Vania, Milenial yang Bergerak dan Berdampak untuk Lingkungan

Vania, Milenial yang Bergerak dan Berdampak untuk Lingkungan
info gambar utama

Permasalahan sampah yang ada di lingkungan sekitar memang tak pernah ada habisnya. Manusia yang seharusnya memiliki tanggung jawab atas hal tersebut justru seakan malah enggan peduli.

Namun, tak sedikit pula manusia yang bergerak untuk berani mengatasi masalah itu. Seperti halnya Vania Santoso.

Perempuan muda generasi milenial ini ternyata memiliki jiwa sosial dan kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan.

Vania adalah founder dari HeySTARTIC, yang merupakan sebuah brand development ecopreneurship atau tepatnya ecofashion.

View this post on Instagram

What would you do to your waste? REDUCE - reuse - recycle ♻️

A post shared by STARTIC, Artistic Ecofashion (@heystartic) on

Berawal dari pengalamannya saat kecil ketika rumahnya yang berdomisili di Surabaya dilanda banjir karena banyaknya sampah menumpuk, Vania pun lantas berpikir dan berani bergerak untuk menanggulangi masalah tersebut.

Bermodalkan keahlian tangan terampil dan kreatifnya, Vania bersama kakaknya Agnez Santoso, berhasil menyulap sampah menjadi suatu barang yang bernilai tinggi.

Lewat HeySTARTIC, Vania dan kakanya berfokus pada produk fashion. Menurutnya, hal itu dikarenakan isu manajemen sampah sudah mulai bergeser.

"Kalau dulu untuk pengolahan sampah sangat minim, sekarang sudah banyak aksinya. Tapi masalahnya, belum ada yg bisa sampai terjual bekelanjutan, seperti karena produknya kurang menarik jadi tidak ada yang mau beli," tutur Vania pada acara Webinar GNFI di Google Hangout, Kamis (20/02).

Beberapa produk HeySTARTIC | Foto: instagram.com/HeySTARTIC
info gambar

Berangkat dari hal tersebut, terlihat adanya pergeseran perubahan sampah ternyata bisa diolah dengan dimulai dari membangun kesadaran masyarakat.

Dengan begitu, masyarakat bisa dipicu untuk dapat peduli dan menggunakan kembali sampah menjadi barang pakai.

Vania menjelaskan, bahwa mungkin bagi sebagian orang, produk daur ulang adalah hal biasa. Tapi itu menjadi suatu hal yang bernilai tinggi ketika dijual di luar negeri.

"Dari situ kita paham enggak ada yang salah kok dengan produk daur ulang. Enggak ada yang terlalu mahal atau murah untuk suatu produk jika konsumennya tepat," lanjut Vania.

Vania yang pada dasarnya seorang sociopreneurship, dengan segala perjuangan dan kerja kerasnya untuk membangun HeySTARTIC membagikan hal-hal apa saja yang dapat diterapkan jika ingin menjadi sociopreneurship. Berikut enam hal yang bisa dilakukan untuk bergerak dan berdampak bagi lingkungan:

1. Mulailah berempati pada isu sosial

Ketahui terlebih dahulu akar masalahnya. Ada banyak isu yang penting. Isu kesehatan dan pendidikan itu sama pentingnya untuk kita. Kalau lingkungan selain sampah, masalah keanekaragaman hayati juga harus kritis. Banyak juga satwa yang langka, akses air bersih juga jadi perhatian besar di daerah terpencil

"Dari segi urgensi, semua masalah penting dan bagaimana kita menempatkan diri," jelas Vania.

2. Ketahui keunggulan isu yang ditangani

Dengan mengetahui keunggulan isu apa yang akan kita tangani, dapat memudahkan kita untuk menyesuaikan dalam pembuatan produk atau jasa.

3. Trial and eror

Dalam proses pengembangan bisnis, untuk mengetahui Konsumen tepat dan konsumen cocok, sebagai pelaku usaha harus melakukan sistem trial and eror.

"Solusinya dengan menggunalan design thinking yang mengedepankan empati apa yang konsumen suka," tutur Vania.

4. Ketahui target pasar

Kenali target pasar dari segi penerima manfaat dan dampak. Dalam isu sampah, penerima dampak adalah bank sampah dan penerima manfaat masyarakat.

"Jadi dalam hal ini kita jualan seperti tas menyerupai kulit terbuat dari karung semen yang diambil dari bank sampah, kemudian menjualnya dengan harga murah. Tas itu bisa digunakan masyarakat dan bisa mneyelamatkan lingkungan juga," ujar Vania.

5. Seimbangkan sharing dan making profit

Dalam hal ini, keahlian yang kita bisa harus dibagikan kepada masyarakat. Kemudian dari situ, kita bisa membuat keuntungan dari keahlian yang sudah dibina. Kedua hal harus seimbang agar selalu dapat berjalan beiringan.

6. Jangan serakah

Hal yang kita lakukan dan jalani tujuan utamanya adalah untuk membuat dampak terhadap lingkung dan sosial. Jadi jangan serakah dengan mengambil keuntungan pribadi.

HeySTARTIC yang kini sudah mulai diterima pasar dengan baik berkat produknya yang inovatif, ternyata dalam prosesnya melibatkan banyak pihak.

Kegiatan warga binaan HeySTARTIC | Foto: instagram.com/HeySTARTIC
info gambar

Mulai dari warga binaan yang sudah terampil maupun belum, mitra bank sampah, kontraktor pembangunan gedung, perusahaan produsen semen, hingga warga diluar dari warga binaan.

Kini, HeySTARTIC sudah berkembang mulai dari projek sosial menjadi bisnis sosial, karena pada dasarnya, bisnis sosial berbeda dengan projek sosial.

Bisnis sosial sudah mampu mendanai produksinya sendiri, sedangkan projek sosial masih tergantung pada donatur. Secara independen harus mampu berdaya.

"Ketika kita ingin melakukan sociopreneurship, percayalah jatuh bangun jangan buat kita jadi takut dan menyerah. Pastikan ketika ingin bantu orang lain, kita juga harus memberikan kejelasan bahwa kita mampu bantu mereka," ujar Vania di akhir sesi Webinar GNFI.

Bagi Vania, di setiap usaha manapun tidak hanya sociopreneurship, kita harus punya perencanaan stategis untuk melakukan pengembangan bisnis dan produk.

Bagi Kawan GNFI yang belum sempat mengikuti acara webinarnya, kalian bisa mendengarkan ulasan secara lengkapnya di podcast Good Voice Episode 1. ***

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dessy Astuti lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dessy Astuti.

Terima kasih telah membaca sampai di sini