Mapeed, Tradisi Iring-Iringan Unik Dari Bali

Mapeed, Tradisi Iring-Iringan Unik Dari Bali
info gambar utama

Sudah menjadi rahasia umum bahwa, negara tercinta Indonesia ini memiliki banyak tradisi unik dari beragam suku dan budaya yang ada di Indonesia. Bali sebagai tempat yang terkenal dengan wisatanya pun memiliki berbagai tradisi dan budaya unik. Berbagai tradisi dan budaya tersebut menjadi daya tarik Bali, selain keindahan alam yang dimiliknya.

Tradisi Mapeed | Foto: infowisata.tabanankab.go.id
info gambar

Mungkin jika Kawan GNFI pernah berkunjung ke Bali atau malah tinggal di Bali pernah meilhat banyak perempuan dengan pakaian adat khas Bali berbaris dan membawa sesajen di atas kepalanya. Jika pernah, yang Kawan GNFI saksikan tersebut adalah salah satu tradisi khas dari masyarakat Bali yang bernama mapeed.

Tradisi ini sendiri dilakukan oleh masyarakat Bali sebagai perwujudan syukur kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa. Umumnya tradisi Mapped ini diselenggrakan atau dilaksanakan setelah sepuluh hari pasca Hari Raya Kuningan. Istilah "mapeed" sendiri jika dalam bahasa Indonesia memiliki arti kurang lebih adalah berjalan beriringan. Hal ini sesuai dengan praktik dari tradisi ini yaitu berbaris dan berjalan secara beriringan.

Peserta atau masyarakat yang ikut dalam tradisi mapeed ini sendiri biasanya adalah perempuan khususnya ibu rumah tangga. Salah satu ciri khas dari tadisi ini yang mudah dikenali selain membentuk barisan yang panjang adalah pakaian yang digunakan juga memiliki warna yang seragam. Pakain tersebut adalah pakaian adat perempuan khas masyarakat Bali.

Tradisi Mapeed | Foto: indonesiainside.id
info gambar

Setiap perempuan yang ikut dalam tradisi Mapeed tersebut biasanya rambut mereka disanggul dan mengenakan selendang yang diikat di pinggang, yang juga memiliki warna seragam. Para perempuan yang ikut tradisi Mapeed tersebut biasanya ditemani oleh anak-anak, dan suami, atau sanak keluarga yang ikut mengiringi.

Para pengiring tersebut biasanya juga menggunkan pakaian adat lengkap khas masyarakat Bali. Tradisi ini biasanya dilakukan di Pura Adem Alas Kedaton, Kabupaten Tabanan.

Sumber: detik.com | kintamani.id | pegipegi.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini