Sinoman, Tradisi Gotong Royong Khas Masyarakat Jawa

Sinoman, Tradisi Gotong Royong Khas Masyarakat Jawa
info gambar utama

Ketika mengadakan pesta pernikahan, Kawan GNFI pernah membayangkan nggak sebelum adanya katering bagaimana orang melakukanya?. Kegiatan pernikahan memang menjadi salah satu perhelatan yang cukup memakan biaya dan memerlukan banyak orang dalam prosesnya. Sebelum adanya sistem katering, pada masyarakat jawa dikenal adanya tradisi yang disebut sebagai sinoman. Apa Kawan GNFI pernah mendengar istilah ini?

Ilustrasi salah satu kegiatan sinoman | Foto: wukirsari.bantulkab.go.id
info gambar

Sinoman ini dapat dikatakan sebagai perwujudan dari gotong royong yang nyata di masyarakat. Walaupun identik dengan pernikahan sinoman sendiri juga dapat dijumpai pada event-event lain dalam tradisi masyarakat Jawa. Salah satunya adalah ketika ada sanak keluarga yang meninggal, maka para tetangga atau orang sekitar akan langsung bebndong-bondong ke ke rumah duka untuk membantu segala persiapan untuk pemakaman.

Dalam konteks agama Islam yang mengenal adanya tradisi tahlilan, biasanya sinoman tersebut akan terus berlanjut sampai hari ke tujuh pasca kematian. Dan untuk pernikahan sendiri sinoman ini biasanya akan berlangsung selama pesta tersebut berlangsung.

Sinoman ini dapat terdiri dari ibu-ibu yang biasanya kan membantu di dapur dan para pemuda desa yang kan membantu hal lain seperti pendirian tenda atau menata kursi dan meja untuk para tamu dan tugas lain yang tidak dilakukan oleh ibu-ibu. Ketika ada tamu-tamu pernikahan berdatangan maka para sinoman khususnya anak muda ini akan bertindak layaknya pramusaji.

Hal tersebut berlanjut setelah tamu-tamu selesai menyantap hidangan yang diberikan, setelah para sinoman juga akan mebantu membereskan atau membawa piring-piring yang telah selesai digunakan ke dapur untuk dibersihkan. Sebagai anak muda, para sinoman ini biasanya juga mengenakan seragam tertentu atas inisiatif dari diri mereka sendiri.

Sinoman yang bertindak sebagai pramusaji | Foto: bangunharjo.bantulkab.go.id
info gambar

Tujuanya adalah agar lebih mudah untuk dikenali dan juga menjadi ciri khas dari sinoman. Para sinoman atau kelompok karang taruna ini biasanya memiliki satu orang yang ditunjuk sebagai ketua yang biasanya bertugas sebagai penerima undangan dari pemilik hajat. Dan kemudian ketua ini akan memberi tahu kepada para anggota karang taruna lainya.

Umumnya tradisi ini masih bisa dijumpai khususnya di desa-desa di Jawa, sebab ketika di kota seseorang dapat melakukan penyewaan EO atau WO, dan untuk makananya juga dapat dipesan secara katering.

Sumber: etnis.id | budayajawa.id

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini