Menelisik Kembali Interaksi Masa Lalu Pelaut-pelaut Makassar dengan Suku Aborigin Australia

Menelisik Kembali Interaksi Masa Lalu Pelaut-pelaut Makassar dengan Suku Aborigin Australia

Ilustrasi © Unsplash.com

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠. Rekomendasi lain dari WHO

Jauh sebelum James Cook ‘menemukan’ benua (yang tak pernah hilang) Australia, suku asli yang menghuni benua itu sejak 60.000 tahun lamanya, yang kita kenal sebagai suku Aborigin, telah lama menjalin interaksi dengan bangsa-bangsa lain.

Tanggal pasti kapan mereka kontak dengan orang luar telah lama menjadi subyek perdebatan di berbagai kalangan sejarawan. Namun sejarah lisan Aborigin yang diceritakan secara turun temurun mengatakan interaksi perdagangan dengan bangsa lain di luar benua Australia telah dimulai ratusan tahun sebelum Kapten Cook tiba.

Bukti sejarah juga menunjukkan bahwa VOC dari Belanda (yang lama memonopoli perdagangan di Indonesia) singgah di pantai utara Australia pada tahun 1606, tetapi Belanda melihat adanya sesuatu yang bernilai di Australia, sehingga tidak ada perdagangan yang terjadi dengan orang-orang Aborigiun waktu itu.

Kapal yang dipakai oleh para pelaut Makassar di lepas panta Raffles bay dekat Semenanjung Coburg, dilukis oleh L. Bretton pada 1839 ( Campbell Macknight)

Pelaut-pelaut dari Sulawesi di Indonesia, yang dikenal di Australia sebagai Makassans (orang Makassar), telah mencapai Australia utara paling tidak pada awal abad ke-18. Para pelaut Sulawesi ini justru menilai bahwa ujung Australia bagian utara sangat melimpah di teripang - atau teripang - yang dapat dipanen dan dijual di tengah perdagangan teripang yang berkembang pesat di Tiongkok waktu itu.

Makassar, titik merah besar, : Rote, Timor, and Aru, titik merah kecil.
Tiga titik kuning : Kimberley satu titik kuning: Arnhem Land

Yang pasti, kemudian orang-orang Yolngu dari Arnhem Land melakukan perjalanan ke Makassar dan sekitarnya – dan juga ke negara-negara lain seperti Singapura dan Filipina - naik kapal Patorani milik pelaut-pelaut dari Sulawesi. Untuk memperdagangkan teripangnya, ditukar dengan barang-barang dari Sulawesi.

Dalam prosesnya, di Sulawesi, orang Yolgnu sempat tinggal dan hidup di antara orang-orang lokal, menjalin hubungan, belajar bahasa, dan bahkan memiliki keluarga.

Penemuan teripang memulai hubungan khusus antara kedua budaya yang masih ada sampai sekarang.

Kontak pertama

Perdagangan dan kontak dengan antara orang-orangnya Yolgnu dengan pelaut-pelaut Makassar terjadi selama ratusan tahun, jauh sebelum Inggris tiba, kata Gathapura Mununggurr, seorang ranger senior dari Dhimurru Aboriginal Corporation di Yirrkala, Arnhem Land.

" Sejarah tentang hal itu, dan perdagangan ke orang-orang Yolngu dan sejarah kehidupan selama waktu itu masih ada," kata Mununggurr. "Dan semuanya dimulai jauh sebelum orang kulit putih datang, dan tetap berlanjut setelah itu orang kulit putih berdatangan"

Para pelaut makassar di Pelabuhan Essington di Semenanjung Coburg di tahun 1845, dilukis oleh H.S Melville

Pelaut-pelaut Makassar datang ke pulau-pulau dan pantai Northern Territory untuk mencari teripang, cangkang kura-kura, dan cangkang mutiara, yang mereka kemudian mereka jual kepada pedagang-pedagang Tiongkok masa itu.

Tembakau, alkohol, belacu, kain, beras, dan pisau adalah beberapa barang yang diperkenalkan kepada penduduk Arnhem Land waktu itu melalui kemitraan dagang.

Selama waktu itu, bahasa antara budaya berkembang untuk memasukkan ratusan kata bersama, seperti rupiah (uang) dan balanda (orang kulit putih).

Ahli bahasa dari National Accreditation Authority for Translator and Interpreters (NAATI) Australia, Michael Cooke juga meyakini bahwa kontak pertama antara kedua budaya ini dilakukan jauh sebelum kedatangan orang-orang Eropa, pandangan yang sejalan dengan cerita-cerita rakyat Yolngu.

"Sudah pasti sebelum kedatangan orang Eropa, tetapi tidak diketahui persisnya kapan. Saya rasa, 300 tahun (sebelum kedatangan orang Eropa) adalah dugaan yang bagus," kata Cooke, seperti dilansir oleh ABC.net.au.

Tapi, tak semua sejarawan setuju.

Profesor Campbell Macknight, seorang peneliti di Asian and Pacific Studies, The Australian National University, Canberra, menghabiskan 50 tahun hidupnya meneliyi periode dalam sejarah perdagangan teripang waktu sedang booming di Tiongkok di masa lalu, untuk membantu menentukan kapan para pelaut Makassar pertama kali tiba di Australia.

Teripang Holothuria arguinensis (CC BY-SA 3.0)

"Jika kita melihat ekspor teripang dari Makassar ke Cina sekitar tahun 1780, mereka tiba-tiba booming," katanya. "Ada kenaikan signifikan dalam jumlah teripang yang masuk dan hampir pasti berasal dari Arnhem Land. Ini penjelasan mengapa jumlahnya naik secara drastic , mengingat Tiongkok bisa membeli berapapun banyak teripang di pasaran waktu itu”

"Ada berbagai macam argumen tentang tanggal karbon radio dan sebagainya, tetapi kenyataannya adalah, mereka (para pelaut Sulawesi) mulai berdatangan ke Arnhem Land sekitar tahun 1780."

Itu berarti, 10 tahun setelah Kapten Cook berlayar tetapi tidak berhenti di Northern Territory. Para pelaut Makassar sendiri tiba di Kimberley, sebuah kawasan paling utara benua Australia pada 1750.

Penanggalan karbon (carbon dating) yang mengacu pada tinggalnya manusia di sebuah gua di Groote Eylandt, sebuah pulau di Australia Utara, menurut para antropolog berasal dari 500 hingga 600 tahun yang lalu.

Tapi tidak diketahui berapa usia lukisan prau Makassan, atau perahu, yang dilukis di dinding gua. Profesor Macknight mengatakan tidak ada bukti yang membuktikan lukisan itu bisa setua itu. Hal ini karena perahu yang digambar di dinding gua pun adalah perahu jenis baru, yang bukan dari 500 hingga 600 tahun lalu.

Sementara itu, seorang konsultan sejarah Mike Owen dari Past Masters history group setuju bahwa booming perdagangan teripang terjadi pada abad ke-18, namun dia sendiri meyakini bahwa orang-orang Makassar telah sampai di Australia pada pertengahan tahun 1600an. "Saya pikir ada bukti kontak yang baik antara Yolngu, dan banyak kelompok yang berbeda (dari luar), untuk waktu yang sangat lama; mereka [orang Yolngu] bercerita tentang pemburu paus dan benda-benda dari logam." Katanya.

Foto orang Aborigin di Makassar tahun 1873 ditemukan

Ada beberapa generasi kisah Yolngu yang mengatakan bahwa orang Yolngu bepergian ke Sulawesi, juga ke Manila, Dilli, dan Singapura. Profesor Macknight baru-baru ini menemukan foto-foto di sebuah museum orang Aborigin di Roma, diambil pada tahun 1873.

Mungkin satu-satunya foto orang Aborigin di Makassar. Dari tahun 1873

Menariknya, setahun kemudian, ekspedisi tahun 1874 yang mencari emas di Arnhem Land menemukan seorang lelaki Aborigin yang berbicara bahasa Inggris. Dia memberi tahu kelompok itu bahwa dia mempelajari bahasa itu dalam perjalanan ke Singapura.

"Masa itu, begitu Anda tiba di Makassar, maka ada kapal-kapal menuju ke mana-mana, Anda bisa naik ke kapal dan pergi ke Singapura atau Dili, atau ke mana saja, karena Anda bisa mendaftar sebagai awak kapal," kata Profesor Macknight.

"Dan tentu saja, banyak orang Aborigin bisa berbicara banyak kata-kata Bahasa Makassar."

Ada catatan tentang orang Aborigin di Makassar pada awal 1823, dengan seorang jenderal gubernur Belanda yang berkunjung membuat catatan: "Sangat hitam, tinggi badan, dengan rambut keriting, tidak keriting seperti orang-orang Papua, kaki panjang, bibir tebal , dan, secara umum, badannya tegap. "

Ikatan keluarga

Lebih dari 30 tahun yang lalu, Dr. Cooke melakukan kunjungan lapangan bersama para siswa dan staf dari Batchelor College, NT, Australia ke Makassar untuk menyelidiki hubungan keluarga dan bahasa antara orang-orang Yolngu dan orang-orang Makassar.

Mereka menemukan hubungan keluarga antara orang-orang dalam kelompok itu dan Dr. Cooke juga bertemu dengan seorang wanita Makassar yang sudah tua, dan memberitahukan bahwa ayahnya , seorang kapten teripang bernama Hussein Dang Rangkar, juga menjadi ayah dari seorang anak lelaki dan perempuan di Arnhem Land.

Sang wanita tua, bernama Ibu Saribanung Daeng Nganne, telah mengingat nama-nama saudara tirinya dan saudara perempuannya yang tinggal di Pulau Elcho, di Australia Utara.

"Satu di kelompok kami adalah cicit dari ayah wanita tua ini [kapten laut]," kata Dr. Cooke.

Lukisan seorang kapten kapal dari Makassar yang terkenal "Pobasso" yang dilukis oleh William Westal tahun 1803


Djalinda Yunupingu, seorang penasihat budaya senior dari Dhimurru Aboriginal Corporation
, sedang dalam perjalanan itu, dan mengatakan diketahui bahwa kapten laut telah bertemu dengan seorang wanita Yolgnu di Arnhem Land dan kemudian beranak pinak.


"Saya bertemu wanita tua itu [di Makassar], dan ketika kami kembali, beberapa hari kemudian dia meninggal," katanya.

"Dia hanya ingin melihat sekelompok orang Yolngu."

Selama perjalanan Dr Cooke ke Sulawesi pada tahun 1986, mereka menemukan 50 kata baru dari kosakata bersama antara Bahasa Makassar dan Bahasa Yolngu yang sudah memiliki 300 kata.

(Berlanjut)

==

Diterjemahkan dari ABC.net.au dengan judul asli "Did Aboriginal and Asian people trade before European settlement in Darwin?"

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Hindari menyentuh wajah
  6. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Tingkatkan Kualitas Akademik, UNDAR Gelar Pelatihan LKPS Sebelummnya

Tingkatkan Kualitas Akademik, UNDAR Gelar Pelatihan LKPS

Pentingnya Narasi Bijak Para Pejabat Publik Selanjutnya

Pentingnya Narasi Bijak Para Pejabat Publik

Akhyari Hananto

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.