Kisah Romantis Hingga Nilai Filosofis di Balik Batik Truntum

Kisah Romantis Hingga Nilai Filosofis di Balik Batik Truntum
info gambar utama

Berbahagialah seorang pria yang memiliki istri tulus setia seperti Kanjeng Ratu Kencana, permaisuri Sunan Pakubawana III Surakarta Hadiningrat. Dikisahkan, pada abad ke-18 silam, Ratu Kencana merasa diabaikan oleh sang suami karena kesibukannya dan adanya selir baru di istana. Bahkan, pada hari pernikahan pun Kanjeng Ratu dilanda cemburu karena ketidaksetiaan.

Malam-malam sepi dia lalui dengan memandang langit cerah bertabur bintang. Bintang-bintang di langit malam senantiasa “setia” menemani sang ratu. Selain ditemani bintang, Kanjeng Ratu Kencana juga dihibur oleh wangi bunga tanjung yang semerbak. Tangannya pun ingin melukis semua rasa yang berkecamuk di hatinya. Maka dia pun mulai membatik.

Kanjeng Ratu Kencana menggambar bintang-bintang dan kembang tanjung pada lembar-lembar kain yang kemudian diberi warna biru gelap langit malam. Dia mengisi kekosongan kain mori putih sebagaimana dia mengisi kekosongan hatinya yang merindu kasih sayang sang suami.

Hingga suatu malam, Sunan Pakubawana III melihat istrinya yang tengah membatik. Gambaran bintang-bintang dan bunga tanjung itu begitu menyentuh hati sang raja. Kemudian dia insaf akan kealpaannya selama ini, yang telah membuat istrinya merasa kesepian. Dia menyadari kesalahannya karena selalu meninggalkan istri yang senantiasa setia menantinya dengan kasih sayang.

Kisah tersebut merupakan asal lahirnya karya seni indah yang kini dikenal dengan motif batik Truntum. Di masa lalu, “orang-orang tradisional mengabadikan ekspresi lukisnya melalui batik,” tulis Hokky Situngkir, dalam buku Kode-Kode Nusantara.

Motif batik Truntum digambarkan seperti bintang-bintang yang bertaburan di langit malam yang cerah. Sedangkan bagi sebagian orang, motif itu terlihat seperti taburan bunga-bunga abstrak kecil, atau menyerupai kuntum bunga melati yang bertebaran. Keindahannya mewakilkan ketulusan dan kesetiaan Ratu Kencana dalam menyayangi suaminya.

Motif Truntum melambangkan romantika cinta antara dua manusia. Secara etimologi, Truntum atau taruntum (Jawa) berasal dari istilah, teruntum-tuntum” artinya tumbuh lagi. Taruntum memiliki makna senantiasa bersemi kembali atau semarak lagi. “Truntum, taruntum, kira-kira berarti ‘tumbuh kembali’, ‘bersemi kembali’, ‘semarak kembali’,” tulis Hokky.

Sebagai simbol cinta dan kasih sayang, batik Truntum kerap mewarnai pernikahan adat Jawa. Dalam konteks pernikahan, motif batik Truntum membawa nilai filosofi pengharapan akan kesetiaan dan kelanggengan kedua mempelai, ketika menjalani kehidupan rumah tangga.

Biasanya dipakai oleh pengantin perempuan dalam acara midodareni dan juga oleh orang tua pengantin. Salah satu contohnya saat prosesi pernikahan putri Presiden Joko Widodo, Kahiyang Ayu dengan Bobby Nasution, pada 2017 lalu.

Presiden Joko Widodo dan keluarganya dalam acara pernikahan putrinya, Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution pada 2017 lalu | Google Image/cnnindonesia.com
info gambar

Saat itu Jokowi dan istri mengenakan motif batik Truntum, berbeda dengan anak dan menantunya. Gibran, Selvi dan Kaesang menggunakan motif batik Parang. Motif batik Parang melambangkan jalinan dan hubungan yang tak pernah putus, senantiasa memperbaiki diri, serta teguh memperjuangkan kesejahteraan. Di masa lalu, batik motif ini kerap menjadi hadiah dari seorang bangsawan untuk anak-anaknya.

Batik Truntum yang dipakai oleh Jokowi dan istrinya menjadi representasi, “bahwa orang tua berperan penting dalam memberi pengetahuan dan menuntun anak-anaknya ke gerbang rumah tangga yang sakinah, mawadah, warohmah,” dikutip dari infobatik.id.

Dalam berbagai keadaan, filosofi itu kerap dinarasikan pula dengan pandangan spiritual manusia Jawa terhadap Tuhannya, seperti cara Kanjeng Ratu Kencana mengekspresikan perasaannya, yang seolah-olah langsung mendapatkan petunjuk dari Yang Maha Kuasa.

Lebih jauh, kata Hokky, nilai filosofis tersebut berkembang dalam pandangan dan sikap hidup orang Jawa dalam menjaga kerukunan hidup bermasyarakat. Sikap hidup orang Jawa, yang mementingkan harmoni dan menghindari pertikaian dalam suatu hubungan, tercermin dalam motif batik Truntum yang mengedepankan rasa cinta dan kasih sayang kepada sesama.

Selain itu, konsep-konsep romantika yang tertuang dalam motif batik Truntum—mulai dari kesetiaan, kesabaran, ketulusan, harmoni, hingga pertumbuhan yang terus berlangsung dan subur—sedikit banyak juga menggambarkan sikap orang-orang Jawa dalam memandang romantika cinta dan kehidupan yang selaras berdasarkan kesetiaan. Hal itu terlukis dari kesetiaan Kanjeng Ratu Kencana yang senantiasa menunggu kedatangan sang suami, meski dirinya kerap diabaikan.

Sumber: Kode-Kode Nusantara | Infobatik.id | CNNIndonesia.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini