Tinkeban, Upacara Selametan Untuk Perempuan Yang Mengandung

Tinkeban, Upacara Selametan Untuk Perempuan Yang Mengandung

Prosesi siraman © moonlightshines.wordpress.com

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Dalam tradisi masyarakat Jawa dikenal berbagai jenis syukuran atau selametan. Tradisi syukuran atau slametan ini biasa dilakukan atau digelar dalam waktu tertentu. salah satu tradsi tersebut adalah tingkeban atau dalam masyarakat Jawa juga dikenal dengan istilah "mitoni". Istilah "mitoni" sendiri ini berasal dari kata pitu yang dalam bahasa Indonesia berarti tujuh.

Salah satu prosesi dari Tingkeban | Foto: lulukkertopati.wordpress.com

Sesuai dengan istilah tersebut tradisi ini sangat erat kaitanya dengan angka tujuh. Biasanya tradisi tingkeban ini digelar dalam rangka syukuran atau selametan atas kandungan seorang perempuan yang telah mencapai tujuh bulan. Tingkeban ini biasanya hanya dilakukan ketika kehamilan pertama atau hanya pada anak pertama.

Upacara atau tradisi tingkeban sendiri bagi masyarakat Jawa memiliki makna bahwa sebuah pendidikan bukan hanya setelah dewasa saja atau pasca anak telah lahir ke dunia. Namun, pendidikan tersebut juga dilakukan semenjak anak berada dalam kandungan sang ibu. Salah satu prosesi dalam upacara tingkeban adalah sang calon ibu akan dimandikan dengan air bunga setaman dan disertai doa.

Tujuan dari doa tersebut adalah untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar sang ibu dan juga keluarga selalu diberikan rahmat serta berkah. sehingga ketika si jabang bayi lahir dalam kondisi yang selamat dan sehat. Setelah melewati prosesi siraman biasanya akan dilanjutkan dengan prosesi atau acara brojolan.

Potret cengkir | Foto: denta-cssmorauinjakarta.blogspot.com

Dalam prosesi ini sang suami yang juga calon ayah akan meluncurkan dua cengkir dari balik kain yang dipakai sang ibu. Setelah prosesi brojolan, selanjutnya adalah prosesi pembagian takir pontang. Takir pontang sendiri adalah sebuah tempat makan yang terbuat dari daun pisang, yang dilipat dengan sedemikian rupa hingga menyerupai perahu.

Kemudian setelah itu masuk ke prosesi terakhir yaitu jualan dawet dan rujak. Makna filosofis dari rangkain acara tersebut adalah usaha sebagai calon orang tua untuk dapat memenuhi kebutuhan anaknya kelak. Dan merupakan sebuah harapan agar sang anak memiliki banyak rezeki bagi dirinya sendiri dan juga keluarga.

Sumber: wikipedia.org | idntimes.com | fimela.com

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Mapeed, Tradisi Iring-Iringan Unik Dari Bali Sebelummnya

Mapeed, Tradisi Iring-Iringan Unik Dari Bali

Indonesia Ternyata Punya 26 Milyar Lobster Bertelur yang Siap Jadi Cuan Selanjutnya

Indonesia Ternyata Punya 26 Milyar Lobster Bertelur yang Siap Jadi Cuan

Ahmad Taufiq
@taufiq_am

Ahmad Taufiq

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.