Komunitas ini Menerapkan Dekolonialisasi Pendidikan

Komunitas ini Menerapkan Dekolonialisasi Pendidikan
info gambar utama

Surabaya merupakan kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Termasuk kota metropolitan juga. Namanya metropolitan juga tak pernah ketinggalan tentang teknologinya. Semakin bertambahnya waktu semakin bertambah bagus pula teknologi yang ada di Surabaya. Namun, ada juga di Surabaya yang masih tetap mempertahankan kearifan lokal. Tentang budaya. Tentang permainan tradisional. Mereka dikenal dengan sebutan komunitas Kampoeng Dolanan.

Kampoeng Dolanan merupakan sebuah komunitas yang bergerak di bidang pelestarian permainan tradisional yang menyasar pada pendidikan, kebudayaan, ekonomi, pemberdayaan masyarakat, wirausaha sosial, industri kreatif dan jurnalistik. Konsentrasinya tetap pada keterlibatan permainan tradisional. Komunitas ini dibentuk pada tanggal 13 Desember 2016.

Sudah berjalan hampir empat tahun. Kiprahnya terjun ke masyarakat mulai dari sekolah, kampoeng, taman, pusat perbelanjaan, tempat wisata, tempat umum, hadir di event maupun berkolaborasi dengan komunitas tetap dilakukannya. Kampoeng dolanan ini mempunyai visi yaitu menjadi pusat kajian dan mengedukasi masyarakat tentang permainan tradisional dunia dengan filosofinya.

Sudah tiga tahun mencoba untuk membentuk pola komunitas dengan sistem kerelawanannya yang dibuat. Maka pada tahun yang keempatnya, kampoeng dolanan berusaha untuk menggapai visi tersebut dengan cara berjejaring dengan kampus-kampus yang ada di Indonesia dan masih memungkinkan juga kampus atau lembaga penelitian lain di dunia.

Mengawali kiprah tentang pusat kajiannya adalah mencoba untuk audiensi dengan Universitas Ciputra (UC), sebuah kampus yang ada di Surabaya dengan brand bisnis yang sangat melekat pada diri mereka. Kampoeng dolanan disambut dengan baik, bertemu dengan tim dari pusat kajian kebudayaannya UC yang bernama Center for Creative Heritage Surabaya (CCHS). Berdiskusilah dengan mereka. Masing-masing lembaga menceritakan tentang perjalannya.

Kampoeng Dolanan juga menceritakan kisah perjalanan bagaimana membentuk pola di komunitas kampoeng dolanan. Mulai dari relawan hingga program yang dijalankan. Ada satu pernyataan yakni "Saya tidak butuh kalian membesarkan kampoeng dolanan, itu tidak penting. yang paling penting adalah bagaimana caranya kalian bisa mengembangkan potensi yang kalian punya melalui kampoeng dolanan". Pernyataan inilah yang dianggap pak Michael N. Kurniawan, Ketua CCHS UC sebagai bentuk mula pengembangan organisasi yang organik.

Sistem yang terbangun didalamnya juga berjalan secara demokratis. Mempunyai tujuan tapi lebih berkonsentrasi pada pengembangan diri yang dilakukan oleh satu tim. Menurutnya aktivitas kampoeng dolanan dengan manajemen relawan yang seperti itu dianggapnya sebagai wujud dari dekolonialisasi pendidikan. Katanya, sudah jelas. Ada tiga hal yang disampaikan oleh kampoeng dolanan yaitu : Kamu pingin belajar apa? ; apa yang ingin kamu kembangkan? ; dan kamu pingin mendapatkan apa di kampoeng dolanan?.

Model pertanyaan seperti ini yang mengarahkan para relawan tersebut bisa diajak berdiskusi. Sehingga secara aktivitas tidak hanya mendidik namun juga bisa berguna bagi masyarakat dan bangsanya. Inilah yang kita kenal dengan sebutan Dekolonialisasi Pendidikan.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini