Asal-Usul Kata "Preman", Yang Dulunya Memiliki Makna Positif

Asal-Usul Kata "Preman", Yang Dulunya Memiliki Makna Positif
info gambar utama

Ketika mendengar kata "preman", kira-kira apa yang terlintas dalam pikiran Kawan GNFI?. Memang kata "preman" hari ini memiliki konotasi negatif, yang identik dengan tindakan kriminal. Hal ini tentu saja tidak lepas dari perjalanan sejarah kata "preman" itu sendiri. Seperti umumnya sifat bahasa yang dinamis, sebuah makna kata pun juga dapat berubah seiring berjalanya waktu.

Ilustrasi preman yang ditankap polisi | Foto: tirto.id
info gambar

Dalam disiplin ilmu bahasa atau linguistik fenomena perubahan makna tersebut dengan istilah peyorasi. Peyorasi dapat berarti sebuah proses pergeseran makna dari sebelumnya yang bersifat positif menjadi terdengar lebih negatif, buruk, atau rendah. Disamping peyorasi ada juga ameliorasi, ameliorasi sendiri merupakan kebalikan dari peyorasi. Yaitu dari kata yang memiliki makna negatif berubah menjadi positif.

Jika menengok sejarah kebelakang kata "preman" sendiri sudah eksis sejak zaman kolonial atau penjajahan. Pada masa tersebut eksis orang-orang yang memiliki reputasi sebagai pembela para buruh kebun atau kuli kontrak yang berasal dari Jawa, Tionghoa, dan India. Karena para buruh tersebut mendapat siksaan dari mandor kebun atas perintah dari tuan kebun.

Para pembela buruh tersebut biasanya adalah mereka yang juga berkerja sebagi buruh tapi secara kontrak atau dibayar harian. Oleh tuan-tuan kebun dari Belanda yang menjadi penguasa tanah Deli, para pekerja kontrak tersebut disebut dengan "vrije man" atau dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai "orang bebas".

Karena tindakan para vrije man yang membela para buruh tersebut, mereka terkadang menjadi gangguan bagi bagi pemilik kebun dalam menjlankan bisnisnya. Namun dari sudut pandang para buruh tindakan para vrije man tersebut malah sangat membantu. Oleh karenanya sebagai balas jasa para buruh tersebut memberi makanan dan minuman secara gratis.

Ilustrasi kondisi buruh pada masa penjajahan | Foto: netralnews.com
info gambar

Seiring berjalanya waktu, ada beberapa vrije man yang lebih cenderung berorientasi pada nafsu dan materi saja. Yang kemudian vrije man ini dimanfaatkan oleh para tuan tanah dijadikan tukang pukul atau centeng mereka. Dan para vrije man yang tetap membela buruh malah dicap sebagi pengganggu.

Dari konteks inilah istilah atau kata "preman" muncul, yang merupakan perubahan dari kata "vrije man" karena penyebutanya yang agak susah bagi lidah orang Melayu dan Jawa. Walaupun istilah preman hari ini memiliki konotasi negatif, namun ketika masa mempertahankan kemerdekaan para preman ini juga pernah ikut berjuang.

Tepatnya pada peristiwa Jalan Bali pada Oktober 1945, ketika itu banyak preman dari Medan yang ikut berjuan melawan penjajah.

Sumber: historia.id | merdeka.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini