Tinkeban, Upacara Selametan Untuk Perempuan Yang Mengandung

Tinkeban, Upacara Selametan Untuk Perempuan Yang Mengandung
info gambar utama

Dalam tradisi masyarakat Jawa dikenal berbagai jenis syukuran atau selametan. Tradisi syukuran atau slametan ini biasa dilakukan atau digelar dalam waktu tertentu. salah satu tradsi tersebut adalah tingkeban atau dalam masyarakat Jawa juga dikenal dengan istilah "mitoni". Istilah "mitoni" sendiri ini berasal dari kata pitu yang dalam bahasa Indonesia berarti tujuh.

Salah satu prosesi dari Tingkeban | Foto: lulukkertopati.wordpress.com
info gambar

Sesuai dengan istilah tersebut tradisi ini sangat erat kaitanya dengan angka tujuh. Biasanya tradisi tingkeban ini digelar dalam rangka syukuran atau selametan atas kandungan seorang perempuan yang telah mencapai tujuh bulan. Tingkeban ini biasanya hanya dilakukan ketika kehamilan pertama atau hanya pada anak pertama.

Upacara atau tradisi tingkeban sendiri bagi masyarakat Jawa memiliki makna bahwa sebuah pendidikan bukan hanya setelah dewasa saja atau pasca anak telah lahir ke dunia. Namun, pendidikan tersebut juga dilakukan semenjak anak berada dalam kandungan sang ibu. Salah satu prosesi dalam upacara tingkeban adalah sang calon ibu akan dimandikan dengan air bunga setaman dan disertai doa.

Tujuan dari doa tersebut adalah untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar sang ibu dan juga keluarga selalu diberikan rahmat serta berkah. sehingga ketika si jabang bayi lahir dalam kondisi yang selamat dan sehat. Setelah melewati prosesi siraman biasanya akan dilanjutkan dengan prosesi atau acara brojolan.

Potret cengkir | Foto: denta-cssmorauinjakarta.blogspot.com
info gambar

Dalam prosesi ini sang suami yang juga calon ayah akan meluncurkan dua cengkir dari balik kain yang dipakai sang ibu. Setelah prosesi brojolan, selanjutnya adalah prosesi pembagian takir pontang. Takir pontang sendiri adalah sebuah tempat makan yang terbuat dari daun pisang, yang dilipat dengan sedemikian rupa hingga menyerupai perahu.

Kemudian setelah itu masuk ke prosesi terakhir yaitu jualan dawet dan rujak. Makna filosofis dari rangkain acara tersebut adalah usaha sebagai calon orang tua untuk dapat memenuhi kebutuhan anaknya kelak. Dan merupakan sebuah harapan agar sang anak memiliki banyak rezeki bagi dirinya sendiri dan juga keluarga.

Sumber: wikipedia.org | idntimes.com | fimela.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini