Kisah Paidi, Petani Yang Sukses Menjadi Miliarder

Kisah Paidi, Petani Yang Sukses Menjadi Miliarder

Paidi dalam salah satu talkshow © Twitter @KickAndyShow

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠. Rekomendasi lain dari WHO

Profesi petani hari ini masih dipandang sebelah mata, karena penghasilanya yang tidak menentu dan relatif kecil. Tapi tahukan Kawan GNFI dalam sebuah negara justru profesi petani adalah salah satu bidang yang fundamental. Tentu karena kaitanya dengan berbagai kebutuhan dasar manusia yang memang pada dasarnya di-supply dari bidang pertanian ini.

Coba Kawan GNFI bayangkan jika dalam sebuah negara penduduknya tidak ada yang mau menjadi petani, kira-kira apa yang akan terjadi?. Salah satu kemungkinanya adalah terjadinya defisit supply pangan, karena negara harus melakukan berbagai impor untuk memenuhi kebutuhan pangan. Dari sudut pandang ini sebenarnya petani adalah profesi yang sangat menjanjikan karena peranya yang fundamental dalam kehidupan.

Potret tanaman porang | Foto: radarntt.co

Salah satu contoh petani yang sukses memanfaatkan peluang tersebut adalah Paidi, pria berumur 37 tahun dari Desa Kepel, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun. Sebelum menjadi petani Paidi adalah seorang pekerja serabutan, hampir berbagai jenis pekerjaan pernah ditekuninya, seperti penjual tahu, penjual ayam, dan penjual buah. Namun semua usaha yang dilakukan Paidi tersebut tidak berbuah manis dan malah membawa kebangkrutan bagi dirinya.

Sampai-sampai ia juga pernah menjadi pemulung untuk tetap menjaga kepulan asap dapur. Tetapi semua itu berubah ketika ia beralih profesi menjadi petani. Dimulai ketika ia bertemu salah satu teman lamanya dari satu panti asuhan di Desa Klangon, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun.

Temanya tersebut memperkenalkan sebuah tanaman yang bernama porang, yang juga dibudidayakan oleh warga sekitar. Setelah pertemuan tersebut Paidi mulai mencari berbagai informasi tentang porang dari internet. Dari berbagai informasi tersebut, Paidi mendapat kesimpulan bahwa tanaman Porang memiliki permintaan dalam jumlah yang banyak di pasar.

Melihat peluang tersebut Paidi mencoba memutar otak untuk dapat memanfaatkan Porang secara maksimal karena potensinya yang besar. Seba porang sendiri adalah jenis tanaman membutuhkan waktu yang lama hampir sekitar tiga tahun untuk dapat dipanen. Namun dalam prosesnya Paidi juga menghadapi tantangan lain yaitu kondisi lahan yang berbukit-bukit.

Paidi dalam salah satu acara talkshow | Foto: Twitter @KickAndyShow

Namun dengan berbagai informasi yang paidi dapatkan dari internet sebelumnya, ia mencoba mengembangkan teknik baru yang ia namakan revolusi pola tanam baru. Teknik yang dikembangkan Paidi tersebut berhasil mempercepat masa panen dari tanaman porang miliknya. Yang sebelumnya hampir tiga tahun menjadi antara enam bulan sampai dua tahun.

Terobosan yang dilakukan Paidi tersebut juga dapat menambah jumlah panen. Jika sebelumnya dalam satu hektar hanya bisa memanen tujuh sampai sembilan ton porang. Maka dengan revolusi pola tanam intensif dapat memanen hingga 70 ton, dalam luas lahan yang sama. Paidi juga menjelaskan dalam satu hektar lahan, jika ditanami porang semua maka omzet yang dihasilkan bisa mencapai 800 juta dalam kurun waktu dua tahun. Dengan keuntungan bersih 700 juta yang telah dipotong biaya lainya.

Sumber: kompas.com | wartatani.co

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Hindari menyentuh wajah
  6. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga30%
Pilih SedihSedih4%
Pilih SenangSenang15%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi41%
Pilih TerpukauTerpukau11%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Tradisi Malam Satu Suro sebagai Wujud Pensucian Diri Masyarakat Suku Jawa Sebelummnya

Tradisi Malam Satu Suro sebagai Wujud Pensucian Diri Masyarakat Suku Jawa

Pentingnya Narasi Bijak Para Pejabat Publik Selanjutnya

Pentingnya Narasi Bijak Para Pejabat Publik

Ahmad Taufiq
@taufiq_am

Ahmad Taufiq

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.