plastik yang umum digunakan. Awal mula sedotan ini dikenal masyarakat adalah melalui Tran Minh seorang pria asal Vietnam pada awal tahun lalu. Supian pun sebagai seorang yang telah berkecimpung di bidang kerajinan selama sepuluh tahun membuat sedotan purun tersebut dan memproduksi 100.000 batang sedotan dalam waktu dua bulan.

Supian dan sedotan purun karyanya | Foto : Era.id
info gambar

Selain berdampak baik pada lingkungan karena terbuat dari bahan yang ramah lingkungan, sedotan purun buatan Supian juga kini sudah melanggeng ke pasar internasional. Diketahui, bahwa Supian mendapat pesanan sebanyak 100.000 batang sedotan purun setiap bulannya dari Belanda. Namun, karena keterbatasan sumber daya manusia yang dimiliki Supian, akhirnya Supian menyalurkan pesanan ke Belanda melalui pihak ke tiga di Bali dan baru dikirimkan ke Belanda. Kini Supian pun berusaha meningkatkan produktifitasnya dalam pembuatan sedotan purun dan kerajinan-kerajinan pesanan lainnya.

Cara membuat sedotan purun harus dengan langkah yang hati-hati dan teliti yakni dimulai dengan memilih purun yang akan digunakan sebagai sedotan, kemudian dibersihkan dengan menggunakan selang yang bertekanan tinggi. Selanjutnya, purun dicuci hingga bersih menggunakan sabun kemudian purun dipotong. Pemotongan purun juga dilakukan satu persatu menggunakan pisau silet agar hasil irisan rapih dan tidak pecah, selanjutnya dilakukan pelubangan di bagian dalam. Setelah semuanya selesai, tahapan akhir adalah membilas sedotan purun dan disterilisasi, diakhiri dengan pengeringan. Guna menambah aroma alami pada sedotan purun, biasanya ditambahkan sereh wangi supaya ketika sedotan digunakan tidak tercium aroma rawa karena purun adalah salah satu tumbuhan rawa.

Alasan digunakannya purun sebagai bahan alternatif dalam pembuatan sedotan ramah lingkungan yakni karena purun memiliki banyak kelebihan. Kelebihan tersebut antara lain tentunya dapat mengurangi jumlah sampah plastik dan meningkatkan kesadaran masyarkat terhadap isu lingkungan. Namun, salah satu kelebihan yang menonjol dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar adalah produksi sedotan purun dapat menigkatakan ekonomi lahan basah dan diharapkan dapat mencegah terjadinya kebakaran hutan di wilayah lahan rawa dan gambut.

Penggunaan sedotan purun | Foto : BPPLHK
info gambar

Kini, sudah banyak Supian-Supian lain di berbagai daerah yang tidak hanya memproduksi sedotan yang ramah lingkungan namun juga mengampanyekan go green kepada masyarakat seperti Yayasan Purun Eco Straw di Provinsi Bangka Belitung.

Upaya penyelamatan bumi dari berbagai jenis sampah dan dampak buruknya tidak dapat dilakukan oleh satu atau dua orang, namun perlu adanya kerjasama dari segi kultural yakni bersama merubah kebiasaan menggunakan plastik sekali pakai menjadi menggunakan produk yang ramah lingkungan. Selain kerjasama dari pihak kultural, perlu juga adanya kerjasama dari segi struktural yakni melalui berbagai kebijakan yang lebih memprioritaskan keselamatan lingkungan seperti car free day, gerakan seribu pohon hingga membawa kantong belanja sendiri. Mari bersama menjaga bumi dari kerusakan dan wariskan keindahan nyata untuk masa depan. Salam Lestari.


Catatan kaki: era.ida | kanal kalimantan

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini